POJOKSATU.ID - Artikel berikut ini akan membahas tentang studi kasus mengenai penilaian, dalam program Pendidikan Profesi Guru (PPG) tahun 2025.
Permasalahan penilaian belajar di sekolah dasar kerap menjadi tantangan tersendiri bagi para guru.
Maka dari itu, salah satu topik yang diangkat dalam PPG 2025 adalah penilaian.
Berikut contoh studi kasus mengenai penilaian:
Baca Juga: Klinik Barokah Medika Rayakan Ulang Tahun ke-5, KSB Hadir dan Buka Edukasi Bencana
Permasalahan
Ibu Dewi adalah seorang guru kelas V di sebuah Sekolah Dasar Negeri.
Dalam proses pembelajaran, Ibu Dewi merasa murid-muridnya tidak menunjukkan hasil belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Saat dianalisis, ternyata soal-soal asesmen yang ia gunakan selama ini lebih menekankan hafalan dan tidak mencerminkan kompetensi yang harus dikuasai siswa sesuai Kurikulum Merdeka.
Baca Juga: Aurelie Moeremans Umumkan Kehamilan, Sang Suami Tyler Bigenho Terharu: Kita Berhasil
Misalnya, pada pelajaran Bahasa Indonesia, tujuan pembelajarannya adalah siswa mampu memahami isi teks dan menemukan ide pokok, tetapi soal yang diberikan sebatas menanyakan definisi atau hafalan.
Lebih lanjut, Ibu Dewi juga tidak membuat kisi-kisi soal ataupun rubrik penilaian, ia sering mengambil soal dari internet tanpa analisis tingkat kesulitan dan kesesuaian dengan capaian pembelajaran.
Akibatnya, asesmen yang diberikan tidak valid untuk mengukur kemampuan siswa, serta tidak memberikan gambaran nyata terhadap perkembangan belajar siswa.
Baca Juga: Tokoh UMKM Karawang Desak APH Tindak Oknum HRD PT FCC yang Diduga Hina Warga
Solusi
Ibu Dewi mulai menyadari pentingnya perencanaan asesmen yang terintegrasi dengan proses pembelajaran, ia mengikuti pelatihan di komunitas belajar guru dan mempelajari tentang prinsip- prinsip asesmen yang baik, seperti validitas, reliabilitas, dan autentisitas.
Sebagai langkah nyata, sebelum membuat asesmen, Ibu Dewi terlebih dahulu menyusun kisi-kisi soal berdasarkan tujuan pembelajaran dan indikator capaian.
Ibu Dewi memastikan soal yang dibuat beragam, mulai dari level pemahaman, aplikasi hingga analisis, sesuai dengan taksonomi Bloom.
Selain itu, Ibu Dewi juga mulai menggunakan asesmen formatif, seperti kuis singkat, refleksi, dan diskusi kelas untuk memantau perkembangan belajar siswa, bukan hanya menilai hasil akhir.
Ia juga mengembangkan rubrik penilaian terutama untuk tugas
proyek atau keterampilan yang bersifat kualitatif.
Dampak
Setelah menerapkan perencanaan asesmen yang baik, Ibu Dewi mulai melihat perubahan signifikan.
Hasil asesmen lebih mencerminkan kemampuan siswa, dan siswa menjadi lebih aktif karena merasa asesmen bukan hanya ajang menguji hafalan, tetapi kesempatan menunjukkan pemahaman dan kreativitas.
Selain itu, Ibu Dewi bisa mengidentifikasi dengan lebih jelas siswa yang membutuhkan bimbingan khusus, sehingga proses remedial dan pengayaan bisa diberikan secara tepat sasaran.
Hal ini berdampak pada peningkatan motivasi belajar siswa dan hasil belajar yang lebih baik.
Baca Juga: Resmi! Kemenag Serahkan Izin Operasional untuk 51 Pesantren, Layanan SITREN Kembali Diaktifkan
Pelajaran Bermakna
Dari pengalaman ini, Ibu Dewi belajar bahwa asesmen bukan sekadar alat penilaian, tetapi bagian dari proses pembelajaran yang harus dirancang secara terencana.
Perencanaan asesmen yang baik akan membantu guru mengukur capaian pembelajaran secara akurat, memberi umpan balik yang membangun, dan membantu siswa berkembang secara optimal.
Sebagai guru profesional, merancang asesmen dengan memahami prinsip-prinsipnya menjadi kewajiban yang tak terpisahkan dari tugas mendidik.
Asesmen yang direncanakan dengan baik akan membawa proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berorientasi pada perkembangan peserta didik.
Dalam era Kurikulum Merdeka, guru dituntut untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga merancang penilaian secara profesional.
Baca Juga: Dari Tugas Kuliah ke Etalase Digital: Kumora Cookies Sukses Berkat Rumah BUMN BRI
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov
Dengan memahami prinsip-prinsip asesmen, guru dapat menjadi fasilitator pembelajaran yang mampu mendorong potensi siswa berkembang secara maksimal. ***




