POJOKSATU.id - Sinyal Kurikulum Merdeka dihapus semakin besar setelah Abdul Mu'ti ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen).
Seperti diketahui, Kurikulum Merdeka adalah program andalan Nadiem Makarim ketika menjabat sebagai Mendikbudristek.
Namun kebijakan bos Gojek ini malah menuai banyak kontroversi dan perdebatan di kalangan guru.
Salah satu yang cukup banyak disesalkan adalah bahwa guru tidak hanya dituntut untuk mengajar dan mendidik.
Baca Juga: ALHAMDULILAH Langsung dari Mendidasmen Abdul Mu'ti untuk Guru Honorer se-Indonesia, Tunggu di 2025
Melainkan malah disibukkan dengan seabrek berbagai tugas administrasi.
Bahkan banyak guru yang mengeluh kehabisan waktu mengurus rumah tangga lantaran berbagai tuntutan tugas administrasi tersebut.
Pasalnya guru diminta menuntaskan tugas-tugas tersebut di luar jam mengajar.
Sementara ketika di rumah, adalah waktu bagi guru menjalankan tugas sebagai istri atau suami.
Pada 21 Oktober 2024, usai serah terima jabatan sebagai Mendikdasmen, Abdul Mu'ti juga sempat menyinggung berbagai kebijakan era Nadiem Makarim.
Mulai dari Kurikulum Merdeka, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur zonasi, sampai soal Ujian Nasional (UN).
Menteri Mu'ti memastikan dirinya akan mengkaji ulang sejumlah kebijakan di era Nadiem Makarim yang menuai kontorversi.
"Soal Ujian Nasional, PPDB Zonasi, Kurikulum Merdeka, yang sekarang masih jadi perdebatan (akan dikaji ulang)," tegas dia.
Kendati demikian, Mu'ti enggan grusa-grusu untuk mengambil keputusan apakah sederet kebijakan itu akan dihapus, direvisi atau lainnya.
Karena itu, pihaknya akan akan menghimpun masukan dari sejumlah pihak soal kebijakan pendidikan yang sudah berjalan saat ini.
Baik dari internal kementerian, pemerintah daerah, masyarakat, maupun tokoh-tokoh pendidikan untuk mencari plus-minusnya.
Menurutnya, setiap kebijakan pasti menimbulkan pro dan kontra.
"Tentu saja kami akan lihat secara keseluruhan, tidak secara tergesa-gesa," tuturnya.
Soal Kurikulum Merdeka, jelas dia, adalah kebijakan yang masih baru dan belum semua satuan pendidikan menerapkannya.
Sosok yang akrab disapa Abe itu menyatakan, dirinya menginginkan kebijakan Dikdasmen sesuai dengan apa yang menjadi aspirasi masyarakat.
"Yang lebih penting lagi juga bisa menjadi aktualisasi dan realisasi dari program Presiden Prabowo," paparnya.
Kurikulum Merdeka Disindir
Terbaru, Abe bahkan menyindir Kurikulum Merdeka, dalam kunjungannya ke Palembang, Sumatera Selatan, 1 November 2024.
Saat itu, Abe ditanya soal kemungkinan apakah Merdeka Belajar akan dihapus.
"Soal yang pertama, Merdeka belajar juga termasuk yang sedang kami kaji," jawab dia.
"Karena memang ini adalah bagian dari kebijakan yang sekarang ini menimbulkan polemik," sambungnya.
Menteri Mu'ti juga mengungkap dirinya sudah menerima sejumlah masukan.
Sejumlah masukan itu ada yang disampaikan dengan cara serius maupun dengan cara bercanda.
Salah satu contoh masukan dengan cara bercanda dituturkan seorang temannya.
Dimana temannya itu mengidamkan memiliki istri seorang guru karena menilai istrinya akan banyak waktu di rumah.
"Ternyata sekarang guru siang-malam enggak pernah ngurusi suami. Yang diurus adalah upload persiapan mengajar," ungkap Mu'ti.
"Mohon maaf, ini hanya bercanda saja," sambungnya.
Terkait apakah akan menghapus Kurikulum Merdeka, Mu'ti memastikan pihaknya tidak akan mengambil kebijakan tergesa-gesa.
"Kami akan mengkaji secara keseluruhan," tegas dia.
Dia menyampaikan bahwa peta mutu pendidikan nasional tidak merata dan berbeda di setiap wilayah.
Kondisi ini dimaknai Mu'ti sebagai realitas di lapangan.
"Kta mungkin keliru mengambil kebijakan sehingga kami harus berhati-hati melihat mutu pendidikan ini secara utuh," katanya.
"Tidak hanya ketersediaan sarana prasarana, tapi juga melihat kualitas gurunya," lanjut dia.
Hastag Kurikulum Merdeka dan Merdeka Belajar Hilang
Sinyal penghapusan kebijakan era Nadiem Makarim itupun semakin besar.
Hal itu terlihat dari menghilangnya berbagai hastag yang selalu hadir dalam setiap unggahan akun media sosial resmi Kemdikbud.
Di era Nadiem Makarim, hastag #KurikulumMerdaka #MerdekaMengajar #MerdekaBelajar selalu menghiasi setiap unggahan.
Baca Juga: Yakin Sertifikat SKD CPNS yang Anda Miliki ASLI? Ini Cara VALIDASI KEASLIAN NILAI yang Diperoleh
Tapi kini hastag yang jadi kampanye melalui media sosial itu sudah berganti.
Hastag yang berkaitan dengan kebijakan era Nadiem Makarim kini sudah hilang.
Sebagai gantinya, hastag era Abdul Mu'ti adalah #KemendikdasmenRAMAH dan #PendidikanBermutuUntukSemua atau hastag #BanggaJadiGuru #GuruHebat dan #GuruHebatIndonesiaKuat.
Hal itu sebagaimana bisa dilihat pada beberapa unggahan terakhir di akun Instagram @kemdikbud.ri sebagaimana dilihat Pojoksatu.id.
Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat dan mudah bisa download aplikasi Pojoksatu.id untuk Android dan iOS dengan link di bawah ini:
Benarkah Kurikulum Merdeka kebanggan Nadiem Makarim nantinya benar-benar dihapus Mendikdasmen Abdul Mu'ti? Bagaimana pendapat Anda? Setuju atau tidak?***




