POJOKSATU.id - Gunungkidul Yogyakarta memang terkenal dengan wisata pantai dan pemandangan yang indah. Namun daerah ini juga menyimpan warisan budaya.

Tak jarang, warisan budaya di kawasan Gunungkidul ini masih banyak terawat dengan baik, sampai saat ini.

Salah satu tempat yang memiliki cerita sejarah adalah rumah joglo yang berada di Jalan Gunungkidul Pracimantoro, Padukuhan Trengguno Kidul, RT 01, RW 12, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Ponjong, Gunungkidul, DI Yogyakarta.

Tentunya, rumah joglo ini berjarak puluhan kilo dari pusat Kota Yogyakarta.

Baca Juga: Hadiah Ratu Belanda dan Dibangun Tanpa Besi Penyangga, Jam Gadang Kini Jadi Ikon Kota Bukittinggi

Rumah ini seperti halnya joglo lainnya, terlihat biasa. Namun yang menjadi sejarah adalah rumah ini merupakan persinggahan Jendral Soedirman kala melawan penjajah Belanda.

Ternyata, tempat tersebut adalah rumah milik FA Suwardi yang saat ini sudah berusia 75 tahun. Ia tinggal di rumah tersebut bersama adik kandungnya benama Kartini yang berusia 69 tahun.

Kini rumah joglo persinggahan Jendral Soedirman tersebut sudah berusia sekitar 250 tahun.

Suasananya masih asri dengan pohon beringin dan beberapa tanaman yang ada didepannya membuat rumah joglo ini terasa sejuk. Seluruh dinding terbuat dari kayu jati, tak membuat wibawa rumah ini luntur.

Baca Juga: Kisah Perseteruan Gus Dur dan Soeharto, dari Tulisan, Ucapan Hingga Percobaan Memecah Belah NU

Bahkan, tak ada cat ataupun pernis untuk mengilapkan kayu berusia ratusan tahun ini, hanya dibiarkan warna asli yang tampak otentik.

Atap dengan genteng-genteng tradisional yang terbuat dari tanah liat juga masih tetap kokoh meski sudah ditempati selama 5 atau 6 generasi. Hanya terkadang diganti oleh genteng yang baru jika atap mulai bocor.

Lantainya terbuat dari batu putih tanpa semen membuat suasana jadul terpancar dari rumah itu.

Meskipun begitu rumah joglo ini sama sekali belum pernah di renovasi. Begitu pula perabot berbahan kayu di dalam rumah tersebut masih terawat.

Kursi tua berjejer rapi yang tampak ketika pertama kali memasuki bangunan. Di sisi barat ada tempat tidur tua dan beberapa set kursi, salah satunya model 'babon angrem' khas rumah Jawa. Sehingga keaslian dan keunikan rumah joglo ini sangat kental dengan budaya.

Baca Juga: Kisah Omar Dhani, Panglima Kesayangan Soekarno yang Jadi Pesakitan di Masa Soeharto

Menurut Suwardi, saat gempa Bantul 2006 rumah ini aman, hanya gentengnya yang jatuh.

Tak heran jika salah satu rumah joglo tertua di Jogja ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB), oleh pemerintah Kabupaten Gunungkidul pada 2018 silam.

Seperti tanda yang terdapat di depan rumah dengan tulisan "Bangunan Cagar Budaya, Rumah Tradisional Suwardi Berdasarkan keputusan surat Keputusan Bupati Gunungkidul Nomor: 434/KPTS/2018, menggunakan papan berwarna putih.

Menurut Suwardi, rumah joglo-nya ini dulunya menjadi tempat pertemuan para perangkat desa.

Bukan tanpa alasan, selain strategis karena berada di pinggir jalan raya, rumah joglo miliknya itu juga memiliki ruangan yang cukup luas.

Selain itu, almarhum bapak Suwardi dulunya adalah aparat desa, yang suka mengadakan pertemuan di Joglo ini setiap hari Sabtu. Karena luas dan dekat jalan jadi mudah ditemukan.

Di ruangan depan yang saat ini menjadi ruang tamu juga terdapat sejumlah foto keluarga yang terpajang di tembok sisi belakang.

Salah satu foto lawas milik pahlawan nasional Indonesia mencuri perhatian, yaitu foto Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto.

Pajangan bergambar pria berseragam hijau yang tampak gagah tersebut memang sejak dulu dipasang oleh orang tua Suwardi.

Pasalnya, Kolonel Sugiyono ternyata adalah om atau adik kandung dari mendiang ayah Suwardi.

Tak hanya itu saja, rumah joglo Suwardi ini juga memiliki sejarah yang cukup terkenal bagi masyarakat sekitar.

Suwardi mengungkapkan jika rumah joglo-nya pernah menjadi tempat singgah Jenderal Soedirman saat masa gerilyanya. Mengingat rute perang gerilya Soedirman saat itu lewat depan rumahnya.

Bahkan, kata Suwardi, saat itu Jenderal Soedirman membawa satu kursi di rumahnya untuk digunakan duduk di dalam tandu.

Menurutnya, kursi yang digunakan oleh Jenderal Soedirman tersebut berbentuk tinggi pada sandarannya.

Suwardi menjelaskan awal mula adanya rumah joglo miliknya tersebut. Ia mengungkapkan jika dulunya terdapat rumah limasan di lokasi yang saat ini berdiri rumah joglo. Namun rangka rumah limasan itu dijual.

Tapi karena kebutuhan, akhirnya kakek Suwardi pindah ke rumah joglo itu dari tempatnya di Trengguno Wetan, saat itu tahun 1959.

Berkat sejarah dan bangunannya yang masih otentik ini membuat banyak orang ingin membeli rumah joglo milik keponakan dari Kolonel Sugiyono itu.

Salah satunya adalah turis Amerika yang saat itu tak sengaja sedang bersepeda dan lewat depan rumahnya. Tiba-tiba turis itu berhenti mampir ke rumahnya dan bertanya apakah rumah joglonya dijual.

Namun, mereka menolaknya. Karena rumah tersebut sudah turun temurun maka dari itu mereka harus merawatnya dengan baik.

Selain itu, Kartini adik Suwardi, mengungkapkan jika area belakang rumahnya yang terlihat seperti bukit ternyata adalah makam keluarganya.

Itu lah yang menjadi salah satu alasan keluarganya tak ingin menjual joglo bersejarah yang kini ia tempati tersebut.***