POJOKSATU.id - Universitas Adzkia hadir dengan visi besar menjadi universitas unggul yang menghasilkan lulusan berkarakter, berprestasi, dan mampu bersaing secara global.
Visi ini bukan sekadar slogan, melainkan pijakan kuat dalam setiap langkah pengembangan institusi, baik di bidang pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Dalam misinya, Universitas Adzkia menegaskan komitmen menyelenggarakan pendidikan berkualitas untuk memajukan IPTEK dengan tetap memperhatikan nilai-nilai humaniora.
Tak hanya itu, penelitian inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga menjadi fokus utama.
Baca Juga: Saksi Ahli Akui Pernah Bertemu dan Makan Malam dengan Tergugat Hary Tanoe
Pengabdian kepada masyarakat yang tepat guna, tata kelola bersih dan baik (Clean and Good Governance), hingga penerapan nilai karakter mulia dan rahmatan lil ‘alamin dalam Tridharma Perguruan Tinggi menjadi fondasi yang terus diperkuat.
Di bawah naungan Yayasan Adzkia Sumatera Barat (YASB) yang didirikan oleh Prof. DR. H. Irwan Prayitno, M.Sc. Psi., dan kawan-kawan, perjalanan kampus ini terbilang panjang.
Universitas Adzkia awalnya bernama Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak Islam (PGTKI) yang berdiri pada tahun 1994.
Sejak awal berdiri, institusi ini telah mengalami berbagai perubahan nama, status, hingga penguatan kelembagaan dalam empat periode besar.
Baca Juga: Oknum Pensiunan Polri Diduga Danai Aktivitas Tambang Emas Ilegal di Taman Nasional Batang Gadis
Periode pertama adalah PGTKI (1994–2002) yang membuka jurusan Diploma Satu (D1) Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak Islam.
Kepemimpinan saat itu dipegang oleh Prof. DR. H. Irwan Prayitno, M.Sc. Psi., lalu dilanjutkan oleh Drs. Faisal.
Memasuki periode Akademi Kependidikan Islam Adzkia (AKIA) pada 2003–2005, kampus ini memperoleh izin operasional dengan dua jurusan Diploma Dua (D2), yakni Pendidikan Guru Raudatul Athfal (PGRA) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di bawah pembinaan Kementerian Agama.
Bahkan, AKIA sempat membuka cabang di Bukittinggi. Kepemimpinan saat itu dipegang oleh Drs. Faisal dan Muchlasin S.Si.
Pada periode STIT Adzkia (2006–2008), institusi ini sempat membuka program S1 Pendidikan Bahasa Arab.
Seiring penambahan prodi, AKIA bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Adzkia di bawah Departemen Agama RI.
Namun, karena minimnya peminat, program tersebut tidak berlanjut. Kepemimpinan STIT saat itu dipimpin Almarhum Dr. H. Sfawan Nawawi, MA.
Sejak 1994 hingga 2004, AKIA/STIT telah meluluskan sekitar 1.707 alumni. Mereka mengabdikan diri di berbagai lembaga pendidikan, mulai dari PAUD, TK, hingga SD.
Tak sedikit pula yang diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di berbagai kabupaten/kota di Sumatera Barat maupun luar provinsi.
Perubahan regulasi melalui Peraturan Pemerintah RI No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan membawa dampak besar.
Tenaga pendidik diwajibkan memiliki kualifikasi minimal Sarjana (S1) atau Diploma Empat (D-IV).
Sejak itu, STIT Adzkia tak lagi menerima mahasiswa D2 dan hanya menyelesaikan mahasiswa yang tersisa hingga 2008.
Tonggak baru lahir pada 13 Oktober 2009 saat Yayasan Adzkia Sumatera Barat mendapat amanah mengelola Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Adzkia melalui SK Mendiknas No. 111/D/O/2009.
Baca Juga: Tanjungbalai-Malaysia 3 Jam, Bandar Sabu Ko Erwin Pilih Kabur Malam Hari Pakai Kapal Tradisional
Dua program studi dibuka, yakni S1 Pendidikan Guru Anak Usia Dini (PG PAUD) dan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
Pengembangan terus dilakukan. Tahun 2017, STKIP Adzkia menambah prodi Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Fisika.
Fokus pengembangannya meliputi pendidikan berorientasi keunggulan dan nilai-nilai Islam, riset unggulan, pengabdian berbasis inovasi, pembinaan kemahasiswaan, penguatan sumber daya, hingga tata kelola institusi yang sehat dan akuntabel.
Puncaknya terjadi pada 30 September 2021 ketika STKIP Adzkia resmi bertransformasi menjadi Universitas Adzkia melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nomor 410/e/0/2021.
SK tersebut diserahkan Kepala LLDIKTI Wilayah X, Prof Herry, kepada Ketua STKIP Adzkia, Alfadhlani.
Sebagai universitas, enam prodi baru langsung dibuka, yakni Sistem Informasi, Informatika, Teknik Industri, Agribisnis, Manajemen Ritel, dan Kewirausahaan.
Menyambut tahun akademik 2023/2024, jumlah program studi melonjak menjadi 16 prodi jenjang Strata 1 (S-1), ditambah program pascasarjana S-2 Pendidikan Dasar serta Profesi Pendidikan Guru (PPG).
Perjalanan panjang ini menunjukkan bahwa transformasi bukan sekadar perubahan nama, melainkan komitmen untuk terus tumbuh dan menjawab kebutuhan zaman.
Baca Juga: Heboh! Atap Baja Ringan Dapur Program MBG Terbang Diterpa Angin, Tutupi Jalan di Serang
Dari kampus pendidikan guru hingga menjadi kampus dengan beragam disiplin ilmu, Universitas Adzkia membuktikan bahwa konsistensi, nilai, dan visi besar mampu membawa institusi melangkah lebih jauh. ***
Dan di balik setiap perubahan itu, ada harapan besar untuk melahirkan generasi berkarakter yang tak hanya cerdas, tapi juga memberi manfaat bagi semesta.***




