POJOKSATU.ID - Berikut ini akan membahas studi kaasus atau masalah media pembelajaran dalam Uji Kompetensi Program Pendidikan Profesi Guru (UKPPG).
Pada tahun 2025, tentunya menjadi momentum penting bagi pendidik untuk merefleksikan praktik pembelajaran, khususnya dalam UKPPG.
Pada tahun 2025, UKPPG fokus pada 4 masalah, yaitu:
Baca Juga: Sekolah Rakyat Jadi Program Sosial, Ternyata Bukan Bagian dari Sistem Pendidikan Nasional?
1. Masalah Media Pembelajaran
2. Masalah Strategi Pembelajaran
3. Masalah LKPD
4. Masalah Penilaian
Baca Juga: Anak-anak Susah Konsentrasi saat Belajar? Ini 7 Tips Ampuh Menghadapi Anak Malas
Contoh Studi Kasus Guru Kelas 1 SD
Sebagai guru kelas 1 SD, saya pernah menghadapi tantangan saat menyampaikan materi "Mengenal Huruf dan Bunyi Awal" kepada siswa.
Saat itu, saya menggunakan media pembelajaran berupa lembar kerja cetak bergambar hitam putih. Ternyata, sebagian besar siswa tampak tidak antusias dan mudah kehilangan fokus.
Beberapa siswa mengalami kesulitan mengenali huruf karena gambar tidak menarik dan kurang kontekstual dengan dunia mereka.
Baca Juga: 75 Ribu Buruh Siap Kepung Istana 15—25 Agustus! Tuntut Penghapusan Outsourcing dan Tolak PHK Massal
Saya menyadari bahwa media yang saya gunakan kurang relevan dengan karakteristik siswa kelas 1 yang masih dominan belajar secara visual dan kinestetik.
Bagaimana menyelesaikan kasus di atas? Berikut uraiannya:
Saya kemudian melakukan refleksi dan mencoba memahami gaya belajar siswa. Saya berkonsultasi dengan guru sejawat dan mencari referensi melalui komunitas pendidikan digital.
Dari hasil diskusi, saya menyusun media pembelajaran baru yang lebih menarik dan interaktif, seperti kartu huruf bergambar berwarna, video animasi pendek, dan game tebak huruf menggunakan proyektor.
Saya juga mulai melibatkan siswa secara aktif, misalnya dengan meminta mereka menunjuk huruf dari kartu yang sesuai dengan gambar yang ditampilkan atau menirukan bunyi huruf melalui lagu.
Bagaimana hasil yang didapatkan dari upaya tersebut?
Berikut uraian hasil yang didapatkan dari upaya guru kelas 1 SD:
Hasilnya sangat positif. Siswa menjadi lebih antusias mengikuti pelajaran. Mereka lebih cepat mengenal dan mengingat huruf karena media pembelajaran yang digunakan lebih menarik dan sesuai dengan usia mereka.
Baca Juga: KAI Daop 3 Cirebon Salurkan Bantuan untuk Perpenka melalui Program TJSL
Proses belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton, dan siswa terlihat senang terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Bahkan, siswa yang sebelumnya pasif mulai menunjukkan keberanian dalam minat dan menjawab pertanyaan.
Apa pengalaman berharga yang bisa dipetik setelah dapat menyelesaikan permasalahan itu?
Berikut uraian terkait pengalaman yang dapat dipetik setelah dapat menyelesaikan masalah:
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa media pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa.
Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi juga harus memastikan bahwa media yang digunakan mampu menjembatani pemahaman siswa secara efektif.
Saya juga belajar pentingnya melakukan evaluasi dan refleksi terhadap metode mengajar, serta terbuka untuk berkolaborasi dan belajar dari rekan sejawat.
Kini, saya selalu berusaha mengembangkan media pembelajaran yang kreatif, relevan, dan berpusat pada siswa.
Media pembelajaran merupakan komponen penting dalam mendukung pemahaman siswa, terutama di jenjang Sekolah Dasar kelas rendah.
Baca Juga: Sokola Rimba, Pendidikan untuk Masyarakat Adat
Namun, permasalahan muncul ketika media yang digunakan tidak mampu menjembatani kebutuhan belajar anak.
Studi kasus ini menjadi contoh nyata pentingnya menyesuaikan media pembelajaran dengan kebutuhan siswa, khususnya di kelas awal.
Baca Juga: Sayap Ekonom
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov
Guru harus adaptif, inovatif, dan reflektif agar proses belajar tidak hanya berlangsung, tapi juga bermakna dan berdampak positif bagi perkembangan siswa. ***




