POJOKSATU.id, PURWAKARTA – Ada pergeseran anomali kerawanan bencana di Purwakarta beberapa tahun belakangan ini, hal itu dampak dari lemahnya kebijakan pemerintah terhadap lingkungan pasca ditinggalkan Dedi Mulyadi.
Akibat perubahan cuaca, beberapa bencana melanda Kabupaten Purwakarta. Lemahnya kebijakan yang diambil pemerintah daerah beberapa tahun ke belakang, berdampak terjadinya berbagai bencana.
Beberapa bencana itu seperti longsor yang terjadi dibeberapa titik, kemudian banjir yang selalu melanda saat hujan deras selalu terjadi dimana-mana.
Baca Juga: Di HUT Ke-51 PDIP, Megawati Ungkap Kekesalannya ke Para Elite yang Lupa Akar Rumput, Sindir Jokowi?
Menurut ketua Posko Perjuangan Rakyat (Pospera), Sutisna Sonjaya, akibat lemahnya kebijakan masalah kepedulian terhadap lingkungan tersebut akhirnya rakyat dirugikan.
“Barometernya kita lihat saat Kang Dedi Mulyadi memimpin Purwakarta, kebijakan yang diambilnya selalu tegas terhadap masalah lingkungan,” kata Sonjaya, memgawali pembicaraan kepada pojoksatu.id, Rabu (10/01) melalui sambungan seluller.
Masih menurut Sonjaya, perbandingannya kita lihat saat Kang Dedi Mulyadi menjadi Bupati, untuk masalah pertambangan ataupun galian C Bupati waktu itu bisa menekan sehingga meminimalisir kerusakan alam.
“Lihat sekarang, saat hujan lebat terjadi banjir dimana-mana itu akibat mudahnya pemerintah dalam mengambil kebijakan untuk memberikan izin perumahan-perumahan,” beber Sonjaya, memberikan contoh konkrit akibat terjadinya banjir.
Bandingkan dengan dulu saat jaman Bupati Dedi, masalah perizinan perumahan diperketat karena harus dikaji dulu, hal itu dilakukan untuk melihat lokasi yang akan dijadikan perumahan bakal berdampak terhadap lingkungan atau tidak.
“Kalau lahan yang akan dijadikan perumahan berdampak terhadap lingkungan, setau saya kang Dedi akan menolak memberikan perizinan,” tambah Sonjaya.
Baca Juga: Warga Temukan Jasad Perempuan Tergeletak di Pinggir Jalan Karawang
Tapi lihat sekarang, saya contohkan di Campaka wilayah yang sekarang dibangun beberapa perumahan, dulunya merupakan sawah teknis yang sangat hijau sepanjang mata memandang.
“Sekarang mulai padat dijadikan perumahan,”jelasnya.
Kemudian juga masalah bencana longsor, berulang kali saya lihat Kang Dedi selalu turun tangan memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak sembarangan menebang pohon.
Karena saat dirinya menjabat sebagai Bupati, kang Dedi sangat peduli terhadap pepohonan dan dilarang menebang pohon sembarangan.
“Dulu seingat saya, untuk melindungi pohon-pohon, setiap batangnya sampai dililit kain corak papan catur hitam dan putih,” Sonjaya mencontohkan bagaimana Dedi Mulyadi melindungi pepohonan di Purwakarta.
Pasca kepemimpinan ditinggalkan kang Dedi, saat ini mulai terasa dampaknya karena pemimpin selanjutnya tidak memiliki ketegasan dalam melindungi alam.
Baca Juga: Dua Tahun Berpisah, Lisa Bonet Resmi Gugat Cerai Jason Momoa
“Dampaknya sekarang ancur-ancuran, musim hujan kebanjiran, longsor dimana-mana saat musim panas terjadi kekeringan kemaru dimana-mana, yang pada akhirnya rakyat menjadi korban kesengsaraan akibat lemahnya kebijakan masalah terhadap lingkungan pasca Kang Dedi berhenti menjadi Bupati,” tutup Sonjaya panjang lebar.***




