POJOKSATU.id — Liga Champions Eropa musim 2024–2025 kian memanas. Inter Milan sudah memastikan satu tempat di final usai mendepak Barcelona.

Sementara satu tiket tersisa akan diperebutkan Paris Saint-Germain dan Arsenal yang bakal bentrok pada leg kedua di Paris.

Sebagai kompetisi klub paling populer sejagat, Liga Champions tak hanya menarik perhatian publik tapi juga mendatangkan gelontoran euro dan dolar ke pundi-pundi UEFA, badan sepak bola Eropa.

Namun, ke mana sebenarnya perginya semua pendapatan besar itu?

Banyak yang tak tahu bahwa UEFA bukan lembaga yang mencari keuntungan.

Sebaliknya, sebagai organisasi nirlaba, UEFA menjalankan model bisnis yang dirancang untuk memastikan pertumbuhan sepak bola di semua level di Benua Biru.

Mereka hanya menyisakan sedikit dana untuk operasional, sementara sisanya—lebih dari 97 persen—dikembalikan ke dunia sepak bola.

Baca Juga: SISA LAGA LIGA 1, Persib vs Barito Putera, Laga Tak Penting? JANGAN SALAH! Pelapis Unjuk Gigi, Jadi Ujian Penting ROTASI PEMAIN

Hal ini ditegaskan langsung oleh Presiden UEFA, Aleksander Čeferin.

“Jangan lupa bahwa lebih dari 97% pendapatan bersih kami kembali ke sepak bola, yang jelas tercermin dalam hasil nyata. Ini menegaskan jalur yang kami tetapkan untuk masa depan,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UEFA.

Klub-Klub Elite Dapat Jatah Terbesar, Tapi Tak Sendirian

Dalam siklus keuangan 2019/20 hingga 2022/23, lebih dari tiga perempat dari pendapatan UEFA diberikan kepada klub yang berlaga di kompetisi Eropa, baik Liga Champions, Liga Europa, Liga Konferensi, maupun Piala Super UEFA.

Sebagian besar dana itu berupa hadiah uang atas prestasi mereka di lapangan.

Namun bukan hanya klub elite yang menikmati kucuran dana UEFA.

Klub-klub yang gagal menembus fase utama kompetisi Eropa juga mendapat jatah lewat skema solidaritas.

Baca Juga: PERTARUNGAN PENGHUNI Dasar Klasemen, Laskar Mahesa Jenar Terpuruk, Elang Jawa Terbang Lagi? Jatidiri Jadi Saksi Pertarungan ZONA NERAKA

Dana ini dialokasikan khusus untuk investasi di sepak bola usia muda dan pengembangan komunitas lokal.

Sebagai gambaran, sejak musim 1999/2000, pembayaran solidaritas untuk klub pria yang tak ambil bagian di turnamen UEFA meningkat drastis, dari €32,9 juta menjadi €172,2 juta.

Sementara itu, untuk pertama kalinya pada musim 2021/22, klub sepak bola wanita juga mulai menerima dana solidaritas sebagai bagian dari reformasi Liga Champions Wanita.

Program HatTrick: Mesin Penggerak di Balik Proyek Nasional

Tak hanya pada level klub, UEFA juga menyuntikkan dana besar ke federasi sepak bola nasional melalui program unggulan bernama HatTrick.

Sejak diluncurkan pada 2004, program ini sudah menyalurkan lebih dari setengah pendapatan dari setiap EURO ke proyek-proyek pengembangan sepak bola nasional.

Untuk periode 2019/20–2022/23, sekitar 8 persen pendapatan bersih UEFA dialokasikan untuk program HatTrick serta untuk mendanai berbagai kompetisi dan proyek lainnya seperti sepak bola wanita, futsal, sepak bola usia muda, dan pelatihan wasit.

Baca Juga: Hasil Pertandingan Taipe Open 2025, GANDA CAMPURAN BERPESTA, Tunggal Putra Tuan Rumah KENA COMEBACK Ubed

Sepak Bola Wanita Tak Lagi Dianaktirikan

Komitmen UEFA terhadap sepak bola wanita makin diperkuat dalam beberapa tahun terakhir.

Selain memperbarui format Liga Champions Wanita, UEFA juga mengenalkan pembayaran solidaritas kepada klub-klub wanita, sebuah langkah maju yang menunjukkan perhatian setara bagi pengembangan sepak bola perempuan di seluruh penjuru Eropa.

Distribusi yang Menjangkau Akar Rumput

Dari elite hingga akar rumput, dari pemain top hingga pelatih dan wasit muda, dari klub besar hingga komunitas lokal—model distribusi UEFA membuktikan bahwa kompetisi papan atas seperti Liga Champions bukan hanya soal trofi, tetapi juga penggerak utama perkembangan sepak bola secara menyeluruh.

Melalui program seperti HatTrick dan skema solidaritas, UEFA mengukuhkan perannya bukan hanya sebagai penyelenggara turnamen, tapi juga sebagai pilar yang menopang masa depan sepak bola di Eropa.***