POJOKSATU.ID - Ketua Umum PSSI Erick Thohir kembali memantik optimisme publik sepak bola tanah air.
Ia menegaskan target besar yaitu Timnas Indonesia harus lolos ke Piala Dunia 2030.
Namun di tengah semangat itu, muncul pertanyaan klasik yang belum terjawab.
Apakah liga Indonesia sudah cukup sehat untuk menopang mimpi sebesar itu?
Baca Juga: Razia ASN Digelar Acak, Pegawai Nongkrong Saat Jam Kerja Terancam SP
Target tersebut datang tak lama setelah kegagalan Indonesia menembus Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Erick menyebut 2030 sebagai sasaran realistis dengan strategi pembinaan yang lebih terukur.
Termasuk memperkuat tim nasional usia muda dan memperbaiki sistem kompetisi.
Tapi di lapangan, kondisi liga yang masih carut-marut seolah menjadi batu sandungan serius.
Baca Juga: Program Pemutihan BPJS, Solusi Sosial atau Beban Keuangan Negara?
Liga 1 Indonesia memang berjalan dengan dukungan besar publik dan sponsor.
Tetapi dari sisi kualitas permainan, manajemen, hingga sistem penegakan regulasi, masih banyak catatan merah.
Masalah klasik seperti jadwal yang padat, wasit kontroversial, fasilitas stadion yang minim, hingga belum meratanya pembinaan pemain muda terus jadi sorotan.
Tidak sedikit klub yang masih bergantung pada pemain asing tanpa memberikan ruang cukup bagi talenta lokal.
Padahal, pembinaan berjenjang dan jam terbang pemain di kompetisi domestik merupakan pondasi utama agar Timnas memiliki skuad berkualitas dunia.
Keteraturan jadwal dan profesionalitas klub juga belum menyamai standar Asia, apalagi Eropa.
Liga kerap tertunda karena alasan teknis, penundaan izin keamanan, atau persoalan administratif klub yang seharusnya sudah terselesaikan di awal musim.
Erick Thohir telah menegaskan bahwa target Piala Dunia 2030 bukan sekadar mimpi kosong.
Baca Juga: Program Pemutihan BPJS, Solusi Sosial atau Beban Keuangan Negara?
Ia menilai momentum kemajuan sepak bola Indonesia sedang bagus.
Terutama setelah Timnas U-23 menembus semifinal Piala Asia U-23 dan ranking FIFA Garuda menembus posisi 120 besar.
Namun, sepak bola modern tidak bisa berdiri di atas prestasi timnas semata. Liga yang kuat adalah fondasi utama.
Negara-negara yang langganan tampil di Piala Dunia seperti Jepang, Korea Selatan, hingga Australia.
Membangun kekuatan timnas dari liga profesional yang terstruktur, disiplin, dan sehat secara finansial.
Indonesia sejauh ini baru memulai reformasi itu. PSSI memang telah mendorong perbaikan manajemen klub.
Seperti audit keuangan, hingga sertifikasi lisensi pelatih, namun pelaksanaannya di lapangan belum konsisten.
Dalam konteks ini, mimpi 2030 memang terdengar ambisius, tetapi tanpa reformasi liga yang total, ia akan tetap menjadi slogan yang manis di atas kertas.
Kondisi liga menjadi barometer sejauh mana Indonesia siap menghadapi kompetisi global.
Kualitas pertandingan, standar pelatih, dan manajemen klub menentukan mutu pemain yang akhirnya dipanggil ke tim nasional.
Sayangnya, beberapa klub masih bermasalah dalam hal gaji, manajemen, bahkan infrastruktur latihan.
Pemain-pemain muda yang berpotensi sering kali tidak berkembang karena minim kesempatan bermain di level senior.
Sebaliknya, pemain asing mendominasi peran penting di hampir setiap klub besar.
Baca Juga: Honorer Kabupaten Magelang Geruduk DPRD, Tuntut Diangkat Jadi PPPK Paruh Waktu 2025!
Kesenjangan antara pembinaan usia muda dan kompetisi profesional inilah yang membuat regenerasi Timnas berjalan lambat.
Meski banyak masalah, optimisme masih ada. Langkah-langkah PSSI di bawah Erick Thohir untuk menata ulang sistem kompetisi patut diapresiasi.
Beberapa program seperti reformasi wasit, peningkatan lisensi pelatih.
Serta dorongan untuk akademi klub wajib memiliki pembinaan usia muda, menjadi sinyal bahwa perubahan sedang berjalan.
Baca Juga: KJP Plus 2025 Gerbang Kesetaraan Pendidikan dan Investasi Sosial Jakarta
PSSI juga mulai menjajaki kerja sama dengan federasi luar negeri untuk pertukaran pelatih dan pemain muda.
Tujuannya jelas: menciptakan generasi emas yang bisa bersaing di level dunia.
Namun, semua langkah itu harus berjalan cepat dan konsisten.
Tanpa komitmen penuh dari klub, pemerintah daerah, dan sponsor, reformasi hanya akan berhenti di tataran wacana.
Sepak bola tidak bisa dibangun hanya dari ambisi federasi; ia butuh ekosistem sehat dari bawah ke atas.
Target Piala Dunia 2030 adalah mimpi besar yang membakar semangat banyak orang.
Namun, mimpi itu tidak akan berarti apa-apa tanpa fondasi yang kokoh.
Liga yang profesional, pembinaan usia muda yang serius, dan manajemen klub yang transparan adalah tiket utama menuju panggung dunia.
Indonesia punya potensi besar seperti suporter fanatik, talenta muda, dan dukungan pemerintah yang kuat.
Baca Juga: Mahfud MD Sindir Budi Arie! Pengkhianatan Etika Politik dan Manuver Kekuasaan
Tapi jalan menuju 2030 masih panjang dan berliku.
Jika liga tetap amburadul, maka Piala Dunia hanya akan menjadi cerita yang terus diulang setiap pergantian kepemimpinan PSSI.***

