POJOKSATU.id – Di sebuah ruang bambu di tepi sawah Nitiprayan, Yogyakarta, angin sepoi melintas membawa aroma tanah basah. Tak ada deretan bangku atau papan tulis yang sakral.

Di sana, seorang anak kelas tujuh duduk membaca buku tentang tanaman herbal, bertekad membuat obat batuk sendiri.

Di sampingnya, kawannya menggambar tarian salsa. Yang lain sibuk meriset kopi, shampo organik, atau sekadar menulis catatan kecil.

Tidak ada bel masuk, tidak ada guru yang mengomando, tidak ada ujian.

Baca Juga: Apple Watch SE 3 Resmi Dirilis, Kini Punya Always On Display dan Chip S10 Canggih

Jawaban dari semua pertanyaan administratif itu singkat saja, tidak ada.

Sekolah itu bernama Sanggar Anak Alam, akrab disebut SALAM.

Didirikan tahun 2000 oleh Sri Wahyaningsih, biasa dipanggil Wahya, SALAM memutuskan untuk menolak kurikulum seragam.

Alih-alih memaksa murid mempelajari sepuluh mata pelajaran, mereka memilih satu topik riset yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Jejak Awal Sekolah Anak Alam Yogyakarta, Menjawab Ketidakmampuan Sekolah Formal

Dari riset herbal, misalnya, seorang anak bisa belajar tentang botani, kesehatan, industri obat, sampai rantai ekonomi.

Pengetahuan berkembang organik, bukan dipaksakan.

Wahya tidak lahir dari ruang seminar akademis, melainkan dari pengalaman.

Pada 1988, ia pindah ke desa Lawen, Banjarnegara, yang subur namun miskin.

Di sana anak-anak banyak putus sekolah, menikah dini, dan kehilangan semangat belajar.

Ia melihat sekolah formal malah mencabut anak dari tanah.

Anak petani disuruh duduk di kelas berseragam rapi, jauh dari sawah yang menjadi nadi kehidupan mereka.

“Sekolah justru menjauhkan anak dari akarnya,” katanya suatu kali.

Baca Juga: HONOR Rilis Rangkaian Tablet dan Smartwatch AI, Bikin Produktivitas Makin Maksimal

Dari keresahan itu, embrio SALAM tumbuh.

Model pendidikan alternatif ini tidak menjadikan guru sebagai pusat. SALAM menggunakan fasilitator, tiga orang tiap kelas, yang hanya mendampingi.

Mereka tidak berhak memimpin jalannya kelas. Anak-anak sendiri yang menentukan. Hasil riset dievaluasi bukan dengan angka, melainkan narasi.

Laporan bukan soal benar-salah, tetapi bagaimana seorang anak berkembang.

Dari sini, kompetisi berganti menjadi kerja sama, dan rapor berubah menjadi cerita perjalanan.

Baca Juga: Sekolah yang Menolak Seragam dan Tanpa guru, Siswa Merdeka Memilih, Anak kok Belajar Tugas DPR-MPR, Buat Apa?

Tentu saja, negara tidak begitu saja memberi ruang. Demi legalitas, siswa SALAM tetap harus ikut ujian paket penyetaraan.

Tapi itu mereka balikkan. Alih-alih menghafal jawaban, anak-anak justru mengkritisi soal ujian, menemukan banyak pertanyaan yang salah atau tidak relevan.

Pendidikan, bagi SALAM, bukan soal menghafal, melainkan keberanian berpikir kritis.

SALAM juga punya empat pilar pengetahuan yang tidak bisa ditawar: pangan, kesehatan, lingkungan, dan sosial budaya.

Empat hal ini adalah penopang hidup sehari-hari, dan dari sanalah pengetahuan ditanam.

Maka penelitian tentang kangkung bisa menjalar ke geografi Asia Selatan, atau diskusi soal kopi bisa berlanjut ke perdagangan global.

Perlawanan SALAM tidak sendirian. Tahun 2016, mereka ikut menggagas Jaringan Pendidikan Alternatif.

Dari Nitiprayan, semangat itu menjalar ke banyak daerah.

Baca Juga: Tidak Perlu Kursus, Belajar Bahasa Asing Otodidak di Rumah juga Bisa kok, Ini Trik dan Kuncinya

Sekolah Akar Rumput, Sekolah Tumbuh, hingga puluhan lembaga lain. Semua menolak penyeragaman pendidikan yang mematikan imajinasi anak.

Wahya percaya, jika sekolah hanya menyeragamkan, maka anak-anak akan berakhir sebagai sekrup pabrik.

Mudah diganti, kehilangan inisiatif, tanpa ciri khas. Kritik ini bukan sekadar wacana.

Ia pernah menyindir, "Gajah dulu marah ketika hutannya dirusak. Tapi setelah dididik, ia patuh mengangkut gelondongan kayu dan bermain sirkus".

Begitu pula manusia, tanpa pendidikan kritis, hanya akan menjadi buruh jinak.

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android dan Versi iOS

Channel Whatsapp Pojoksatu.id serta Fanpage Edugov

Gerakan sekolah alternatif adalah perlawanan sunyi terhadap hegemoni seragam, ujian, dan ijazah.

Mereka menolak untuk dicetak massal.

Di Yogya, anak-anak belajar dengan ritme masing-masing, menulis sejarahnya sendiri.

Dari sana lahir keyakinan sederhana: pendidikan tidak harus seragam untuk bisa memerdekakan.***