POJOKSATU.id – Kegiatan sekolah selama bulan Ramadan 2026 diarahkan pada konsep Ramadan Bermakna.
Pendekatan ini menempatkan Ramadan sebagai ruang pembelajaran nilai, penguatan karakter, dan refleksi diri, tanpa meninggalkan proses akademik.
Meski terdapat periode Belajar Dari Rumah (BDR) di awal puasa, sekolah tetap memiliki panduan yang jelas dan terstruktur, baik untuk pembelajaran daring maupun tatap muka setelahnya.
Secara umum, kebijakan Ramadan di sekolah menekankan keseimbangan antara stamina siswa, kekhusyukan ibadah, dan keberlanjutan belajar.
Penyesuaian Jam dan Pola Belajar
Selama Ramadan, sekolah melakukan adaptasi waktu dan aktivitas belajar agar lebih ramah bagi kondisi fisik siswa. Penyesuaian ini umumnya mencakup:
Baca Juga: Revisi UU ASN Hapus PPPK Paruh Waktu, Tapi Ada Peluang Naik Jadi Penuh Waktu
Pengurangan durasi setiap jam pelajaran sekitar 5–10 menit.
Pemajuan waktu pulang sekolah agar siswa memiliki cukup waktu persiapan berbuka.
Peniadaan kegiatan fisik berat, dengan mata pelajaran Olahraga dialihkan ke materi teori atau aktivitas ringan di kelas.
Penyesuaian ini bertujuan menjaga fokus belajar tanpa menguras energi siswa yang sedang berpuasa.
Penguatan Karakter melalui Pesantren Kilat
Ramadan juga dimaknai sebagai momen pembinaan karakter. Sekolah diarahkan menyelenggarakan kegiatan keagamaan yang lebih intensif dan bermakna, seperti:
Tadarus bersama 15–30 menit sebelum pelajaran dimulai.
Baca Juga: Program PANAH KESATRIA Pertamina Tingkatkan Mitigasi Bencana di SMPN 1 Balongan Indramayu
Kajian tematik tentang etika digital, kejujuran, nilai anti-korupsi, dan moderasi beragama.
Praktik ibadah, meliputi pelatihan salat wajib dan sunnah, pengumpulan zakat fitrah, serta pengelolaan infak.
Rangkaian ini diharapkan membentuk kebiasaan baik yang berlanjut setelah Ramadan.
Ramadan sebagai Momentum Projek Profil Pelajar Pancasila
Bulan Ramadan kerap dimanfaatkan sebagai waktu ideal pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), terutama dengan tema Bangunlah Jiwa dan Raganya atau Beraksi untuk Sesama. Bentuk kegiatannya antara lain:
Bakti sosial berupa pembagian sembako atau paket takjil kepada masyarakat sekitar sekolah.
Program Duta Literasi Ramadan, di mana siswa menulis jurnal puasa atau membuat konten kreatif bertema kebaikan.
Melalui kegiatan ini, siswa diajak mempraktikkan nilai empati dan kepedulian sosial secara nyata.
Baca Juga: Jelang Ramadhan, Pendaftaran Mudik dan Balik Bareng Honda Dibuka untuk Ribuan Pemudik
Pembelajaran Ringan saat BDR Awal Ramadan
Pada awal Ramadan 2026, sekitar 18–20 Februari, sejumlah sekolah menerapkan BDR untuk memberi ruang adaptasi bagi siswa.
Dalam fase ini, Kemendikdasmen menganjurkan model pembelajaran yang ringan, bermakna, dan tidak membebani.
Dua pendekatan utama yang disarankan adalah Synchronous Light dan Tugas Mandiri Kreatif.
Keduanya dirancang untuk menjaga keterhubungan guru dan siswa, sekaligus memberi ruang refleksi dan praktik nilai Ramadan di rumah.
Contoh Konsep Synchronous Light
Synchronous Light merupakan pertemuan daring singkat yang berfungsi sebagai penguat relasi emosional dan motivasi belajar.
Durasi idealnya 15–20 menit agar tidak menguras energi siswa di hari-hari awal puasa. Bentuk kegiatannya dapat berupa:
Baca Juga: PPPK Penuh Waktu VS Paruh Waktu, Mana Lebih Menguntungkan?
Sesi check-in emosi, dengan pertanyaan sederhana seperti satu kata yang menggambarkan perasaan siswa di hari pertama puasa.
Kisah inspiratif singkat tentang tokoh yang tetap produktif dan beretika selama berpuasa.
Kuis ringan tebak ayat atau hadits menggunakan fitur poll atau gim edukatif singkat.
Penutup berupa doa, niat puasa, atau niat belajar bersama untuk menanamkan kesadaran spiritual.
Pertemuan singkat ini bertujuan menjaga koneksi sosial tanpa menekan beban akademik.
Contoh Tugas Mandiri Kreatif
Berbeda dengan tugas akademik konvensional, tugas mandiri kreatif dirancang untuk membangun karakter dan kebiasaan baik.
Fokusnya bukan pada banyaknya soal, melainkan makna dari aktivitas yang dilakukan siswa di rumah. Contoh bentuk tugas yang bisa diterapkan antara lain:
Kegiatan ibadah, seperti menyimak ceramah singkat dan melaporkannya dalam bentuk mind map atau catatan visual sederhana.
Baca Juga: Rapat DPR Memanas! Dahnil Anzar Sindir BPKH 'Enggak Ada Added Value, Kok Jadi Calo?'
Membantu orang tua, misalnya menyiapkan sahur atau merapikan kamar, dilaporkan melalui foto sebelum dan sesudah kegiatan.
Kreativitas Ramadan, berupa poster digital jadwal imsakiyah atau pesan motivasi puasa.
Literasi religi, dengan membaca satu halaman Al-Qur’an atau terjemahan lalu melaporkannya melalui rekaman suara.
Aksi sosial kecil, seperti menabung infak di rumah dan mendokumentasikannya dalam video pendek.
Agar laporan tidak menumpuk dan mudah dipantau, guru dianjurkan menggunakan platform seperti Padlet sebagai mading digital bersama, sehingga siswa dapat saling melihat dan memberi apresiasi positif.
Landasan Teknis Pelaksanaan
Pendekatan Synchronous Light dan Tugas Mandiri Kreatif merupakan model pembelajaran yang direkomendasikan Kemendikdasmen dalam kurikulum terbaru.
Baca Juga: Nasi MBG Diduga Bolong di Lombok Timur, Orang Tua Siswa Keluhkan Porsi dan Lauk Santan Disebut Basi
Secara teknis, penerapannya mengikuti kebijakan pemerintah daerah dan Kalender Pendidikan 2025/2026 yang ditetapkan masing-masing dinas pendidikan.
Kekhasan Ramadan 2026
Ramadan 2026 memiliki karakter khusus karena jatuh di awal tahun, bertepatan dengan Semester Genap dan masa persiapan Ujian Satuan Pendidikan bagi kelas akhir.
Kondisi ini membuat banyak sekolah mengintegrasikan kegiatan Ramadan dengan tugas literasi, refleksi, dan portofolio sebagai bagian dari penilaian. ***




