POJOKSATU.id – Angin dari sawah menyusup lewat dinding bambu, membawa aroma tanah basah ke ruang kelas Sanggar Anak Alam (SALAM).
Tidak ada bangku berjajar, tidak ada papan tulis penuh rumus. Yang ada hanya meja kayu panjang, dipakai bersama layaknya meja makan.
Di sekeliling meja itu, anak-anak memilih jalannya sendiri.
Ada yang sibuk meneliti tanaman obat, ada yang menggambar kostum penari salsa, ada pula yang bereksperimen dengan shampo organik buatan sendiri.
Nane, siswa kelas tujuh, tengah menekuni buku tentang herbal.
“Semester ini aku riset soal obat batuk. Semester lalu soal tanaman,” ujarnya.
Dari satu riset kecil, pengetahuannya merambat ke dunia yang lebih luas. Botani, kesehatan, ekonomi lokal, sampai industri obat.
Pengetahuan itu tidak dipaksakan dari luar, melainkan tumbuh dari rasa ingin tahu yang organik.
Bagi SALAM, riset bukan soal mengejar angka atau nilai rapor. Riset adalah jalan anak-anak menemukan diri mereka.
Fasilitator (sebutan untuk pendamping kelas) tidak berdiri di depan seperti guru formal.
Mereka hanya menemani, menjaga agar api rasa ingin tahu siswa tidak padam.
“Di sini aku belajar menghargai proses anak-anak. Ada yang cepat, ada yang lambat. Semua berkembang dengan caranya sendiri,” ujar Erika, salah satu fasilitator.
Riset di SALAM punya batas yang sederhana, topiknya harus dekat dengan kehidupan.
Tidak ada riset roket di sekolah pinggir sawah ini.
Yang ada adalah penelitian tentang kangkung, kopi, atau tari.
Baca Juga: Jejak Awal Sekolah Anak Alam Yogyakarta, Menjawab Ketidakmampuan Sekolah Formal
Dari kangkung, misalnya, siswa belajar geografi Asia Selatan, mengenal negara, ibu kota, hingga mata uang.
Dari kopi, mereka menyusuri rantai ekonomi yang lebih besar. Dari tari, mereka masuk ke dunia sejarah dan budaya.
Sistem seperti ini lahir dari kegelisahan pendiri SALAM, Sri Wahyaningsih, atau Wahya.
Ia pernah melihat bagaimana sekolah formal sering mencabut anak dari akarnya.
Anak desa belajar prosedur DPR-MPR, padahal belum paham soal sawah yang tiap hari mereka injak.
“Sekolah seharusnya dekat dengan kehidupan nyata, bukan menjauhkan,” kata Wahya.
SALAM berdiri resmi tahun 2000 di Nitiprayan, tapi benihnya sudah ditanam jauh sebelumnya.
Pada 1988, Wahya membentuk kelompok belajar di Lawen, Banjarnegara, tempat ia melihat anak-anak putus sekolah dan menikah dini.
Dari situ, SALAM tumbuh perlahan: PAUD pada 2004, Taman Anak 2006, SD 2008, SMP 2011, hingga SMA pada 2017.
Kini statusnya PKBM, sekolah nonformal yang tetap harus mengikuti ujian penyetaraan.
Namun di SALAM, ujian nasional bukan untuk dihafal, melainkan untuk dievaluasi.
“Anak-anak sering menemukan soal pemerintah yang salah jawabannya,” ujar Wahya sambil tertawa.
Tidak ada pelajaran agama di sekolah ini. Karena urusan agama itu urusan orang tua.
Baca Juga: Cara Ampuh Menghilangkan Iklan di HP Android: Samsung, Xiaomi, Oppo hingga Chrome
Tidak ada ranking atau rapor angka, melainkan laporan naratif yang menyoroti proses perkembangan tiap anak.
Tidak ada gawai bebas, karena buku dan narasumber jadi rujukan utama.
Hanya di akhir semester, hasil riset dipresentasikan dalam pameran atau pertunjukan.
Meski tampak sporadis, sebenarnya ada empat pilar yang menopang: pangan, kesehatan, lingkungan, dan sosial-budaya.
Dari pilar-pilar inilah, anak-anak belajar menjahit pengetahuan dengan kehidupan mereka sendiri.
Baca Juga: Validasi TPG Hanya Guru Kategori Ini yang Lolos Tahap Pertama, Apa Saja Syaratnya?
Kini, SALAM tidak sendirian.
Di Yogyakarta sudah ada Sekolah Akar Rumput, Sekolah Tumbuh, dan banyak lagi sekolah alternatif di daerah lain.
Pada 2016, pegiat pendidikan alternatif berkumpul di SALAM, membentuk Jaringan Pendidikan Alternatif.
Semangatnya sama, menolak penyeragaman, merawat keberagaman cara belajar.
Di tengah dunia pendidikan yang kerap menyeragamkan anak jadi produk industri, SALAM mengajarkan bahwa belajar bisa berarti menemukan obat batuk sendiri, merancang tari, atau menanam kangkung.
Bahwa pengetahuan tidak harus hadir dalam ujian atau angka.
Bahwa sekolah bisa jadi ruang kebebasan, tempat anak-anak membangun masa depan sesuai akar mereka sendiri.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Channel Whatsapp Pojoksatu.id serta Fanpage Edugov
Di ruang bambu yang ditembus angin sawah itu, anak-anak SALAM menunjukkan satu hal sederhana
Belajar yang paling berharga adalah belajar yang lahir dari kehidupan nyata.***



