POJOKSATU.ID - Ini kabar gembira bagi Guru Bahasa Inggris dan Seni Budaya menjelang pencairan tunjangan sertifikasi triwulan 3 tahun 2025.
Sesuai informasi dari admin Info GTK, kedua kelompok guru tersebut diberi kesempatan untuk mengajar di jenjang sekolah dasar (SD) dalam skema kurikulum merdeka.
“Guru bahasa Inggris bisa hijrah ke SD jika jam mengajar di SMP penuh. Sedangkan guru seni budaya boleh mengajar di SD asalkan jam mengajar mencukupi,” jelas admin Info GTK dalam siaran resminya.
Kabar ini disambut positif oleh banyak guru yang selama ini mengalami kesulitan memenuhi jam wajib (24 JP) di jenjang SMP maupun SMA.
Baca Juga: Jelang Pencairan TPG TW 3, Siap-siap Penarikan Data Tahap 2, Lebih Banyak Kategori Guru Terakomodasi
Dilema Guru Bahasa Inggris
Selama bertahun-tahun, guru bahasa Inggris di SMP dan SMA kerap menghadapi masalah jumlah jam mengajar.
Jumlah rombongan belajar yang terbatas membuat mereka sulit memenuhi ketentuan 24 JP per minggu yang menjadi syarat pencairan sertifikasi.
Banyak di antara mereka yang terpaksa mengambil jam tambahan di sekolah lain.
Namun, mulai semester ini, aturan baru menegaskan bahwa mengajar di sekolah non-induk tidak lagi diakui. Kondisi ini membuat para guru semakin was-was.
Baca Juga: Jelang Pencairan TPG TW 3, Siap-siap Penarikan Data Tahap 2, Lebih Banyak Kategori Guru Terakomodasi
Oleh karena itu, kebijakan baru yang membuka pintu ke jenjang SD dianggap sebagai solusi.
Dengan adanya slot mengajar di SD, guru bahasa Inggris berkesempatan menambah jam tanpa harus mencari sekolah tambahan.
“Kalau di SMP jam sudah penuh, guru bahasa Inggris bisa pindah ke SD untuk memenuhi kebutuhan 24 JP. Ini tentu kabar baik,” ungkap admin Info GTK.
Guru Seni Budaya: Antara Tantangan dan Peluang
Tak hanya bahasa Inggris, guru seni budaya juga mengalami masalah serupa. Jumlah jam mengajar di SMP/SMA seringkali tidak cukup untuk memenuhi syarat sertifikasi.
Dengan kebijakan baru, guru seni budaya bisa mengajar di SD dalam kurikulum merdeka, asalkan jam mengajar mencukupi.
Hal ini membuka peluang lebih luas bagi guru untuk berkarya sekaligus menjaga hak tunjangan mereka.
“Guru seni budaya boleh mengajar di SD dengan catatan kurikulum merdeka dan valid jika jam mengajar cukup,” jelas admin GTK.
Baca Juga: Pemanggilan Bobby Nasution Terkait Korupsi Jalan di Sumut, KPK Tunggu JPU Pulang dari Medan
Dampak bagi Ribuan Guru
Data Kemendikbud menunjukkan bahwa guru bahasa Inggris dan seni budaya termasuk kelompok besar dalam tenaga pendidik Indonesia.
Dengan kebijakan baru ini, ribuan guru berpotensi terbantu dalam validasi sertifikasi.
Seorang guru bahasa Inggris di Yogyakarta menyambut gembira kabar ini.
“Akhirnya ada solusi. Selama ini kami kesulitan mencari jam tambahan. Dengan opsi mengajar di SD, kami bisa lebih tenang,” ujarnya.
Guru seni budaya di Sulawesi Selatan juga menambahkan: “Kalau jam mengajar di SMP terbatas, bisa ke SD. Murid SD juga butuh seni dan bahasa sejak dini.”
Ada beberapa alasan mengapa SD dipilih sebagai alternatif:
1. Kurikulum Merdeka Fleksibel.
Kurikulum ini memungkinkan adanya tambahan mapel seperti bahasa Inggris dan seni budaya.
2. Jumlah Murid Lebih Banyak.
Dengan lebih banyak rombongan belajar, kesempatan menambah jam lebih besar.
3. Kebutuhan Kompetensi Dasar.
Bahasa Inggris dan seni dianggap penting dikenalkan sejak dini untuk membangun kreativitas dan literasi global.
Meski terdengar menjanjikan, ada sejumlah tantangan yang masih menunggu kejelasan:
- Apakah jam bahasa Inggris di kelas 4–6 bisa memenuhi target 24 JP?
- Bagaimana linearitas sertifikasi untuk guru seni budaya yang mengajar di SD?
- Apakah SD siap dari segi infrastruktur dan kurikulum untuk menampung guru tambahan?
"Pemenuhan 24 JP di SD untuk bahasa Inggris masih terus kami telusuri validasinya. Kita masih menunggu regulasi lebih lanjut,” kata admin kanal Youtube Guru Abad 21.
Implikasi ke Tunjangan Sertifikasi
Bagi guru bahasa Inggris dan seni budaya, peluang ini bukan hanya soal mengajar, tapi juga soal keberlanjutan hak sertifikasi.
Dengan jam mengajar yang lebih mudah dipenuhi, maka validasi di Info GTK juga lebih aman.
Baca Juga: 5 Laptop Core i5 Murah untuk Pelajar, Pilihan Baru dan Bekas yang Tetap Tangguh
Hal ini berarti pencairan tunjangan sertifikasi triwulan 3 lebih terjamin. Guru tidak perlu lagi mencari “jalan pintas” dengan mengambil jam non-induk yang kini sudah tidak diakui.
Kebijakan membuka ruang bagi guru bahasa Inggris dan seni budaya di SD menjadi angin segar bagi dunia pendidikan.
Meski masih ada tantangan teknis, setidaknya kebijakan ini memberi harapan baru bagi ribuan guru yang selama ini kesulitan memenuhi jam wajib sertifikasi.***




