POJOKSATU.id - Pada 20 September 1906, rakyat Bali memutuskan mengakhiri perlawanan mereka mengusir Belanda dari wilayahnya.

Kerusakan yang semakin meluas serta gugurnya seluruh keluarga istana, membuat mereka terpaksa meletakkan senjata.

Saat itu, Belanda pun keluar sebagai pemenang Puputan Badung.

Pasca perang, pemerintah kolonial segera membangun kontrol atas wilayah barat dan Selatan Bali. Mereka membangun politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Baca Juga: Berusia 250 Tahun, Rumah Joglo di Gunungkidul Ini Pernah Jadi Tempat Singgah Jenderal Soedirman

Dalam menjalankan kontrol, pemerintah kolonial mendirikan pemerintahan sementara di bekas wilayah Kerajaan Badung. Dan Puri Denpasar dipilih sebagai pusat pemerintahan sementara.

Puri Denpasar menjadi pertahanan terkuat Belanda di Bali.

Nama Denpasar cepat dikenal kalangan Belanda, terutama tentara yang ikut dalam pertempuran. Tidak hanya sebagai pusat pemerintahan kolonial, tetapi juga digunakan untuk menyebut wilayah bekas Kerajaan Badung.

Lalu, lama kelamaan Denpasar dikenal luas sebagai nama sebuah kota, menggantikan Badung.

Baca Juga: Masa Sulit yang Pernah Dialami Soeharto Sebelum Menjadi Prajurit Tentara dan Pemimpin Negara

Pada akhir 1906, diketahui bahwa Denpasar merupakan kota yang terdiri dari rumah-rumah penduduk dengan keadaan jalan yang kurang menunjang.

Laporan Van Geuns pada akhir 1906 merupakan keterangan pertama Denpasar sebagai nama sebuah kota.

Maka dari itu, Denpasar lahir sebagai kota pada 24 November 1906. Dan justru Belandalah yang memberikan julukan itu.

Selanjutnya, pemerintah Belanda membagi wilayah bekas kekuasaan Badung ke dalam 5 distrik, yaitu Distrik Kota Denpasar, Distrik Kesiman, Distrik Kuta, Distrik Abiansemal, dan Distrik Mengwi.

Hal itu untuk mempermudah pengaturan di tempat tersebut. Distrik Kota Denpasar menjadi pusat pemerintahan, dengan berbagai aktivitas seperti sosial, politik dan ekonomi.

Baca Juga: Kisah Perseteruan Gus Dur dan Soeharto, dari Tulisan, Ucapan Hingga Percobaan Memecah Belah NU

Pemerintahan Denpasar juga mengurusi wilayah yang cukup luas di Selatan Bali meliputi: Badung, Tabanan, Gianyar, Klungkung, dan Karangasem.

Lalu kemudian Belanda melakukan banyak pembenahan di seluruh wilayah Denpasar.

Pembangunan jalan, gedung-gedung pemerintahan, serta pusat perekonomian yang dikerjakan dalam kurun waktu yang singkat.

Hal ini untuk mendukung kegiatan para kolonialis di Denpasar dapat cepat berjalan.

Tidak hanya pembangunan di bidang formal, Belanda juga mendirikan permukiman, sekolah, pasar, dan museum.

Bahkan infrastruktur jalan dan jembatan yang menghubungkan banyak tempat pun mulai dibangun.

Berbagai sektor berkembang pesat di Bali, baik pembangunan pemukiman, rekreasi, fasilitas kesehatan, hingga perkantoran.

Lalu pada 1930-an dibangun pabrik minyak kelapa dan penggiling padi.

Lalu pada abad ke-19, Pantai Kuta diperkenalkan sebagai tempat baru dan sektor rekreasi, dan ramai dilalui kapal-kapal dagang.

Di Pantai Kuta terdapat berbagai hiburan, tempat menginap dan area bersantai. Pantai Kuta telan menjadi tempat orang-orang Eropa melepas penantnya.

Kehidupan di Kota Denpasar pun semakin ramai di berbagai sektor. Penduduk dari desa-desa sekitar mulai memasuki kawasan Denpasar.

Mereka membangun kehidupan baru, baik sebagai buruh, pedagang, hingga pembantu orang-orang eropa.

Bahkan perkembangan pembangunan di wilayah Denpasar berlanjut sampai akhir pemerintahan kolonial Belanda pada Maret 1942.***