POJOKSATU.id — Kementerian Sosial (Kemensos) tengah mengebut proses rekrutmen 1.544 guru untuk mengisi kebutuhan Sekolah Rakyat yang akan beroperasi mulai tahun ajaran 2025 2026 atau pada minggu kedua Juli 2025.
Meski proses seleksi sudah mendekati rampung, sejumlah calon guru justru memutuskan mundur karena alasan kendala lokasi penempatan.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengungkapkan bahwa para guru yang lolos seleksi nantinya akan diangkat menjadi pegawai Kementerian Sosial melalui Surat Keputusan (SK) resmi.
Dalam masa transisi, mereka akan mendapatkan status sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Sementara itu, kepala sekolah Sekolah Rakyat direncanakan akan mendapatkan status sebagai aparatur sipil negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS).
“Status ini sudah dibicarakan secara matang bersama Kementerian PAN-RB,” ujar Saifullah Yusuf di Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi (Pusdiklatbangprof), Jakarta Selatan, Rabu (25/6/2025).
Calon Guru Sekolah Rakyat Mundur
Dari total 1.500 lebih calon guru yang sudah terjaring dalam proses seleksi, sekitar 100 orang memilih mundur.
Menurut Mensos, sebagian besar dari mereka merasa keberatan dengan lokasi penempatan yang dianggap terlalu jauh dari tempat tinggal.
“Kalau mereka yakin, silakan lanjut. Kalau masih ragu, boleh mundur. Kita tidak mau memaksa sebelum ada SK,” ungkap Gus Ipul, sapaan akrab Menteri Sosial.
Meski demikian, Kemensos telah menyiapkan cadangan peserta seleksi untuk mengantisipasi kekosongan tersebut.
“Rata-rata itu karena penempatannya ya. Tapi soal yang mengundurkan diri ini kami banyak cadangannya,” lanjutnya.
Gus Ipul juga memastikan, proses akhir rekrutmen guru dan kepala sekolah akan tuntas pada hari ini, Kamis (26/6/2025).
“Diperkirakan besok semua sudah selesai,” ujarnya optimistis.
Calon Siswa Juga Menolak
Tak hanya dari pihak guru, sejumlah anak yang sebelumnya dijadwalkan masuk Sekolah Rakyat juga memutuskan tidak melanjutkan pendaftaran.
Alasan paling dominan adalah karena mereka sudah diterima di sekolah lain.
“Bagi kami tidak ada masalah. Yang penting, kami sudah memberikan informasi secara terbuka. Mungkin saja mereka belum mendapatkan pemahaman utuh tentang konsep Sekolah Rakyat ini,” jelas Gus Ipul.
Meski begitu, jumlah pasti guru maupun siswa yang memutuskan untuk tidak bergabung masih belum dirilis oleh Kemensos.
Konsep Sekolah Rakyat
Sekolah Rakyat merupakan program pendidikan berkonsep boarding school yang digagas oleh Kemensos.
Sekolah ini tidak hanya mengacu pada kurikulum pendidikan nasional, tetapi juga memuat materi tambahan terkait karakter, kepemimpinan, nasionalisme, serta keterampilan berbasis kebutuhan lokal siswa.
Sistem pembelajaran akan dilengkapi dengan evaluasi berkala terhadap aspek gizi, kesehatan, IQ, kedisiplinan, dan kompetensi.
Kemensos juga akan bekerja sama dengan lembaga-lembaga berkompeten untuk melakukan pengukuran tersebut.
Laporan hasil evaluasi disampaikan secara rutin kepada orang tua, wali murid, maupun publik setidaknya setiap semester. ***




