POJOKSATU.ID - Perubahan status desil bantuan sosial (bansos) kerap menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.
Tidak sedikit warga yang sebelumnya terdaftar sebagai penerima bansos, tiba-tiba dinyatakan tidak lagi memenuhi syarat karena desilnya naik.
Sebaliknya, ada pula warga yang sebelumnya tidak terdaftar, kemudian masuk dalam kategori penerima karena desilnya turun.
Desil bansos merupakan pengelompokan tingkat kesejahteraan masyarakat yang digunakan pemerintah sebagai dasar penyaluran bantuan.
Baca Juga: Turun Desil Lewat Aplikasi Cek Bansos Disebut Berhasil 100 Persen, Warga Ramai-ramai Coba Cara Ini
Sistem ini mengacu pada Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), yang membagi masyarakat ke dalam sepuluh kelompok desil berdasarkan kondisi sosial ekonomi.
Lantas, mengapa desil bansos bisa naik dan turun?
Salah satu penyebab utama adalah pemutakhiran data yang dilakukan secara berkala.
Pemerintah secara rutin memperbarui data sosial ekonomi masyarakat melalui pendataan di tingkat desa dan kelurahan.
Baca Juga: Harga Beras 2026 Tak Sama di Tiap Daerah, Ini Fakta Selisih Harga Meski HPP Dipatok Rp12500 per Kg
Jika terjadi perubahan kondisi ekonomi, maka status desil pun dapat ikut berubah.
Faktor berikutnya adalah perubahan penghasilan atau pekerjaan.
Warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap, namun kemudian memperoleh penghasilan lebih baik, berpotensi mengalami kenaikan desil.
Sebaliknya, kehilangan pekerjaan atau menurunnya pendapatan dapat menyebabkan desil turun.
Kondisi tempat tinggal dan kepemilikan aset juga menjadi indikator penting.
Renovasi rumah, kepemilikan kendaraan, atau aset lain yang tercatat dalam pendataan dapat memengaruhi penilaian kesejahteraan.
Data ini biasanya diverifikasi langsung oleh petugas lapangan.
Selain itu, jumlah tanggungan keluarga turut menentukan.
Perubahan jumlah anggota keluarga, seperti kelahiran, kematian, atau perpindahan domisili, dapat berdampak pada perhitungan desil.
Data kependudukan yang tidak diperbarui sering kali menjadi penyebab ketidaksesuaian status.
Penggunaan aplikasi Cek Bansos juga berperan dalam perubahan desil.
Melalui fitur usul dan sanggah, masyarakat dapat mengajukan pembaruan data apabila merasa kondisi ekonominya tidak sesuai dengan yang tercatat.
Pengajuan ini kemudian diverifikasi oleh pendamping sosial dan pemerintah setempat.
Namun, pemerintah menegaskan bahwa perubahan desil tidak dilakukan secara sembarangan.
Setiap pembaruan data harus melalui proses verifikasi faktual untuk memastikan kebenaran informasi yang disampaikan warga.
Lalu, apa yang harus dilakukan masyarakat jika desil bansos naik atau turun?
Pertama, masyarakat diminta tidak panik. Kenaikan desil tidak selalu berarti kesalahan sistem, melainkan bisa mencerminkan perubahan kondisi ekonomi yang tercatat dalam data terbaru.
Kedua, cek data secara berkala melalui aplikasi Cek Bansos atau pemerintah desa.
Pastikan seluruh informasi kependudukan, pekerjaan, dan kondisi rumah telah sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Ketiga, jika merasa data tidak akurat, masyarakat dapat mengajukan sanggahan atau pembaruan data secara resmi.
Proses ini harus dilakukan dengan jujur dan disertai bukti yang valid.
Keempat, masyarakat diimbau untuk tidak memanipulasi data demi mendapatkan bantuan.
Pemerintah menegaskan bahwa penyalahgunaan data dapat berujung pada sanksi administratif dan pencoretan dari daftar penerima bansos.
Pemerintah berharap, dengan pemutakhiran data yang berkelanjutan, bantuan sosial dapat disalurkan secara lebih adil dan tepat sasaran.
Baca Juga: Pembongkaran Teras Cihampelas Tinggal Tunggu Izin, Pemkot Bandung Siapkan Wisata Kuliner Baru
Perubahan desil bukanlah bentuk penghapusan hak, melainkan upaya memastikan bansos diterima oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.***




