POJOKSATU.id – Angin dari sawah Nitiprayan menyusup ke ruang belajar yang berdinding bambu. Tak ada bangku berderet, tak ada papan tulis dengan coretan kapur.
Di ruang itu, anak-anak duduk di sekeliling meja kayu panjang, sibuk dengan riset pilihan mereka sendiri.
Dari tanaman obat, tari salsa, kopi, atau sampo organik.
Begitulah wajah Sanggar Anak Alam, atau yang lebih akrab disebut SALAM.
Sekolah ini lahir dari keresahan Sri Wahyaningsih atau Wahya, perempuan kelahiran Desember 1961.
Wahya melihat betapa pendidikan formal sering menjauhkan anak dari akar kehidupannya.
Di matanya, sekolah bukan sekadar ruang kelas dan seragam, melainkan arena di mana anak belajar membaca dunianya sendiri.
Benih gagasan itu tumbuh sejak Wahya terlibat dalam kegiatan Romo Mangun di bantaran Kali Code, Yogyakarta.
Namun embrio SALAM justru ia mulai jauh dari kota, di desa Lawen, Banjarnegara, pada akhir 1980-an.
Baca Juga: Jejak Awal Sekolah Anak Alam Yogyakarta, Menjawab Ketidakmampuan Sekolah Formal
Saat itu, ia baru menikah dan menemukan kenyataan pahit.
Dimana anak-anak di desa mudah putus sekolah, menikah dini, dan hidup dalam lingkar kemiskinan.
Ironisnya, lahan pertanian subur justru tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan warganya.
Di sana Wahya belajar satu hal: sekolah sering mencabut anak dari tanahnya sendiri.
“Kita ini negara agraris, tapi sekolah malah mengajarkan anak untuk menjauhi sawah."
"Mereka dianggap kotor jika berlumur tanah, padahal itulah lingkungan hidup mereka,” ucapnya suatu kali.
Bagi Wahya, pendidikan formal terlalu sering memaksa anak belajar sesuatu yang tidak relevan dengan hidupnya.
Ia menyebut contoh, anak SD belajar prosedur pemilu atau tugas lembaga tinggi negara, sementara mereka bahkan belum selesai memahami diri sendiri.
“Harusnya anak-anak belajar soal tubuh mereka, potensi mereka, dan kebutuhan dasarnya,” katanya.
Dari kegelisahan itu, SALAM berdiri pada tahun 2000 di Yogyakarta.
Perlahan, sekolah ini berkembang organik dari PAUD tahun 2004, Taman Anak tahun 2006, SD tahun 2008, SMP tahun 2011, lalu SMA pada 2017.
Status hukumnya memang sebatas PKBM, semacam pendidikan nonformal di bawah Dinas Pendidikan.
Baca Juga: Validasi TPG Hanya Guru Kategori Ini yang Lolos Tahap Pertama, Apa Saja Syaratnya?
Tetapi bagi Wahya, legalitas hanyalah urusan administratif. Substansi pendidikan jauh lebih penting.
Di SALAM, tidak ada guru yang berdiri di depan kelas.
Setiap ruang belajar dipandu oleh fasilitator, tiga orang di tiap kelas, yang tugasnya bukan memberi komando, melainkan mendampingi riset anak-anak.
Hasil riset itu bisa dipresentasikan lewat pameran, pertunjukan, atau produk nyata yang bahkan dijual di Pasar Legi dan Pasar Ekspresi.
Satu hal yang membedakan SALAM adalah cara memandang pengetahuan. Bagi Wahya, ilmu tidak boleh dipaksa.
Anak memilih sendiri topik riset, lalu membentangkannya ke berbagai cabang.
Dari riset tanaman obat, misalnya, siswa belajar botani, kesehatan, industri, hingga ekonomi.
Pengetahuan tumbuh seperti akar, menyebar ke segala arah.
Baca Juga: Apple Watch SE 3 Resmi Dirilis, Kini Punya Always On Display dan Chip S10 Canggih
“Kalau penyeragaman terus dipaksakan, anak-anak kita hanya akan jadi sekrup pabrik,” ujarnya.
Ia menyinggung bagaimana sistem pendidikan praktikal dan generik melahirkan manusia-manusia seragam, yang mudah diganti seperti produk industri.
Pendidikan semacam itu, menurutnya, berbahaya bagi keberagaman bangsa.
Wahya percaya, pemerintah seharusnya cukup membuat kerangka kompetensi dasar.
Praktik dan visi pendidikan seharusnya diserahkan ke masing-masing sekolah.
Baca Juga: HONOR Rilis Rangkaian Tablet dan Smartwatch AI, Bikin Produktivitas Makin Maksimal
“Standar yang seragam hanya akan memarjinalkan anak-anak di daerah dengan konteks berbeda,” katanya berapi-api.
Dari empat pilar yang ia tetapkan yaitu pangan, kesehatan, lingkungan, dan sosial budaya.
Wahya merajut pendidikan yang dekat dengan kehidupan nyata.
Ia ingin anak-anak belajar dari dunia di sekeliling mereka, bukan dari buku teks yang dingin.
Kini, gagasan itu menular. Sekolah-sekolah alternatif tumbuh di berbagai daerah
Sekolah Akar Rumput, Sekolah Tumbuh, hingga jaringan pendidikan alternatif yang terbentuk sejak 2016.
Semua membawa semangat yang sama bahwa pendidikan harus memerdekakan, bukan mengekang.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Channel Whatsapp Pojoksatu.id serta Fanpage Edugov
“Kalau sekolah tidak kritis, kita hanya akan jadi buruh."
"Tapi kalau anak-anak belajar mengenali diri dan lingkungannya, mereka akan tumbuh jadi manusia merdeka,” tutup Wahya.***



