POJOKSATU.ID - Banjir besar dan longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) pada akhir November 2025.

Memaksa pemerintah pusat dan daerah serta sejumlah lembaga untuk segera menyalurkan bantuan darurat.

Salah satu bentuk bantuannya makanan siap saji dan paket konsumsi instan disiapkan untuk membantu korban yang kehilangan akses ke dapur dan logistik pokok.

Di Sumatera Utara melalui Badan Gizi Nasional (BGN) bersama tim layanan darurat.

Baca Juga: Hingga Hari Keenam, 50 Km Jalan Tarutung-Sibolga Tertutup Longsor, Banyak Pengendara Masih Terjebak

Telah disalurkan sebanyak 1.591 paket MBG (Makan Bergizi Gratis) kepada korban banjir dan longsor, khususnya di wilayah terdampak seperti Kecamatan Sipirok dan sekitarnya.

Di Sumatera Barat beberapa kabupaten seperti Solok dan Pasaman Barat melaporkan penyaluran paket makanan siap saji dari dapur darurat misalnya di Solok.

Ribuan porsi makanan dibagikan ke warga terdampak melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). 

Di Aceh bantuan logistik darurat termasuk makanan siap saji dikirim ke wilayah terdampak lewat jalur darat dan udara, sebagai bagian dari operasi tanggap bencana terpadu. 

Baca Juga: Tambahan TPG 100 Persen Diperkirakan Cair Desember 2025, Pola Ini Jadi Rujukan Guru

Selain itu, lembaga kemanusiaan dan BUMN pangan ikut mendukung distribus.

Memastikan bahwa bantuan pangan tak hanya berupa beras dan sembako, tetapi juga makanan siap santap untuk pengungsi dan korban yang tidak dapat memasak.

Dalam kondisi darurat di mana banyak korban kehilangan rumah, dapur, dan akses bahan pangan.

Sistem distribusi diubah sejumlah fasilitas pendidikan dan dapur MBG dialihfungsikan menjadi dapur darurat.

Polisi dan lembaga penanggulangan bencana juga menyiapkan puluhan dapur lapangan untuk menyuplai makanan cepat saji ke pengungsi.

Termasuk korban di daerah-daerah terpencil atau yang aksesnya terputus akibat longsor dan banjir. 

Bantuan makanan siap saji ini umumnya mencakup makanan instan, lauk matang atau makanan siap santap, air mineral, dan paket dasar lain seperti telur, mie instan, serta komponen kebutuhan dasar ibu-anak.

Walaupun banyak daerah sudah menerima bantuan, distribusi tidak selalu mulus.

Infrastruktur rusak parah jalan dan jembatan terputus membuat bantuan sulit mencapai desa terpencil. 

Baca Juga: Darurat Pangan Bantuan Logistik Pacu Penjarahan Minimarket oleh Korban Bencana, Bantuan Mandek dan Belum Merata!

Koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat menjadi krusial bantuan harus disalurkan melalui jalur darurat, kemudian dibagikan ke posko-posko pengungsian agar tepat sasaran. 

Selain itu, jumlah korban dan wilayah terdampak sangat luas.

Sehingga suplai makanan siap saji dan bantuan logistik harus terus ditambah agar kebutuhan dasar semua korban bisa terpenuhi, terutama bagi keluarga dengan anak, lansia, atau kondisi rentan.

Kehadiran paket makanan siap saji bagi korban banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar menunjukkan bahwa respons darurat sudah mulai jalan.

Baca Juga: Kapolri: Pers Harus Jadi Penjaga Ruang Informasi Jelang HPN 2026

Lewat dapur darurat, distribusi logistik, dan keterlibatan berbagai pihak.

Ini memberi harapan minimal bagi korban agar tidak kelaparan di masa tanggap darurat.

Tapi dibutuhkan kecepatan, kontinuitas, dan pemerataan tidak hanya bantuan tahap awal, tapi juga suplai lanjutan sampai akses darat pulih dan korban bisa kembali memasak sendiri.

Pemerintah dan lembaga bantuan perlu terus memantau daerah paling terpencil dan terdampak agar tidak ada yang terlewat.***