POJOKSATU.id - Menjelang Tahun Baru, seharusnya guru dapat bernafas lega setelah melewati satu semester penuh kerja keras. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
TPG Triwulan 3 dan Triwulan 4 yang belum cair membuat akhir tahun terasa lebih berat dari biasanya.
Di saat banyak keluarga merencanakan liburan atau menyusun rencana awal tahun, guru justru dihantui kecemasan karena hak mereka masih menggantung.
Baca Juga: Banjir Rob Kepung Cilincing hingga Tanjung Priok, Rumah dan Sekolah Tak Luput Terendam
Bahkan sebagian guru mengaku tidak berani membuat rencana apa pun karena kondisi keuangan tidak pasti.
Situasi ini menjadikan beban psikologis semakin menumpuk di tengah rutinitas mengajar yang belum selesai.
Guru hanya berharap ada kejelasan, meski kecil sekalipun.
Tekanan Batin Meningkat karena Dua Triwulan Mandek Bersamaan
Keterlambatan dua triwulan yang terjadi bersamaan bukan sekadar masalah administratif.
Baca Juga: Banjir Rob Kepung Cilincing hingga Tanjung Priok, Rumah dan Sekolah Tak Luput Terendam
Banyak guru menyebut bahwa mereka kini hidup dalam perasaan antara cemas dan pasrah.
Setiap notifikasi ponsel membuat detak jantung meningkat, siapa tahu mutasi rekening sudah masuk. Namun nyatanya, akun bank masih tetap kosong.
Informasi yang beredar di grup WhatsApp hanya menambah harapan yang sering berujung kekecewaan.
Ketika kebutuhan akhir tahun semakin menumpuk, ketidakpastian ini terasa menyakitkan.
Guru pun mulai mempertanyakan, sampai kapan mereka harus menghadapi pola yang sama setiap tahun.
Rekening Sunyi, Sementara Beban Finansial Terus Bertambah
Desember biasanya menjadi bulan paling berat secara finansial bagi keluarga guru.
Kebutuhan anak meningkat, tagihan bulanan menumpuk, dan harga barang-barang pun naik jelang pergantian tahun.
Namun mutasi rekening tetap kosong, membuat guru harus menata ulang keuangan secara paksa.
Baca Juga: Banjir Rob Kepung Cilincing hingga Tanjung Priok, Rumah dan Sekolah Tak Luput Terendam
Tidak sedikit guru yang akhirnya memutuskan meminjam dana sementara hanya untuk bertahan.
Beban finansial ini berubah menjadi tekanan emosional karena guru merasa tidak mampu mengendalikan keadaan.
Di balik senyum di kelas, banyak guru membawa beban yang jauh lebih berat di rumah.
Rasa Tidak Berdaya Karena Sistem yang Terlalu Rumit
Banyak guru mengaku sudah melakukan semua hal yang diminta valid Info GTK, jam mengajar terpenuhi, dan SKTP sudah terbit.
Namun tetap saja pencairan tidak terjadi.
Guru akhirnya merasa menjadi bagian dari sistem yang rumit dan tidak transparan.
Setiap proses terhubung seperti rantai panjang, mulai dari operator sekolah, dinas kabupaten, dinas provinsi, pusat, hingga KPPN.
Baca Juga: GEGER! Truk Aqua Nyaris Terguling di Ciater, KDM Turun Sidak, Sopir 65 Tahun Ungkap Fakta Kelam!
Jika satu bagian tersendat, semua pembayaran ikut tertahan.
Ketika keluhan guru tidak dapat mempercepat proses, rasa tidak berdaya pun semakin dalam.
Kondisi Emosional Guru Ikut Menurun di Tengah Padatnya Beban Mengajar
Akhir semester adalah periode paling sibuk, penilaian, pengisian raport, persiapan ujian, hingga administrasi kelas.
Di tengah pekerjaan yang menumpuk, guru masih harus menahan cemas karena tunjangan belum cair.
Banyak guru mengaku sulit fokus karena pikiran terbagi antara mengajar dan kebutuhan rumah.
Beban emosional ini sering tidak terlihat oleh orang luar, tetapi dampaknya sangat nyata.
Beberapa guru bahkan mulai menunjukkan tanda kelelahan mental karena tekanan yang berkepanjangan.
Baca Juga: Wakapolri Turun ke Lokasi Bencana Alam di Sumbar, Cek Peninjauan Posko DVI untuk Pendataan Korban
Situasi ini membuat performa mengajar ikut terpengaruh tanpa disadari.
Di Saat Guru Bertahan, Informasi Resmi Justru Minim dan Terlambat
Yang memperparah keadaan adalah minimnya informasi dari pusat maupun daerah.
Baca Juga: Serang Gandeng Dua Daerah Demi PSEL Cilowong, Target Selesai Awal Desember
Guru tidak mengetahui apakah keterlambatan terjadi karena validasi, rekapan daerah, atau antrian KPPN.
Tanpa informasi yang jelas, yang tersisa hanyalah dugaan dan kecemasan yang terus tumbuh.
Guru akhirnya mencari kabar dari daerah lain yang sudah cair, berharap gilirannya segera tiba.
Namun ketika kabar itu belum muncul, perasaan tertekan semakin dalam.
Ketidakpastian ini memperbesar luka psikologis yang dirasakan menjelang Tahun Baru.
Guru Hanya Ingin Kepastian, Bukan Harapan yang Tidak Pasti
Guru tidak meminta banyak, hanya kepastian bahwa hak mereka akan cair tepat waktu.
Namun ketika dua triwulan menumpuk dan proses berjalan lambat tanpa kejelasan, rasa lelah itu sangat terasa.
Guru tetap menjalankan tugas mengajar dengan penuh tanggung jawab, meski batin mereka tidak tenang.
Di saat guru mempersiapkan masa depan generasi bangsa, sudah selayaknya sistem tunjangan hadir memberi ketenangan, bukan kecemasan tahunan.
Semoga awal tahun membawa jawaban nyata bagi harapan yang kini masih menggantung.***




