POJOKSATU.id – Penguatan profil dosen disebut sebagai pekerjaan rumah terbesar perguruan tinggi swasta (PTS) jika ingin berlari menuju visi Indonesia Emas 2045.
Peringatan itu disampaikan langsung Kepala Biro Organisasi dan SDM Kemendiktisaintek, Bhimo Widyo Andoko, dalam dialog kebijakan di Untag Surabaya, Jumat.
Menurut Bhimo, profiling dosen harus dilakukan secara komprehensif agar kualifikasi pendidikan, kepakaran, serta kontribusinya terekam jelas dan terukur.
“Profiling para dosen itu penting. Kualifikasi pendidikan, kepakaran, dan kontribusi dosen itu harus jelas. Idealnya, dosen itu berpendidikan S3 dan memiliki kepakaran yang diakui,” tegasnya.
Perguruan Tinggi sebagai Frontliner
Bhimo mengingatkan bahwa peran dosen tidak hanya berhenti pada kampus, tetapi juga berkontribusi pada negara lewat riset yang berdampak luas bagi masyarakat.
Baca Juga: Di Tengah Pembahasan APBD Rp 1 Triliun, Honorer Pasbar Pertanyakan Hak Gaji Mereka
“Kami dari kementerian tentu saja mempunyai kepentingan untuk mengingatkan bahwa nantinya perguruan tinggi menjadi frontliner yang dapat mengimplementasikan program kementerian ke masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai tiga pilar—riset, pembelajaran, dan pengabdian masyarakat—harus diperkuat secara seimbang.
Bhimo mencontohkan bahwa riset seperti penemuan stem cell bisa mendorong kemajuan layanan kesehatan, sementara inovasi audit unggulan di Untag dapat memberikan dampak langsung bagi tata kelola lembaga dan masyarakat.
Untag Siapkan Tata Kelola Menuju 2045
Rektor Untag Surabaya, Prof Mulyanto Nugroho, menegaskan kampusnya telah menyiapkan penguatan tata kelola dan SDM untuk menyambut visi 2045.
“Hari ini kita mengadakan dialog tentang bagaimana tata kelola dan SDM untuk Indonesia Emas 2045. Kita sebagai perguruan tinggi unggul di Jawa Timur sudah menyambut ini,” ujarnya.
Ia memastikan Untag memiliki banyak pakar dari berbagai bidang dengan total 28 profesor aktif.
Baca Juga: Setelah Diangkat PPPK Paruh Waktu, Satpol PP Langkat Justru Terima Gaji Lebih Rendah, Kok Bisa?
“Contoh misalnya kaitannya dengan bom atau bencana, pakarnya ada di Untag. Kita punya 28 profesor, dan masing-masing punya kepakarannya.”
Prof Mulyanto juga menyoroti pentingnya karakter bangsa melalui penerapan catur dharma Untag, yang memasukkan patriotisme sebagai poin utama.
“Patriotisme ini penting, karena seringkali kementerian mempertanyakan bagaimana karakter seseorang. Ini yang kita tanamkan pada mahasiswa dan dosen.”
Baca Juga: UPDATE Terbaru! Fakta Penting Terkait Status Pencairan TPG 100 Persen dalam THR Tahun 2025!
Yayasan Tekankan Peran Nyata Guru Besar
Ketua YPTA Surabaya, J. Subekti, mengingatkan bahwa guru besar tidak boleh hanya berhenti sebagai titel kosong."
Saya tidak ingin para profesor itu hanya GBHN, guru besar hanya nama. Karyanya harus tunjukkan. Kapan inovasi-inovasi spektakuler itu lahir,” ujarnya.
Ia menilai masih banyak riset yang harus didorong di kampus-kampus, sehingga dosen tak berhenti pada rutinitas mengajar.
“Kita bukan sekadar guru, tapi intelektual yang punya kemampuan riset,” tegasnya. ***




