POJOKSATU.id - Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil meraih Juara 1 dalam ajang KAI Ideation Challenge, kompetisi business case yang diselenggarakan PT Kereta Api Indonesia (Persero) bekerja sama dengan Marketeers.
Tim yang menamakan diri Ganeshasengumi tersebut terdiri dari Roihan M. Iqbal dari Teknik Material, Muhamad Tauhid dari Teknik Mesin, serta Ilham Hakim dari Magister Studi Pembangunan.
Mereka mengusulkan inovasi teknologi carbon capture atau penangkap karbon dalam sistem perkeretaapian sebagai upaya mendukung transformasi transportasi rendah emisi di Indonesia.
Kompetisi tersebut digelar di KAI Jakarta Railway Centre (JRC) dan menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan strategis terkait pengembangan sektor perkeretaapian nasional.
Mengusung Konsep Penangkapan Karbon
Tim mahasiswa ITB ini memulai proses ideasi dengan memahami konteks besar yang dihadapi industri perkeretaapian di Indonesia.
Mereka menelaah posisi PT Kereta Api Indonesia sebagai BUMN, arah kebijakan transportasi nasional, hingga agenda global seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Analisis tersebut dilakukan menggunakan kerangka PESTEL untuk memetakan berbagai faktor yang memengaruhi industri, mulai dari aspek politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, hingga regulasi.
Dari proses tersebut lahirlah gagasan untuk menerapkan teknologi carbon capture dalam sistem kereta api. Teknologi ini sebelumnya telah banyak digunakan di sektor energi dan industri berat untuk mengurangi emisi karbon.
Bagi tim Ganeshasengumi, pendekatan ini tidak hanya menjadi simbol komitmen lingkungan, tetapi juga dapat menjadi intervensi teknis yang memperkuat peran kereta api sebagai moda transportasi rendah emisi.
“Kunci kompetisi ini bukan siapa yang idenya paling ‘wah’, tetapi siapa yang idenya paling tepat sasaran dan berani dibawa sampai tuntas,” ujar Roihan M. Iqbal.
Menggabungkan Perspektif Teknik dan Kebijakan
Selama proses persiapan, tim melakukan berbagai diskusi lintas disiplin secara intensif.
Mereka juga melakukan riset mandiri terkait tren emisi sektor transportasi, strategi dekarbonisasi global, serta praktik carbon capture di sektor industri lain.
Menjelang babak final yang digelar pada Selasa, 23 Desember 2025 di KAI Jakarta Railway Centre, fokus tim beralih pada penyusunan narasi presentasi agar ide yang cukup teknis dapat dipahami dengan jelas oleh dewan juri.
“Tantangan terbesarnya adalah menjaga keseimbangan antara keberanian ide dan keterterimaan konteks,” kata Roihan.
Menurutnya, gagasan carbon capture dalam sistem kereta api berpotensi dianggap terlalu ambisius jika tidak disertai argumen yang kuat.
Karena itu, tim memperkuat gagasan dengan data kebijakan, urgensi pengurangan emisi, serta arah transisi energi global.
Menariknya, seluruh proses ideasi hingga presentasi dilakukan secara mandiri oleh tim tanpa pendampingan khusus.
Baca Juga: Bermasalah Jelang Lebaran 2026, BPOM Tarik 56.027 Produk Pangan, Banyak Tanpa Izin Edar
Kolaborasi lintas disiplin antara bidang teknik, kebijakan, dan pembangunan menjadi kekuatan utama dalam merumuskan solusi yang komprehensif.
Kemenangan ini menjadi bukti bahwa gagasan inovatif yang dibangun di atas riset kuat dan pemahaman konteks dapat memberikan kontribusi nyata bagi masa depan transportasi Indonesia.
Bagi Roihan, kompetisi seperti ini bukan sekadar soal kemenangan.
Ia menilai ajang tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengerjakan persoalan nyata yang berdampak pada pembangunan nasional.
“Jangan mulai dari ide yang ingin terlihat keren, tetapi dari masalah yang memang layak diperjuangkan. Kompetisi ideation bukan soal siapa yang paling kreatif di atas kertas, tetapi siapa yang paling memahami konteks dan berani menguji idenya dengan realitas,” katanya. ***




