POJOKSATU.id - Meski bangsa Portugis telah lama meninggalkan Indonesia, jejak sejarahnya masih melekat pada masyarakat dan budaya kita hingga hari ini.
Salah satu peninggalan yang mudah dikenali adalah pada bahasa.
Pernah menjadi bangsa yang menguasai Nusantara pada abad ke-15, Portugis memberikan pengaruh besar dalam perkembangan budaya di Indonesia, termasuk dalam pembentukan kosakata bahasa Indonesia.
Jika diperhatikan lebih dekat, terdapat banyak kosakata bahasa Indonesia yang ternyata berasal dari bahasa Portugis.
Hal ini menunjukkan bagaimana interaksi panjang antara kedua bangsa ini memberi dampak yang masih dapat kita rasakan sampai sekarang.
Kampung Portugis atau yang lebih dikenal dengan nama Kampung Tugu di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara masih memiliki sejumlah kegiatan budaya.
Salah satunya adalah acara Mandi-mandi, yakni sebuah perayaan besar warga Kampung Tugu yang digelar setiap tahun.
Festival Kampung Tugu menjadi persembahan terbesar warga untuk memperlihatkan jejak budaya yang menitis dari Portugis.
Baca Juga: Jejak Bahasa Portugis dalam Bahasa Indonesia : dari Kata Gudang hingga Jendela
Kampung Tugu memang merupakan salah satu bukti nyata keberadaan masyarakat keturunan Portugis yang masih bertahan di Indonesia.
Budaya, bangunan, hingga bahasa Kreol dengan unsur Portugis masih dapat ditemukan di wilayah ini.
Bahkan beberapa warga masih mampu menuturkan bahasa Portugis dalam percakapan sederhana.
Salah satunya adalah Arthur Michiels, keturunan ke-10 keluarga Michiels, yaitu keluarga keturunan Portugis yang menetap di Indonesia.
Baca Juga: Pemkot Kediri Berangkatkan Kontingen Pramuka Garuda ke Coban Talun
Ia menjelaskan bahwa ada banyak kosakata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Portugis.
“Seperti jendela, itu sebenarnya riil bahasa Portugis. Meja, kemeja, mentega, terigu, bendera, sepatu, itu semua bahasa Portugis. Sama penyebutannya juga, cuman tulisannya yang berbeda,” terang Arthur.
Selanjutnya, ada juga porta, porta itu pintu, jadi portal. Ronda jadi keliling, artinya keliling.
"Terus almario jadi almari atau lemari. Jadi banyak bahasa Portugis atau Kreol yang jadi bahasa Indonesia,” jelasnya lagi.
Tidak mengherankan bila pengaruh bahasa Portugis begitu kuat karena bangsa ini menjadi penjajah pertama di Nusantara sejak tahun 1509 hingga 1595.
Penjajahan yang berlangsung cukup lama membuat berbagai unsur kultur melebur, termasuk dalam aspek kebahasaan.
Baca Juga: Perbedaan Mekanisme Pembayaran TPG 100 Persen Bagi 3 Kategori Guru!
Bahasa Serapan Portugal
Dalam bahasa Indonesia, terdapat sejumlah kata serapan yang berasal dari bahasa Portugis, menandakan adanya jejak sejarah interaksi antara bangsa Portugis dan Nusantara pada masa lampau.
Beberapa di antaranya kini sudah sangat akrab di telinga dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari asal-usulnya.
Misalnya, kata algojo, almari, dan armada yang memiliki nuansa militer atau perlengkapan.
Dalam bidang kehidupan rumah tangga, kita mengenal kata bangku (dari banco), meja (dari mesa), lemari atau almari, lentera, dan beranda, yang semuanya berakar dari kosakata Portugis.
Kata bendera (dari bandeira) dan pesta (dari festa) menggambarkan unsur budaya dan perayaan yang turut diserap.
Dalam ranah seni dan hiburan, kata biola, bola, serta dansa (dari dança) juga menunjukkan pengaruh kuat bahasa Portugis.
Sementara itu, kata boneka (dari boneca), nina dalam lagu “nina bobo” (dari menina yang berarti anak perempuan), serta nona dan nyonya (dari dona dan donha) memperlihatkan pengaruh Portugis dalam istilah yang berkaitan dengan kehidupan sosial.
Beberapa kata lainnya muncul dalam konteks keagamaan dan sosial, seperti gereja (dari igreja), paderi (dari padre), dan permisi (dari permissão).
Ada pula kata serdadu (dari soldado), sinyo (dari senhor), serta tenda, gardu, dan ganco (dari gancho), yang memperkaya ragam bahasa Indonesia.
Dalam bidang kuliner, pengaruh Portugis juga cukup terasa.
Kata keju (dari queijo), mentega (dari manteiga), kaldu, terigu (dari trigo yang berarti gandum), dan sabun (dari sabão) menunjukkan warisan leksikal dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, terdapat pula kata dadu, dewán, dipan, renda, roda, celana, picu, noda, serta tinta, yang semuanya memperlihatkan jejak serapan Portugis dalam berbagai aspek kehidupan.
Kata-kata tersebut bukan hanya sekadar warisan linguistik, tetapi juga cermin dari sejarah panjang interaksi budaya antara bangsa Portugis dan masyarakat Nusantara.
Hingga kini, pengaruh itu tetap hidup dalam bahasa Indonesia modern, menjadi bagian alami dari kosakata kita tanpa lagi terasa asing di lidah.
Kehadirannya merupakan hasil asimilasi berbagai budaya dari bangsa-bangsa yang pernah datang ke Nusantara.
Portugis menjadi salah satu bagian bersejarah yang memperkaya bahasa dan budaya Indonesia hingga hari ini. ***




