POJOKSATU.id - Semangat guru belajar dibangun dalam susasana hangat, akrab dan bersahabat dalam Temu Pendidik Daerah atau TPD 37 di Kota Bandung pada Minggu, 9 Juni 2024 yang digelar Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Kota Bandung
Topik bahasannya juga menarik, "Pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan dan Penyusunan P5" yang saat ini tengah dibutuhkan satuan pendidikan untuk menyusun kurikulum jelang Tahun Ajaran Baru 2024 2025.
Kelas Sharing ini digelar di SDN 268 Panyileukan di Komplek Bumi Panyileukan, Jl. Bangkit 1 Blok G 15 No 23, Cipadung Kidul, Kota Bandung.
Praktisi pengajar Astri Winarti Widiastuti dari SDN 260 Griya Bumi Antapani Bandung sebagai narasumber menyampaikan topik "Pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan".
Narasumber lainnya adalah Tri Sila Indriyani dari SDN 268 Panyileukan dengan pembahasan "Mengemas P5 Secara Merdeka (Menarik, Esensial, Reflektif, DInamis, Efektif, Kontekstual, Akuntabel)".
Secara praktis, Astri Winarti Widiastuti menyampaikan paparan tentang pengembangan KSP 2024.
Seperti diketahui, penyusunan KSP berorientasi pada kebutuhan peserta didik, menyesuaikan karakteristik Satuan Pendidikan, bersifat esensial atau memuat hal yang penting saja, Akuntabel (dapat dipertanggungjawabkan) dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Dihubungi pojoksatu.id, Acy menyampaikan bahwa KSP perlu memuat pengorganisasian pembelajaran yaitu intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler.
Intrakurikuler memuat kegiatan pembelajaran yang terjadi di dalam kelas antara guru dan siswa, sesuai dengan kurikulum dan kompetensi muatan setiap mata pelajaran.
"Tujuannya adalah untuk menumbuhkan kemampuan akademik siswa. Kegiatan intrakurikuler itu contohnya diskusi, presentasi, proyek kelompok, dan tugas-tugas kelas," tutur perempuan yang akrab dipanggil Acy itu.
Sedangkan kokurikuler dilakukan untuk menguatkan, memperdalam, atau pengayaan mata pelajaran yang sudah dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler. "Kegiatan P5 itu adanya disini," tuturnya.
Acy melanjutkan, ekstrakurikuler merupakan kegiatan di luar akademik yang bertujuan untuk mendukung aspek-aspek lain di dalam diri peserta didik, seperti minat, bakat, dan kepribadian.
Berangkat dari hal tersebut, Acy menjelaskan pengorganisasian pembelajaran itu dapat memasukkan nilai-nilai Pancasila, pengembangan karakter, interaksi sosial hingga memberikann pengalaman nyata kepada peserta didik dalam projek P5.
"Jadi semua jenis kegiatan dirancang untuk saling mendukung dalam membentuk karakter siswa yang seimbang antara aspek akademik, sosial, dan emosional," ungkap Acy.
Pembahasan lebih mendalam P5 disampaikan Tri Sila Indriyani.
Dengan lugas, guru yang biasa dipanggil Lala itu membedah tuntas Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) secara sistematis.
Lala memaparkan sistematika P5 yang dimulai dari pemahaman tema P5, dimensi P5, elemen P5 yang diturunkan dalam penjelasan sub elemen P5, indikator hingga sampai ke Rapor.
Dengan gaya menarik, Lala juga menyampaikan pemahaman tentang praktik pelaksanaan P5 dengan konsep "Merdeka" sebagai berikut.
- Menarik: Kreatif dan inovatif
- Esensial: fokus pada kompetensi
- Reflektif: cipta, rasa, karsa
- Dinamis: berubah sesuai kebutuhan
- Efektif: sesuai target
- Kontekstual atau disesuaikan dengan keseharian, dan
- Akuntabel: terukur, berbasis data
Di akhir kegiatan, para guru diajak melakukan 4 langkah praktik tahapan penyusunan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Kurikulum Merdeka terdiri yaitu alur Pengenalan, Kontekstualisasi, Aksi, Refleksi.
"Sebelum menyusun P5, perlu dipahami empat prinsip yang terkandung dalam P5, yakni holistik, kontekstual, berpusat pada peserta didik, dan eksploratif.
Selain itu, perlu dibangun kesiapan komponen-komponen yang berada di lingkungan satuan pendidikan, seperti membangun budaya satuan pendidikan yang mendukung hingga mendorong kapasitas tenaga pendidik." ujar Lala menjelaskan kepada pojoksatu.id.
Dalam tahapan itu langkah awalnya adalah membuat modul, pada tahap kontekstualisasi ditujukan untuk melakukan eksplorasi hingga mendiskusi hasil observasi sebelum melakukan aksi.
Sedangkan tahap Refleksi sebagai asesmen adalah melihat kembali proses yang telah terjadi.
Refleksi atau asesmen ini menjadi bagian yang sangat penting baik untuk pembimbing maupun untuk peserta didik dan untuk satuan pendidikan.
"Saya justru banyak mendapat inspirasi baru dari hasil diskusi dan sharing pengalaman bersama para guru. Betapa pentingnya memahami inti dari kata kunci P5 yaitu "Penguatan", yang maknanya membangun karakter itu harus dari perilakunya," tegas Lala.
Lala juga mengajak agar terus bergerak, bertransformasi untuk kemajuan Indonesia.
Seorang guru dari SD Miftahul Iman Ade Bunyamin sangat bersemangat mengikuti kegiatan kelas sharing ini.
Ia menilai Temu Pendidik Daerah 37 merupakan ajang terbuka untuk guru yang ingin sharing terhadap pengalaman praktik baik dari pemateri yang sangat menginspirasi.
"Hal menarik yang saya dapatkan hari ini ternyata kalaulah semua guru seperti Ibu Lala, anak-anak akan selalu bahagia di ruang kelasnya
Saya mendapatkan banyak sekali hal-hal baru apa yang belum saya ketahui tentang Kurikulum Merdeka, terutama P5 dan KSP terbaru," ungkapnya.
Senada Wiwin Nurhayati dari SDN 191 Babakan Surabaya kegiatan Temu Pendidik Daerah 37 sebagai kegiatan menarik dan inspiratif.
"Hal menarik yang saya dapatkan hari ini bahwa P5 dapat dilaksanakan dengan kontinyu, sederhana, sesuai kebutuhan murid, menarik dan menyenangkan," ujar Wiwin.
Sementara pengajar SDN 091 Cibeureum Anggun menyampaikan semangatnya dalam kegiatan ini.
"Hal menarik yang saya dapatkan hari ini adalah saya mendapatkan informasi terbaru mengenai kurikulum, selain itu menggali lebih dalam lagi terkait P5," ujar Anggun.
Komentar disampaikan juga guru SDN 036 Ujungberung yang menyebut kegiatan Temu Pendidik Daerah 37 sangat bermanfaat.
"Saya bisa bertemu rekan hebat dari negeri dan swasta yang banyak ide, terimaksih narasumber yang hebat dan pintar," ujarnya.
P5 merupakan projek besar membangun karakter pelajar Indonesia yang berbasis pada cara berpikir tumbuh (Growth Mindset).
Baca Juga: Mengenal Kurikulum Merdeka, Kurikulum dengan Tujuan Mulia Katanya!
Sesuai dengan namanya, P5 adalah projek pengembangan karakter pelajar Indonesia agar para pelajar menjadi pelajar yang menghidupi nilai-nilai Pancasila. Menjadi Pelajar Pancasila, itulah tujuan pelaksanaan P5 di dalam Kurikulum Merdeka. ***




