POJOKSATU.id — Tidak semua anak yang cerdas terlihat menonjol di kelas. Sebagian dari mereka justru tampak sulit diatur, mudah bosan, dan sering kali dianggap “nakal”.

Padahal bisa jadi mereka termasuk kategori anak Cerdas Istimewa dan Bakat Istimewa (CIBI) — kelompok anak dengan kemampuan intelektual di atas rata-rata yang membutuhkan pendekatan pendidikan khusus.

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI), Prof. Rose Mini Agus Salim, menjelaskan bahwa anak CIBI memiliki karakter unik yang berbeda dari anak-anak lain yang cerdas karena belajar dengan tekun.

Baca Juga: Polwan Briptu Rizka Ternyata Dibantu Ayah Ibunya di Kasus Pembunuhan Suaminya Brigadir Esco

“Anak CIBI adalah anak yang kecerdasannya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, bukan hasil latihan biasa. Mereka yang dulu disebut gifted,” ujarnya pada Jumat (10/10/2025).

Rose menegaskan, meski termasuk dalam kategori anak berkebutuhan khusus, anak CIBI berbeda karena kebutuhan khususnya bukan karena keterbatasan, melainkan karena kemampuan yang jauh di atas rata-rata.

“Kebutuhan khususnya justru di atas rata-rata, bukan di bawah. Mereka memerlukan pendekatan dan cara belajar yang menantang agar potensinya tidak stagnan,” jelasnya.

Baca Juga: Prof Nindyo Pramono Sebut Keputusan Bisnis yang Patuhi GCG Layak Dapat Perlindungan Hukum

Teori dan Ciri Umum Anak CIBI
Dalam teori psikologi pendidikan, anak CIBI sering dihubungkan dengan konsep gifted and talented children.

Rose Mini menjelaskan, anak-anak seperti ini hanya sekitar 2,2 persen dari populasi dunia, menjadikannya kelompok langka yang butuh perhatian khusus.

Menurut teori Ellis Paul Torrens, terdapat tiga aspek utama yang menandai anak CIBI, yaitu:

Baca Juga: Senam Massal HUT Banten ke-25 Bikin Warga Tumpah Ruah

1. Kreativitas tinggi – mereka mampu memunculkan ide dan cara berpikir baru yang tidak biasa.

2. Kecerdasan tinggi – kemampuan analisis, logika, dan penalaran jauh di atas rata-rata.

3. Komitmen pada tugas – memiliki ketertarikan mendalam terhadap hal yang disukai dan bisa fokus berjam-jam pada satu topik tertentu.

Anak CIBI juga cenderung lebih suka bergaul dengan orang yang lebih tua, berpikir di luar kebiasaan (out of the box), dan punya cara pandang yang tak selalu mudah dipahami oleh teman sebaya.

Baca Juga: Senam Massal HUT Banten ke-25 Bikin Warga Tumpah Ruah

“Anak kalau punya tiga kriteria itu — kreativitas tinggi, kecerdasan tinggi, dan komitmen tinggi — itu sangat sedikit jumlahnya. Mereka spesial dan harus dikenali sejak dini,” terang Rose.

Mengajar Anak CIBI Tak Cukup dengan Akademik
Kepala Sekolah SD Al-Azhar Syifa Budi Cibubur, Eko Sri Wijiyanti, mengungkapkan bahwa mengajar anak CIBI memerlukan kesabaran dan strategi khusus.

“Anak-anak CIBI tidak bisa diajar dengan cara yang sama seperti anak pada umumnya. Mereka berpikir cepat, sering melompat ke kesimpulan, dan mudah bosan jika pelajaran terasa monoton,” ujarnya.

Menurut Wiwit — sapaan akrabnya — ciri paling menonjol dari anak CIBI adalah keaktifan dan rasa ingin tahu yang tinggi.

Baca Juga: Sidang Kasus ASDP, Hakim Cecar Mantan Wakil Ketua KPK

Mereka sering bertanya hal di luar konteks pelajaran, memotong penjelasan guru, bahkan tampak mengganggu kelas karena merasa tidak tertantang.

“Kalau gurunya kurang sabar, anak seperti ini bisa dicap pembuat onar atau anak yang tidak fokus, padahal mereka hanya ingin tahu lebih banyak,” katanya.

Kesalahpahaman ini kerap terjadi karena banyak guru belum memahami bahwa anak dengan kecerdasan tinggi belum tentu berprestasi tinggi di sekolah.

Nilai mereka bisa biasa saja jika pelajaran tidak menarik atau tidak menantang secara intelektual.

Baca Juga: SMK Kehutanan Didorong Berperan di Sektor Kehutanan Nasional, Kemendikdasmen dan Kemenhut Jalin Kerjasama

“Nilainya akan bagus kalau sudah masuk program CIBI, karena pembelajarannya disesuaikan dengan gaya berpikir mereka,” tambah Wiwit.

Pentingnya Asesmen dan Pendekatan yang Tepat
Untuk mengenali anak CIBI, dibutuhkan asesmen psikologis dan wawancara mendalam agar potensi yang dimiliki dapat diarahkan dengan benar.

Tes tersebut meliputi pengukuran IQ, kreativitas, dan minat belajar anak.

“Anak CIBI harus dikenali lewat pengetesan dan observasi. Setelah itu baru diarahkan sesuai bakatnya agar tumbuh kembangnya maksimal,” ujar Rose Mini.

Baca Juga: Dari Batik hingga Kuliner, Tinawati Ajak Pengrajin Serang Bawa Karya ke Level Lebih Tinggi

Dalam praktik pendidikan, anak CIBI membutuhkan pembelajaran yang berdiferensiasi, yaitu pengajaran yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan gaya belajar anak.

Strategi seperti proyek mandiri, eksplorasi ilmiah, atau tantangan berbasis riset kecil bisa membuat mereka lebih berkembang.

Jika dikelola dengan benar, anak CIBI berpotensi menjadi pemimpin, penemu, dan inovator masa depan yang memberi kontribusi besar bagi masyarakat.

Namun jika tidak dipahami, mereka bisa kehilangan semangat belajar bahkan mengalami masalah sosial dan emosional.

Baca Juga: Generasi Z Harus Melek Pancasila, Pesan Tegas Andra Soni

Menumbuhkan Anak CIBI dengan Dukungan dan Kesabaran
Anak CIBI membutuhkan lingkungan yang menghargai rasa ingin tahu dan kreativitas mereka.

Peran orang tua dan guru adalah menjadi pendamping, bukan pengendali.

Dengan bimbingan yang tepat, anak-anak ini dapat berkembang menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tapi juga berempati dan berkarakter kuat.***