POJOKSATU.id - Situasi bencana banjir dan longsor di Sumatera kembali memunculkan cerita yang membuat publik geleng-geleng kepala.

Di tengah kondisi darurat ketika banyak warga sedang berjuang menyelamatkan diri, justru muncul sebuah video viral yang memancing kemarahan netizen.

Dalam video tersebut terlihat sebuah mobil yang hendak melintas, namun lajunya terhenti karena jalan ternyata “diblokade” oleh beberapa orang yang diduga oknum.

Baca Juga: Serang Gandeng Dua Daerah Demi PSEL Cilowong, Target Selesai Awal Desember

Mereka menutup akses dengan kayu danlebih parah lagi mengharuskan pengendara membayar Rp30 ribu jika ingin lewat.

Narasi yang menyertai video itu menyebutkan bahwa mobil tersebut sedang mengarah menuju wilayah Sihorbo Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Meski lokasi tepatnya belum dapat dipastikan, video itu telanjur beredar luas di berbagai platform media sosial dan langsung menyulut kemarahan warganet.

Baca Juga: Panen Jagung Hibrida di Anggadita, BUMDes dan Polisi Kompak Dukung Pangan 2025

Banyak yang geram bukan hanya karena nominal pungutan liar itu, tetapi karena tindakan tersebut dilakukan.

Di tengah situasi bencana besar yang harusnya menjadi momen saling membantu, bukan saling memanfaatkan.

“Ini sudah krisis moral,” tulis salah satu pengguna media sosial yang tak bisa menyembunyikan emosinya.

Baca Juga: Tunjangan Profesi Guru Tertunda Dua Triwulan? Guru Mulai Pertanyakan Keadilan Sistem Pembayaran TPG

Komentar senada ikut bermunculan, menyoroti betapa memprihatinkan ketika ada pihak yang diduga memanfaatkan jalan yang terputus akibat bencana demi keuntungan pribadi.

“Orang lagi susah, malah dipersulit. Harusnya bantu, bukan jadi beban,” ujar netizen lainnya.

Reaksi keras ini bukan tanpa alasan. Ketika banjir dan longsor melanda, akses masyarakat sudah sangat terbatas.

Banyak yang harus mengungsi, mencari jalan alternatif, atau mencoba mencapai keluarga mereka di lokasi berbeda.

Baca Juga: Serang Gandeng Dua Daerah Demi PSEL Cilowong, Target Selesai Awal Desember

Dalam situasi seperti ini, tindakan menghalangi jalan dan meminta bayaran bukan hanya tidak etis, tetapi juga bisa memperlambat upaya penyelamatan atau distribusi bantuan.

Meski begitu, hingga saat ini belum ada keterangan resmi yang memastikan siapa para pelaku dalam video tersebut dan apa sebenarnya yang terjadi di lokasi kejadian.

Tidak menutup kemungkinan bahwa konteksnya berbeda dari apa yang terlihat di permukaan.

Baca Juga: Panen Jagung Hibrida di Anggadita, BUMDes dan Polisi Kompak Dukung Pangan 2025

Karena itu, sejumlah pihak mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak langsung menelan mentah-mentah setiap informasi yang beredar di media sosial.

Netizen pun mengingatkan satu sama lain agar tetap waspada terhadap kemungkinan hoaks yang sengaja dibuat atau dibentuk oleh framing video yang tidak lengkap.

Situasi bencana adalah kondisi yang sangat sensitif kesalahan informasi sedikit saja bisa memperkeruh keadaan dan menimbulkan kepanikan baru.

Baca Juga: TNI AD Kirim Puluhan Starlink ke Sumatra, Tapi Pulsanya Bingung Siapa yang Mau Bayar, Lah Kok Gitu?

Meski marah, publik diajak tetap mengedepankan logika dan menunggu klarifikasi dari otoritas setempat.

Namun satu hal yang jelas video ini telah membuka kembali perbincangan tentang empati dan krisis moral di tengah bencana.

Banyak warganet berharap agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi, dan jika benar ada oknum yang memanfaatkan situasi, pihak berwenang diharapkan segera turun tangan.

Karena di tengah bencana, yang dibutuhkan adalah solidaritas, bukan eksploitasi.***