POJOKSATU.ID - Sebuah bangunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Sidoarjo yang ambruk, menjadi tanda tanya besar publik mengenai kontruksi bangunannya.
Pasalnya, ambruknya bangunan di Ponpes Sidoarjo tersebut menyebabkan ratusan santri tertimpa reruntuhan saat menunaikan solat.
Insiden di Ponpes yang ada di Sidoarjo pada Senin, 29 September 2025 ini, dikatakan oleh pihak BNPB sebagai bencana kegagalan teknologi karena diduga konstruksi beton tak memenuhi standar.
Baca Juga: Satresnarkoba Polres Karawang Tangkap Pengedar Tembakau Sintetis di Karawang Barat
Baru-baru ini, video yang diduga saat proses pengecoran berlangsung di Ponpes Sidoarjo itu beredar di media sosial yang diunggah akun Instagram @fitanulfitriyah pada hari Rabu, 1 Oktober 2025.
Dalam video berdurasi singkat itu, tampak ada sejumlah santri berada di atas diduga berniat membantu proses pengecoran.
Bahan untuk alas beton berupa bondek, yang di atasnya sudah dipasang konstruksi tulangan besi sebagai pengikat.
Baca Juga: Taspen Pastikan Mantan Menteri Dapat Pensiun dan Tunjangan Kesehatan Seumur Hidup
Namun, ada yang janggal dari perencanaan pengecoran tersebut, seorang netizen mengungkapkan adanya kesalahan.
Ia mengatakan di antara bondek itu ada sebuah lubang yang tersambung ke balok atau kolom gantung sebagai penyangga lantai beton.
Tujuannya diduga agar pengecoran dilakukan satu kali, sehingga bisa menghemat pompa untuk menaikkan material beton ke atas.
Baca Juga: Polres Karawang Perkuat Iman dan Mental Personel Lewat Binrohtal Rutin
"Padahal untuk pengecoran menggunakan bondek, balok harus dicor matang, kemudian barulah dicor plat lantainya, ini murni kegagalan struktur," tulis @bofayandi dalam unggahan di akun Instagram @fitanulfitriyah.
Jika dilakukan pengecoran sekaligus, maka lantai atau atap yang akan dicor, hanya mengandalkan tiang bambu atau kayu.
Menurutnya, perencanaan pengecoran ini murni kesalahan dari sisi konstruksi, seharusnya ada yang bertanggung jawab atas insiden ini.
Baca Juga: AKP M. Wasis Jabat Kapolsek Pedes, AKP Herwit Pimpin Sat Binmas Polres Karawang
Pasalnya, jumlah santri yang tertimpa reruntuhan mencapai ratusan, bahkan ada yang harus kehilangan nyawa.
Sementara itu, pengasuh Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Abdus Salam Mujib mengatakan insiden ini merupakan takdir Tuhan dan meminta semua pihak untuk bersabar.
Ia berharap semoga semuanya mendapat ganti yang lebih baik dari Tuhan atas insiden yang telah terjadi.
Selain itu, aktivitas di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo juga telah dihentikan sementara, hingga waktu yang belum diketahui.
Hingga hari Rabu malam, 1 Oktober 2025, tim SAR masih melakukan evakuasi terhadap santri yang terjebak reruntuhan.
Menurut data BNPB, masih ada 59 santri yang terjebak reruntuhan dan yang kehilangan nyawa bertambah menjadi 5 orang.
Tim SAR tak bisa menggunakan alat berat karena berisiko terhadap santri yang masih bertahan hidup di reruntuhan.***




