POJOKSATU.id — Semangat Sumpah Pemuda dan kecintaan pada budaya batik diwujudkan secara unik oleh sejumlah mahasiswa di Surabaya.
Mereka menciptakan motif batik kontemporer dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dalam acara bertajuk Sumpah Pemuda: Refleksi Cinta Tanah Air Melalui Batik AI Future Code yang digelar di Perpustakaan Petra Christian University (PCU).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pameran bulanan bertema Memetik Pucuk Batik sepanjang Oktober 2025.
Baca Juga: Mari Simak Review Materi Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 4 BAB 1: Aku Sudah Besar
Kepala Perpustakaan PCU, Dian Wulandari, menjelaskan bahwa program ini merupakan upaya nyata PCU mempertemukan tradisi dan teknologi dalam satu ruang kreatif.
“Kami mendefinisikan kegiatan Batik AI Future Code sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Generasi muda menggunakan AI untuk menciptakan motif yang relevan, melambangkan bagaimana warisan budaya dapat tumbuh di era digital,” ujar Dian.
Baca Juga: Cair Awal Bulan! Gaji Pensiunan PNS Ditransfer 1 November, Benarkah Ada Tambahan Nominal?
Ia menegaskan bahwa perpustakaan harus menjadi living museum, bukan sekadar tempat menyimpan buku.
Dengan konsep GLAM (Gallery, Library, Archive, Museum), PCU menghadirkan perpustakaan sebagai ruang publik yang hidup, tempat masyarakat belajar dan berinteraksi dengan budaya melalui teknologi.
Sementara itu, dosen Desain Komunikasi Visual PCU sekaligus inisiator kegiatan, Aniendya Christianna, menyebut kolaborasi lintas disiplin ini penting untuk memperkuat identitas budaya.
Baca Juga: Budaya Lokal dan Semangat Anti-Bullying Tembus Puncak Ajang Duta Anak Jawa Barat 2025
“Batik bukan hanya kain, tapi identitas bangsa. Melalui AI, mahasiswa dapat bereksperimen menciptakan motif baru yang menggambarkan semangat Sumpah Pemuda tanpa meninggalkan akar budaya kita,” jelasnya.
Dalam sesi praktik, mahasiswa ditantang merancang motif batik digital dengan bantuan prompt AI. Inspirasi utamanya adalah nilai-nilai nasionalisme, mulai dari Pancasila, Bendera Merah Putih, hingga tokoh pahlawan nasional.
“AI hanya alat, tapi nilai-nilai budaya tetap menjadi jiwa dari setiap karya,” tambah Dr. Aniendya.
Baca Juga: TPG Triwulan 3 Resmi Cair! Ini Jadwal Transfer Bertahap Sesuai SKTP Masing-Masing Guru
Selain itu, pengunjung juga disuguhi pameran dua wajah batik yang unik: Batik Dolly dan Batik Belanda.
Batik Dolly menghadirkan keberanian warna ungu dengan motif urban sebagai simbol pemberdayaan dan perubahan.
Di sisi lain, Batik Belanda mengangkat narasi shared heritage Indonesia-Belanda melalui figur tentara, kapal perang, dan dongeng Eropa.
Baca Juga: Demi Akurasi Data Bansos, Dinsos Depok Latih 141 Petugas Kelurahan dan PKH Kuasai Aplikasi SIKS-NG
“Batik Belanda menunjukkan sisi lain sejarah kita. Ia bukan hanya kain, tapi medium refleksi budaya antarbangsa,” jelas Dian.
Lewat kegiatan ini, PCU ingin menunjukkan bahwa kreativitas dan cinta tanah air dapat berjalan seiring dengan kemajuan teknologi.
“Semangat Sumpah Pemuda adalah bersatu dan berinovasi. Lewat batik berbasis AI, mahasiswa membuktikan bahwa warisan budaya bisa terus relevan di masa depan,” pungkas Dian.
Baca Juga: Awas, Anak Bisa Jadi Korban! Panduan Memahami Bullying Sejak Usia Dini
Acara ini terbuka untuk umum hingga akhir Oktober di Perpustakaan PCU.
Masyarakat diajak untuk hadir, mengenakan batik, dan merayakan semangat kebangsaan dalam kreativitas digital. ***




