POJOKSATU.id – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi meluncurkan Program Riset Prioritas Tahun Anggaran 2026.
Program ini menjadi inisiatif strategis untuk memperkuat ekosistem riset nasional yang kompetitif, kolaboratif, dan berdampak langsung bagi kemajuan masyarakat.
Melalui program ini, pemerintah menegaskan komitmennya dalam mewujudkan kemandirian ilmu pengetahuan dan inovasi yang benar-benar berbasis kebutuhan bangsa.
Baca Juga: Indonesia Menang Bidding, Kini Miliki Kampung Haji di Mekkah Arab Saudi, Pertama Kalinya Ubah Aturan
Riset tidak lagi diposisikan sekadar sebagai kewajiban akademik, tetapi sebagai fondasi pembangunan nasional jangka panjang.
Kegiatan peluncuran Program Riset Prioritas 2026 dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Wakil Menteri Fauzan, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan M. Fauzan Adziman, jajaran pejabat Kemdiktisaintek, pimpinan perguruan tinggi, Kepala LLDIKTI Wilayah I–XVII, serta dosen dan peneliti dari seluruh Indonesia.
Baca Juga: Sering Dianggap Sepele, Ini Kesalahan Fatal yang Banyak Dilakukan ASN Saat Cetak SKP E-Kinerja 2025
Dalam arahannya, Menteri Brian Yuliarto menekankan pentingnya sinergi antara akademisi, pemerintah, dan dunia industri agar riset berjalan efektif dan memberi dampak nyata.
“Pemerintah berkomitmen menciptakan ekosistem riset yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Kolaborasi menjadi kunci agar hasil penelitian tidak berhenti di meja laboratorium, tetapi benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan perekonomian nasional,” kata Prof. Brian Yuliarto.
Baca Juga: Hasil SKP E-Kinerja 2025 Harus Dikirim ke MyASN, Ini Fungsi Tombol Kirim ke SASN
Senada dengan itu, Dirjen Riset dan Pengembangan Fauzan menegaskan bahwa riset harus menjadi budaya akademik yang berkelanjutan.
“Riset adalah kontribusi kita untuk kemanusiaan dan kemajuan bangsa. Setiap penelitian harus melahirkan inovasi yang relevan dan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata,” ujarnya.
Tiga Pilar Utama Program Riset Prioritas 2026
Sebagai tindak lanjut komitmen tersebut, Program Riset Prioritas 2026 difokuskan pada tiga pilar utama, yakni:
Baca Juga: Bukan Satu, Ini Tiga Dokumen SKP E-Kinerja 2025 yang Wajib Dicetak ASN
Bina Talenta, untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia peneliti
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, guna meningkatkan kualitas dan relevansi riset
Hilirisasi Riset, agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan secara luas oleh industri dan masyarakat
Ketiga pilar ini dirancang membentuk ekosistem riset terpadu, dari hulu hingga hilir.
Baca Juga: Kuliah Dibilang Scam Influencer, Sekolah Rakyat Digeber Negara untuk Cegah Putus Sekolah
Pendanaan dan Fokus Sektor Strategis
Sebagai dukungan konkret, pemerintah menyiapkan alokasi pendanaan lebih dari Rp3 triliun yang bersumber dari APBN.
Dana ini diarahkan untuk mendukung riset strategis di delapan sektor industri nasional, meliputi keamanan, kesehatan, energi, maritim, pertahanan, manufaktur, keadilan sosial, serta digitalisasi industri.
Pendekatan yang digunakan menggabungkan problem-based dan academic-based research, sehingga setiap penelitian diharapkan mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, pemerintah daerah, dan sektor industri.
Baca Juga: KKS Bukan Jaminan Cair! Banyak Gagal Saat Cek Rekening, Ini Penyebabnya
Peluang bagi Dosen dan Peneliti Kampus
Program Riset Prioritas 2026 menjadi rujukan utama seluruh skema hibah penelitian dan inovasi Kemdiktisaintek sepanjang tahun.
Program ini terbuka bagi dosen perguruan tinggi negeri maupun swasta yang terdaftar di PDDIKTI, peneliti dengan NIDN atau NIDK, serta tim riset lintas disiplin dan lintas kampus.
Kemdiktisaintek juga mendorong keterlibatan mahasiswa pascasarjana dalam kegiatan riset sebagai bagian dari upaya membangun budaya riset sejak dini dan menjaga keberlanjutan generasi peneliti unggul.
Baca Juga: Petinggi Golkar Idrus Marham Dukung Pilkada via DPRD, Anggap Itu Falsafah dan Ideologi Negara
Arah Baru Riset Nasional
Dalam sesi yang sama, tiga direktur di lingkungan Ditjen Riset dan Pengembangan memaparkan arah kebijakan masing-masing.
Ketut Adnyana selaku Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat menyoroti peningkatan kualitas riset terapan, Yos Sunitiyoso sebagai Direktur Hilirisasi dan Kemitraan menekankan kolaborasi dengan industri, sementara Heri Kuswanto selaku Direktur Bina Talenta menegaskan pentingnya penguatan kapasitas peneliti nasional.
Secara keseluruhan, peluncuran Program Riset Prioritas 2026 menandai arah baru pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.
Baca Juga: Bingung Skrining BPJS 2026? Tenang, yang Gaptek Tetap Bisa Ikut
Riset diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi berbasis pengetahuan sekaligus sumber inspirasi inovasi bangsa.
“Kami ingin menjadikan riset sebagai motor penggerak ekonomi berbasis pengetahuan sekaligus sumber inspirasi bagi inovasi bangsa,” pungkas Menteri Brian. ***




