POJOKSATU.id – Sejak kecil, Cherlyne sudah memantapkan hati untuk menjadi seorang guru.

Mimpi itu kini terwujud di SMPN 10 Balikpapan, tempat ia mengabdi dengan penuh dedikasi.

Cherlyne mengaku, menjadi guru bukan hanya soal menyampaikan materi di kelas.

Baginya, profesi guru adalah perjalanan belajar tanpa henti yang menuntut ketulusan dan komitmen.

Baca Juga: Siswa SMA British School Jakarta Raih Emas di IPITEx 2026 lewat Inovasi AI untuk Atlet Taekwondo

“Sejak kecil saya selalu memiliki mimpi menjadi guru,” ujar Cherlyne dalam kisah perjalanannya diunggah akun Youtube PPG Kemendikdasmen, Senin 12 Januari 2026.

Ia menyebut sekolah tempatnya mengajar sebagai ruang yang ia cintai sepenuh hati.

“Hari ini di tempat yang saya cintai, SMP Negeri 10 Balikpapan, saya menjalani mimpi itu dengan penuh syukur,” katanya.

Cherlyne menyadari, tantangan pendidikan terus berubah seiring perkembangan zaman.

Baca Juga: PEP Bandung Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru 2026, Fokus Pendidikan Vokasi Energi dan Pertambangan

Ia kemudian mengikuti Program Pendidikan Profesi Guru atau PPG Calon Guru.

Program tersebut menjadi titik penting dalam proses profesionalnya sebagai pendidik.

“Menjadi guru bukan hanya soal mengajar, tetapi juga terus belajar,” ucap Cherlyne.

Melalui PPG, ia merasa dibekali kemampuan untuk berkembang dan beradaptasi.

Cherlyne menuturkan bahwa PPG mengajarkannya untuk selalu memberikan yang terbaik bagi peserta didik.

Ia belajar memahami karakter siswa dan kebutuhan belajar yang semakin beragam.

Dalam praktiknya, Cherlyne berusaha menghadirkan pembelajaran yang relevan dan bermakna.

Ia tidak terpaku pada metode konvensional yang membuat siswa pasif.

“Setiap hari saya berusaha menghadirkan pengalaman belajar yang relevan, aktif, dan penuh makna,” ujarnya.

Baca Juga: Admin GTK Ingatkan Guru Sertifikasi, Validasi Data Jadi Kunci TPG 2026

Pembelajaran bahasa Inggris ia lakukan baik di dalam maupun luar kelas. Ia juga memanfaatkan teknologi sebagai sarana pendukung pembelajaran.

Semua pendekatan itu bertujuan mempersiapkan siswa menghadapi masa depan.

“Belajar itu harus menyenangkan,” kata Cherlyne dengan penuh keyakinan.

Ia percaya suasana kelas yang positif akan berdampak pada semangat belajar siswa.

Ketika melihat siswanya tersenyum, Cherlyne merasa mendapatkan energi baru.

Baca Juga: Skema Baru TPG 2026, Begini Alur Pencairan Bulanan Tunjangan Profesi Guru

“Ketika mereka tersenyum, saya merasa energi itu kembali menguatkan langkah saya sebagai pendidik,” ucapnya.

Bagi Cherlyne, peran guru tidak berhenti pada penyampaian materi pelajaran.

Guru juga harus hadir sebagai pendamping dan motivator bagi peserta didik.

“Guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menemani, memotivasi, dan mendukung siswa,” ujarnya.

Ia mendorong siswa untuk menggali minat dan bakat sejak dini.

Cherlyne menilai kolaborasi antar guru sangat penting dalam dunia pendidikan. Ia merasakan manfaat besar dari kerja sama dengan rekan sejawat di sekolah.

Kolaborasi tersebut membuat para guru terus berkembang secara profesional.

Budaya kerja yang positif turut mendukung proses pembelajaran di sekolah.

Di SMPN 10 Balikpapan, budaya 5S diterapkan dalam keseharian sekolah.

Budaya tersebut menjadikan lingkungan sekolah terasa hangat dan inklusif.

Baca Juga: Perpres Prabowo Atur Pegawai SPPG Jadi PPPK, Benarkah Sopir hingga Pencuci Ompreng Ikut Diangkat?

“Budaya 5S membuat sekolah menjadi ruang yang hangat untuk semua,” kata Cherlyne.

Ia merasa lingkungan yang nyaman sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang siswa.

Cherlyne dengan bangga menyebut dirinya sebagai lulusan PPG. Ia menegaskan komitmennya untuk terus belajar sepanjang hayat.

“Saya adalah lulusan PPG. Saya adalah pembelajar sepanjang hayat,” ucapnya.

Komitmen itu ia pegang dalam setiap langkah pengabdiannya sebagai guru.

Cherlyne berjanji akan terus mendidik dengan sepenuh hati. Ia ingin memastikan setiap mimpi siswa mendapat ruang untuk tumbuh.

“Dan saya akan terus mendidik dengan hati agar setiap mimpi siswa bisa tumbuh,” katanya.

Baginya, SMP Negeri 10 Balikpapan bukan sekadar tempat kerja.

“SMP Negeri 10 Balikpapan adalah rumah saya dan mengajar adalah jalan hidup saya,” ujar Cherlyne.

Rekan guru pun memberikan penilaian positif terhadap sosok Cherlyne.

Salah satu rekan menyebut Cherlyne memiliki semangat kolaborasi yang kuat.

“Yang saya kagumi dari beliau adalah semangat kolaborasinya,” ungkap seorang guru.

Menurutnya, Cherlyne selalu terbuka menghadapi tantangan dan program baru.

“Setiap ada tantangan atau program baru, beliau selalu terbuka untuk belajar bersama,” katanya.

Hal tersebut membuat tim guru di sekolah semakin solid. “Itulah yang membuat tim guru di sini jadi kompak dan terus berkembang,” ujarnya.

Rekan guru lain menilai Cherlyne membawa energi positif setiap hari. “Bekerja bersama beliau itu menyenangkan,” katanya.

Ia juga menilai Cherlyne sangat peduli terhadap murid-muridnya.

“Beliau bukan hanya kreatif dalam mengajar, tapi juga sangat peduli dengan murid-muridnya,” ucapnya.

Kepedulian itu terlihat dalam berbagai kegiatan sekolah.

“Kalau ada kegiatan di sekolah, beliau selalu jadi orang yang paling siap membantu,” ujarnya.

Kesan positif juga datang dari para siswa. Mereka merasa nyaman dan antusias mengikuti pembelajaran bersama Cherlyne.

“Kami senang dengan kehadiran Bu Sherlin,” ujar salah satu siswa.

Siswa lain menyebut pembelajaran yang diberikan selalu terasa menyenangkan.

“Saya sangat senang diajarin sama Miss Sherl karena setiap pembelajarannya itu seru,” katanya.

Ia juga menyebut adanya aktivitas penyegar setelah pembelajaran.

“Terus selesai pembelajarannya kita sering diajak healing biar enggak bosen,” ujarnya.

Bagi siswa, pendekatan tersebut membuat sekolah terasa lebih hidup.

Kisah Cherlyne menjadi gambaran nyata dampak PPG bagi dunia pendidikan.

Program tersebut tidak hanya meningkatkan kompetensi, tetapi juga menumbuhkan semangat belajar.

Melalui dedikasi dan ketulusan, Cherlyne terus menapaki jalannya sebagai pendidik.

Ia membuktikan bahwa mengajar dengan hati mampu menyalakan mimpi banyak generasi.***