POJOKSATU.id - Fenomena perundungan (bullying) di lingkungan kampus kini menjadi perhatian serius banyak pihak.

Meski sering dianggap sepele, tindakan intimidasi antar mahasiswa baik secara langsung maupun di jagat maya dapat meninggalkan dampak psikologis yang panjang.

Para ahli menegaskan, pencegahan perundungan harus dimulai dari kesadaran individu dan dukungan aktif komunitas kampus.

Baca Juga: Sasaeng Asal Tiongkok yang Coba Masuk ke Rumah Jungkook BTS Mendapatkan Penangguhan TuntutanTuntutannya Ditangguhkan

Beragam Bentuk Bullying di Dunia Kampus

Menurut laporan Universitas Alma Ata (UAA) Yogyakarta, jenis perundungan yang umum terjadi di lingkungan mahasiswa tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga verbal, sosial, hingga digital.

Bullying verbal misalnya berupa ejekan, sindiran, atau komentar yang menjatuhkan mental korban.

Sedangkan bullying sosial bisa berupa pengucilan atau perlakuan tidak adil di lingkungan organisasi dan pertemanan.

Lebih jauh lagi, cyberbullying kini juga makin sering ditemukan.

Baca Juga: Prediksi Skor Lille vs PAOK, 24 Oktober: Hasil Akhir, Statistik, Susunan Pemain, Bintang Timnas Indonesia Starter?

Melalui media sosial, beberapa mahasiswa menjadi korban unggahan bernada merendahkan, penyebaran gosip, hingga perundungan massal di kolom komentar.

Pencegahan Dimulai dari Budaya Asertif dan Empati

Ahli Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Margaretha SPsi PGDip Psych MSc, menegaskan bahwa penting bagi mahasiswa untuk berani bersikap asertif dalam menghadapi perundungan.

“Jangan biarkan korban sendirian menghadapi bullying. Lingkungan harus bersikap tegas dan memberi sanksi kepada pelaku,” ujar Margaretha, seperti dikutip dari laman resmi Unair.

Ia juga menambahkan, sikap asertif bukan berarti melawan dengan emosi, tetapi berani menyampaikan ketidaknyamanan dengan tegas dan tetap menghormati orang lain.

Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Inggris Work in Progress Halaman 11-12 SMA Kelas X Kurikulum Merdeka

Dalam banyak kasus, keberanian berbicara sering menjadi awal perubahan perilaku di lingkungan kampus.

Sementara itu, dosen Universitas Alma Ata menyarankan agar kampus tidak hanya fokus pada sanksi, tetapi juga menciptakan budaya empati dan dukungan sosial di antara mahasiswa.

“Mahasiswa harus diajarkan untuk peduli, bukan sekadar menonton saat temannya dirundung,” tulis laporan UAA.

Peran Kampus dan Mahasiswa dalam Menghentikan Siklus Bullying

Pihak kampus diharapkan tidak menutup mata terhadap masalah ini.

Baca Juga: Prediksi Skor GA Eagles vs Aston Villa, 23 Oktober: Hasil Pertandingan, Analisis Taktik dan Susunan Pemain

Program anti-bullying perlu diintegrasikan ke dalam kegiatan pembinaan mahasiswa, baik melalui pelatihan soft skill, konseling, maupun forum diskusi terbuka.

Di sisi lain, mahasiswa juga punya peran penting untuk saling menjaga.

Tidak ikut menyebarkan konten perundungan, mengingatkan teman yang berperilaku kasar, dan mendukung korban adalah langkah kecil yang bisa membawa perubahan besar.

Menumbuhkan Lingkungan Kampus yang Aman dan Inklusif

Bullying di kampus tidak bisa dihapus hanya dengan aturan.

Diperlukan kesadaran kolektif bahwa setiap mahasiswa berhak merasa aman dan dihargai.

Baca Juga: Dari Garut untuk Umat, STAI Al Musaddadiyah Tepat jadi Pilihan Pendidikan Tinggi, Lahirkan Ribuan Lulusan Berakhlak dan Berilmu

Lingkungan akademik yang sehat hanya bisa terwujud ketika empati, komunikasi terbuka, dan sikap saling menghormati menjadi budaya bersama.

Margaretha kembali menekankan bahwa tindakan asertif dan dukungan sosial merupakan kunci.

“Kampus harus jadi tempat yang aman untuk tumbuh, bukan arena saling menjatuhkan,” ujarnya.

Dengan sinergi antara civitas akademika, dosen, dan mahasiswa, diharapkan kampus benar-benar menjadi ruang belajar yang bebas dari kekerasan dan perundungan dalam bentuk apa pun. ***