POJOKSATU.id - Perjalanan menjadi ASN di Kuantan Singingi (Kuansing) bukanlah jalan mudah.
Sejumlah honorer di daerah ini menempuh perjalanan panjang, bertahun-tahun bekerja dengan honor yang sangat minim.
Bahkan, menurut cerita beberapa honorer lama, ada yang pernah menerima upah hanya sekitar Rp120 ribu per bulan pada awal masa pengabdian mereka.
Baca Juga: Gary Iskak Meninggal Dunia Usai Kecelakaan, Keluarga dan Rekan Artis Berduka
Kisah ini mencuat kembali setelah pelantikan ribuan PPPK di Kuansing pada akhir 2025.
Momen yang dianggap sebagai jawaban dari kesabaran dan perjuangan para honorer yang telah lama bekerja dalam keterbatasan.
Walau angka Rp120 ribu tidak tercatat dalam dokumen resmi pemerintah, kesaksian para honorer lama mencerminkan realitas getir yang pernah terjadi di daerah tersebut.
Baca Juga: Lulus CAT CPNS 2026 Bukan Jaminan, Ini Daftar Instansi yang Wajibkan Psikotes Lanjutan
Yakni bekerja penuh waktu, namun dengan pendapatan yang jauh dari layak.
Gaji Honorer Kuansing Memang Pernah di Bawah Standar
Fakta resmi menunjukkan bahwa gaji honorer di Kuansing memang sangat rendah dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2020, pemerintah daerah mencatat bahwa sebagian tenaga honorer hanya menerima Rp700 ribu hingga Rp1,2 juta per bulan.
Baca Juga: SK Belum Final, Bupati Kuansing Ancam Batalkan PPPK Diduga Tak Sesuai Prosedur
Bahkan mendapatkan subsidi gaji karena kondisi ekonomi mereka tergolong berat.
Sementara pada 2022, gaji honorer diusulkan hanya sekitar Rp900 ribu per bulan, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Data ini memperkuat gambaran bahwa honorer di Kuansing memang dibayar dengan upah minimal, dan klaim honor Rp120 ribu.
Yang dialami beberapa honorer lama tidak mustahil terjadi pada masa-masa sebelumnya.
Harapan Baru, Pelantikan PPPK Digelar Tahun 2025
Perubahan besar mulai terasa pada November 2025 ketika pemerintah menggelar pelantikan besar-besaran bagi PPPK Kuansing.
Baca Juga: Lulus CAT CPNS 2026 Bukan Jaminan, Ini Daftar Instansi yang Wajibkan Psikotes Lanjutan
Ribuan honorer akhirnya menerima SK dan menatap harapan baru setelah bertahun-tahun bekerja di tengah ketidakpastian.
Pemerintah daerah menegaskan bahwa proses pelantikan dan penempatan akan dilakukan sesuai regulasi, dengan SPMT mulai diterbitkan pada awal 2026.
Dalam momentum tersebut, banyak kisah haru bermunculan.
Baca Juga: PBNU Kok Kaya Dua Nahkoda? Gus Yahya Copot Gus Ipul, Syuriyah Malah Copot Ketum, Ada Apa Sebenarnya?
Salah satu tenaga honorer yang sudah mengabdi belasan tahun membagikan pengalaman bahwa dirinya pernah menerima honor sangat kecil di awal masa kerja.
Namun tetap bertahan karena berharap suatu hari mendapat status ASN.
Kisah Honorer Bertahan, Mengabdi, dan Menunggu Kesempatan
Bagi banyak honorer, perjalanan menjadi ASN bukan sekadar soal status kepegawaian.
Ini tentang keyakinan dan kesabaran menghadapi kondisi ekonomi berat.
Baca Juga: Kemenkeu dan Kemenkumham Kembali Jadi Primadona di CPNS 2026, Formasi Diprediksi Membludak
Ada honorer yang bertahan meski menerima honor harian kecil, ada yang tetap mengajar di sekolah pedalaman meski gajinya tidak cukup untuk menutup ongkos transportasi.
Serta ada yang tetap mengabdi meski masa kontrak diperpanjang dari tahun ke tahun.
Kisah perjalanan ini membuat pelantikan PPPK 2025 terasa sangat emosional.
Banyak yang menangis, memeluk rekan sejawat, dan mengucapkan syukur setelah puluhan tahun menunggu.
Menuju Masa Depan Baru sebagai ASN
Kini, dengan status PPPK yang lebih jelas, banyak honorer Kuansing akhirnya menikmati kepastian penghasilan, kepastian status, dan jaminan karier.
Baca Juga: Ibunda Raisa Tutup Usia Usai Berjuang Melawan Kanker, Duka Mendalam Sang Penyanyi
Meski perjuangan mereka panjang dan penuh keterbatasan, pencapaian ini menjadi simbol bahwa ketekunan dan pengabdian akhirnya mendapatkan tempat di mata pemerintah.
Namun, kisah honor minim Rp120 ribu ini juga menjadi pengingat bahwa sistem honorer daerah harus dibenahi.
Agar tidak ada lagi tenaga pendidik atau tenaga teknis yang bekerja dengan upah sedemikian kecil.
Kuansing kini memasuki babak baru. Tetapi jejak perjuangan honorer tetap menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.***




