POJOKSATU.id - Isu soal Deep Learning yang akan menggantikan Kurikulum Merdeka mendadak ramai diperbincangkan.
Itu setelah beredar video Mendikdasmen Abdul Mu'ti yang menyinggung soal deep learning.
Lalu seperti apa sih deep learning yang dilontarkan Menteri Mu'ti?
Seperti apa juga nantinya penerapannya di sekolah dan kapan dimulai penerapannya?
Apakah kemudian semua produk turunan Kurikulum Merdeka kebanggan Nadiem Makarim akan dihapus pula?
Kiranya mungkin beberapa pertanyaan tersebut di atas yang banyak terlintas.
Sebagai informasi, sebelum video tersebut beredar, Mendikdasmen Abdul Mu'ti beberapa kali menyinggung soal Kurikulum Merdeka.
Sosok yang akrab disapa Abe ini sebelumnya menyatakan akan mengkaji ulang sejumlah kebijakan era Nadiem Makarim yang menuai kontroversi dan polemik.
Diantaranya Kurikulum Merdeka, penghapusan Ujian Nasional (UN) sampai PPDB Zonasi.
Bahkan ketika di Palembang, Menteri Mu'ti terang-terangan menyindir soal kurikulum tersebut.
Ia menceritakan, dirinya sudah mendapat banyak masukan dari sejumlah pihak.
Masukan tersebut ada yang disampaikan secara serius maupun dengan bercanda.
Salah satu masukan yang bercanda adalah menyinggung keseharian guru setelah adanya Kurikulum Merdeka.
Dia menceritakan curhat dan masukan dari seorang teman.
"Ternyata sekarang guru siang-malam enggak pernah ngurusi suami. Yang diurus adalah upload persiapan mengajar," ungkap Mu'ti, 1 November 2024 lalu.
"Mohon maaf, ini hanya bercanda saja," sambungnya.
Kendati demikian, Abe memastikan Kemdikdasmen tidak akan tergesa-gesa mengambil keputusan.
Termasuk keputusan apakah Kurikulum Merdeka dihapus atau tidak.
"Kami akan mengkaji secara keseluruhan," tegas dia.
Pernyataan senada juga ditegaskan kembali oleh Menteri Mu'ti dalam raker bersama Komisi X DPR RI pada 6 November 2024.
Bocoran Deep Learning
Dalam video penjelasannya Mendikdasmen Abdul Mu'ti memberikan bocoran terkait deep lerning.
"Jadi arah pembelajaran ke depan itu mau saya arahkan ke deep learning," ungkap Mu'ti.
Mu'ti menjelaskan bahwa deep learning bukanlah sebuah teori yang baru, tapi sudah ada sejak 1995.
Bahkan ia juga sudah mempelajarinya ketika ia menempuh pendidikan di Australia.
Dengan deep learning, kemungkinan nantinya materi pelajaran nantinya akan lebih ringan.
"Akan tetapi cara menjelaskannya itu mendalam," jelasnya.
Dengan cara tersebut, maka guru bisa berimpovisasi dan pemikiran peserta didik menjadi lebih berkembang.
3 Elemen Utama
Mendikdasmen menjelaskan, dari deep learning itu sendiri memiliki 3 elemen utama.
Yakni Mindfull Learning, Meaningfull Learning, dan Joyfull Learning.
Setiap elemen dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang tidak hanya mengedepankan pengetahuan tetapi juga pengalaman bermakna bagi siswa.
Menteri Mu'ti lantas menjelaskan satu per satu 3 elemen utama deep learning.
1. Mindfull Learning
'Mind' diartikan bahwa 'kita sadar'.
"Kita sadar bahwa murid kita itu beda-beda. Jadi, mindfull itu peka, sensitif," jelasnya.
Sebagai pendidikan, kata Mu'ti, seorang guru tidak boleh menganggap bahwa semua peserta didiknya adalah 'sama'.
"Kita harus sadar itu, mereka ini nggak sama," sambungnya.
Sementara 'mindfull' adalah pembelajaran yang mendorong peserta didik, selama mengikuti proses belajar, untuk berfikir>
"Sehingga selama proses belajar, itu dia didorong untuk terlibat.
Dia lalu mencontohkan ketika seorang peseta didik tiba-tiba bertanya di tengah penyampaian materi.
"Itu jangan dihentikan. Kalau nanti pertanyaannya tidak relevan, baru nanti diarahkan," jelas dia.
"Tapi kalau relevan, jangan dihentikan," sambungnya.
Mu'ti lantas mencontohkan seorang guru agama yang sedang menjelaskan tentang air.
Guru bisa mengarahkan bahwa air ada banyak. Air bersih, ari kotor, air hujan, air minum dan air-air lainnya.
"Bisa saja dimulai dari situ. Itu kan air dalam kehidupan sehari-hari,"
"Kalau air hubungannya dengan ibadah, hanya ada 3. Air mumthir, Al-maaul furath dan Al-maaul ujaz," kata dia.
Degan demikian, nantinya peserta didik akan memiliki kemampuan untuk mengklasifikasi berdasarkan pengelompokannya.
2. Meaningfull Learning
Dalam tahap ini, peserta didik digiring untuk mengerti dan memahami alasan di balik pembelajaran yang sedang mereka pelajari.
"Gunanya saya mempelajari ini itu apa? Nah, ini yang sering kali tidak diajarkan," beber dia.
Dengan tanpa adanya pemahaman demikian, peserta didik pun akan sulit untuk menerima materi pelajaran.
"Sehingga dia tidak menemukan gunanya, ilmu yang dipelajari itu, sehingga motivasinya (belajar) jadi kurang," jelasnya.
Dia menekankan, bahwa setiap peserta didik perlu mengetahui mengapa suatu materi adalah penting.
Selanjutnya, siswa akan menyadari bahwa materi yang dipelajari itu bisa memberikan manfaat pada kehidupan nyata.
3. Joyfull Learning
Nah, ketika peserta didik mengetahui dan memahami manfaat serta pentingnya suatu materi pelajaran, maka secara otomatis akan mengubah pandangan siswa.
Yang dimaksud Menteri Mu'ti adalah, bahwa suasana pembelajaran akan menjadi joyfull atau menyenangkan bagi peserta didik.
"Itu yang membuat pelajaran menjadi joyfull, menyenangkan," kata dia.
Namun dalam hal ini Mu'ti sengaja tidak menggunakan istilah fun learning.
"Fun learning itu bisa menyimpang di lapangan. Yang penting lucu. Padahal yang menggembirakan tidak selalu lucu," paparnya.
Baca Juga: Mendikdasmen Abdul Mu'ti Ternyata Pernah Kritik Keras Merdeka Belajar Nadiem September 2022 Lalu
Menurutnya, menggembirakan itu seperti menemukan sesuatu yang baru, mengerti gunanya dan tidak dalam kondisi tertekan saat belajar.
"Nggah usah dinamai (kurikulum) merdeka atau kurikulum full-full, misalnya," ucap dia.
Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat dan mudah bisa download aplikasi Pojoksatu.id untuk Android dan iOS dengan link di bawah ini:
Itulah informasi penjelasan deep learning dengan 3 elemen utama yakni mindfull, meaningfull, dan joyfull penjelasan Mendikdasmen Abdul Mu'ti.***




