POJOKSATU.id - Jika sedang berkunjung ke Sumatera Barat, sepertinya tak lengkap jika melewati Jam Gadang yang ada di Bukit Tinggi.
Menurut sejarah, Jam Gadang Bukittinggi didatangkan langsung dari Rotterdam dan digerakkan secara mekanik oleh mesin yang sama dengan mesin jam Big Ben di London.
Jam Gadang adalah sebutan bagi menara jam setinggi 26 meter yang berada di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat.
Jam Gadang menjadi ikon Bukittinggi yang berada di Jalan Istana Kelurahan Bukit Cangang, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi.
Baca Juga: KPU Beri Hak Suara Kepada 8.808 ODGJ di Sumut Pada Pemilu 2024
Jam Gadang merupakan salah satu monumen peninggalan pemerintah Hindia Belanda, saat ini usianya hampir satu abad.
Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris Fort de Kock sekarang berganti nama menjadi Kota Bukittinggi, pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Peletakan batu pertama dilakukan oleh putra sulung Rook Maker yang saat itu masih berusia enam tahun.
Baca Juga: Prabowo Subianto: Anak Cucu Dayak harus Medapatkan Pendidikan Sebaik-baiknya
Arsitektur Jam Gadang dirancang oleh orang Indonesia bernama Yazid Rajo Mangkuto.
Jam Gadang memiliki denah dasar persegi berukuran 13 x 4 meter, dengan tinggi 26 meter. Pada satu tingkat di bawah bagian paling atas, terdapat jam berukuran besar dengan diameter 80 cm di empat sisi luarnya.
Karena itu pula menara jam ini dinamakan Jam Gadang, istilah dalam Bahasa Minangkabau yang artinya jam besar.
Jam tersebut didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda, melalui Pelabuhan Teluk Bayur.
Baca Juga: Pemilu 2024 PKN Daftarkan 20 Nama Caleg untuk Raih Kursi DPRD Kabupaten Bekasi
Salah satu fakta unik Jam Gadang terletak pada mesin penggeraknya, yang hanya ada dua unit di dunia, yakni satu di Jam Gadang, dan satunya lagi digunakan untuk Big Ben di London, Inggris.
Selain itu, Jam Gadang memiliki lonceng yang permukaannya tertulis nama pabrik pembuat jam, Vortmann Recklinghausen.
Vortman adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortmann, sementara Recklinghausen adalah kota di Jerman tempat produksi mesin jam.
Konon, Jam Gadang dibangun tanpa besi penyangga ataupun adukan semen, hanya menggunakan campuran kapur, putih telur, dan pasir putih.
Total biaya pembangunan menara jam ini mencapai 3.000 gulden, yang saat ini setara lebih dari Rp 25 juta.
Dengan biaya fantastis.
Tidak heran Jam Gadang telah menjadi pusat perhatian sejak dibangun hingga sekarang. Karena itu pula, Jam Gadang dijadikan penanda atau markah tanah dan titik nol Kota Bukittinggi.
Sejak didirikan, bangunan Jam Gadang mengalami tiga kali perubahan dan penyesuaian pada bagian atapnya.
Pada awalnya, atap Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya.
Pada masa pendudukan Jepang, atap Jam Gadang diubah menjadi bentuk pagoda.
Setelah kemerdekaan, atap Jam Gadang kembali diubah menjadi bentuk gonjong atau atap pada rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang.
Baca Juga: Disebut Sebagai Pendekar Hukum, Jaringan Kiai Probolinggo dan Lumajang Dukung Ganjar-Mahfud
Perubahan terakhir dilakukan pada 2010 oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan dukungan Pemerintah Kota Bukittinggi dan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta.
Pada saat berita proklamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan di Bukittinggi, bendera merah putih untuk pertama kalinya dikibarkan di puncak Jam Gadang.
Hal itu pun setelah melalui pertentangan dengan pucuk pimpinan tentara Jepang.
Pemuda yang memimpin massa untuk menaikkan pertama kali Sang Saka Merah Putih di puncak Jam Gadang bernama Mara Karma.
pada malam pergantian tahun baru 2008 dan 2009, Jam Gadang sempat ditutup dengan dibalut kain marawa oleh Wali Kota Bukittinggi, Djufri.
Alasan penutupan untuk mengurangi kerumunan pengunjung di pelataran Jam Gadang yang berpotensi terjadinya tindak kriminal dan korban jiwa.
Pada malam tahun baru 2021, Jam Gadang kembali di tutup untuk mencegah kerumunan dan menghindari penyebaran virus covid-19.
Kini Jam Gadang telah dijadikan sebagai objek wisata dengan diperluasnya taman disekitarnya.
Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat baik pada hari kerja maupun pada hari libur. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sini. ***

