POJOKSATU.ID - Di antara hiruk-pikuk pameran Karya Kreatif Jawa Barat (Sunda Karsa) 2025, dua perempuan berdiri di balik meja penuh anyaman bambu berwarna gading.
Mereka bukan sekadar menjual kerajinan tangan, tapi sedang menunjukkan bagaimana tradisi bisa menjelma menjadi inovasi.
Di tangan mereka, anyaman dapur sederhana berubah menjadi simbol gaya hidup berkelanjutan yang elegan.
Studio Dapur, begitu mereka menamai usahanya, menjadi contoh bagaimana kriya tradisional bisa beradaptasi dengan selera masa kini tanpa kehilangan akar lokalnya.
Baca Juga: Diumumkan Mulai Hari Ini? CEK Daftar Nama Peserta yang Lulus PPG Guru Tertentu Tahap 2 Tahun 2025
Melalui desain fungsional dan ramah lingkungan, mereka tak hanya menghidupkan kembali anyaman bambu yang dulu identik dengan dapur nenek, tetapi juga membuka jalan bagi ekonomi sirkular berbasis budaya.
Di balik setiap produk, tersimpan pesan tentang keberlanjutan: menjaga alam, memberdayakan pengrajin, dan mengajarkan bahwa inovasi sejati sering lahir dari kearifan lama yang dimaknai ulang.
Stan UMKM asal Tasikmalaya tersebut merupakan sebuah usaha sosial yang berhasil mengangkat kembali gengsi para pengrajin bambu, profesi yang dulu kerap dipandang sebelah mata, kini tampil sejajar dengan jenama desain kontemporer.
Di Desa Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat adalah tempat terlahirnya Studio Dapur sekaligus dimana para pengrajin bambu berkumpul.
Bagi warga sekitar bambu bukan sekadar tanaman melainkan denyut nadi komunitas, warisan turun-temurun, sekaligus saksi bisu tantangan zaman akan persaingan produk plastik.
Mega, Owner Studio Dapur kepada pojoksatu.id bercerita, sebelum tahun 2016 hampir semua produk anyaman bambu di Singaparna berhenti pada bentuk-bentuk besek dan boboko tradisional.
Baca Juga: Wali Kota Tangsel Hadiri Serah Terima Bantuan Permodalan untuk Pelaku UMKM
Permintaan menurun, pasar bergeser ke wadah plastik yang lebih praktis. Para pengrajin sempat kehilangan arah, keterampilan yang diwariskan turun-temurun seolah tak lagi punya tempat di zaman serba cepat.
Ditambah, pengrajin bambu hanya berasal dari generasi tua karena anak mudanya sempat menganggap profesi tersebut bukanlah pilihan yang ideal.
Namun kehadiran Studio Dapur perlahan mengubah cara pandang itu. Lewat pendekatan yang lebih modern dan rasa bangga terhadap kearifan lokal, generasi muda mulai kembali menengok bambu, bukan sekadar sebagai bahan anyaman, tetapi sebagai simbol kreativitas dan peluang ekonomi yang berkelanjutan.
Baca Juga: Wali Kota Tegaskan: Tak Ada Kenaikan PBB Tangsel Tahun 2026
Mereka tak lagi hanya mewarisi tradisi, tetapi juga menafsirkannya ulang menjadi bagian dari gerakan ekonomi kreatif yang berpihak pada lingkungan.
Kini, Studio Dapur sudah memiliki 30 pengrajin muda dengan usia cukup inklusif, dan secara berkala terus bertambah.
Keberhasilan ini tidak hanya diukur dari jumlah pengrajin, tetapi juga dari prinsip keberlanjutan (sustainable).
Baca Juga: Edukasi di Sekolah: Polisi Tekankan Bahaya Bullying kepada Pelajar Pamulang
"Saya tidak ingin warisan identitas kita kalah bersaing dengan produk plastik, jadi salah satu caranya dengan merevolusi desain. Para pengrajin bambu di Studio Dapur tidak sekedar membuat boboko dan besek tradisional melainkan produk gaya hidup modern," ucap Mega kepada pojoksatu.id.
Mega menyebutkan setelah melakukan revolusi besar-besaran terhadap desain permintaan secara bertahap meningkat, dan membuat pendapatan para pengrajin terus bertumbuh.
"Kami melihat adanya potensi besar sekaligus sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Untuk itu, pada tahun 2024 Studio Dapur mendaftarkan diri sebagai binaan dari Bank Indonesia," kata Mega.
Baca Juga: Hari Sumpah Pemuda ke-97, Pilar Ajak Generasi Muda Tangsel Terus Menyalakan Semangat Kebangsaan
Menurut Mega, Studio Dapur mengalami titik balik setelah menjadi binaan Bank Indonesia diantaranya mendapatkan pembekalan untuk membuka pasar dalam negeri dan ekspor.
"Kemitraan ini membuka peluang yang sebelumnya sulit dijangkau. Seperti diberikan banyak akses untuk ikut berbagai event seperti KKJ karena bisa ketemu dengan buyer dan membukakan jejaring sesama UMKM binaan Bank Indonesia wilayah Bandung," jelasnya.
Baca Juga: Cahaya Adharta
Kini, Studio Dapur berhasil memiliki existing buyer di Korea Selatan, Jepang, Singapura serta pernah ekspor ke AS, Kanada, dan Belgia bahkan meraih sejumlah penghargaan salah satunya Best Design Award dari Kementerian Perdagangan untuk produk inovatif tudung saji modern.
Meskipun produk Studio Dapur telah menembus pasar internasional, perjuangan belum berhenti.
Mega mengakui, salah satu tantangan terbesar adalah edukasi pasar, bagaimana mengubah cara pandang masyarakat yang masih membandingkan bambu dengan plastik hanya dari sisi harga dan efisiensi.
Baca Juga: Dorong Ekonomi Lokal, Pemkot Tangsel Bantu UMKM dengan Modal dan Sertifikasi Halal Gratis
Namun bagi Mega, tantangan itu justru menjadi ruang pembelajaran. Ia dan timnya terus mencari cara kreatif untuk menunjukkan bahwa produk bambu bukan sekadar wadah, melainkan representasi gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan bernilai sosial tinggi.
Ia menambahkan, Studio Dapur memilih menjawab tantangan bukan dengan promosi besar-besaran, melainkan lewat kualitas dan konsistensi.
Kini mereka menghadirkan lebih dari 90 jenis produk yang dirancang untuk menyatu dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari perlengkapan rumah tangga, dekorasi ruangan, hingga suvenir khas dengan sentuhan lokal.
Rentang harganya pun beragam, dari Rp40.000 hingga Rp400.000, sehingga tetap terjangkau tanpa mengorbankan nilai estetika.
Menariknya, setiap pembelian disertai panduan perawatan bambu dalam bentuk book guide, sebagai ajakan agar konsumen turut menjaga keberlanjutan bahan alami ini.
Hal ini sejalan dengan penandatanganan kerja sama ekspor yang difasilitasi Bank Indonesia antara UMKM binaan lainnya (seperti Java Halu Coffee) dengan buyer dari Jepang dan Malaysia dalam rangkaian Sunda Karsa Fest 2025.
Baca Juga: Semangat Pemuda Berkobar, Disperkimta Tangsel Gelar Upacara Sumpah Pemuda ke-97
Dukungan Bank Indonesia Jabar terbukti sinkron dengan kebutuhan UMKM kreatif yang ingin "naik kelas."
Sejalan dengan visi Bank Indonesia yang disampaikan dalam Sunda Karsa Fest 2025, tidak hanya memberikan modal, tetapi juga akses, pembekalan, dan jaringan.
Baca Juga: Disperindag Tangsel Gandeng Bea Cukai Cegah Peredaran Rokok Ilegal di Pasar Ciputat
Asisten Deputi Gubernur Bank Indonesia, Doni P. Joewono, dalam keynote speech Sunda Karsa Fest 2025, menegaskan Bank Indonesia senantiasa mendukung penguatan UMKM sebagai pilar ekonomi daerah dan nasional.
"Karya Kreatif Jawa Barat (KKJ) sendiri telah terbukti berhasil mencetak UMKM kelas atas hingga menembus pasar global," kata Doni.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Muhamad Nur, menyebut Sunda Karsa Fest 2025 sebagai representasi sinergi ekonomi kerakyatan dan penguatan budaya lokal.
Baca Juga: Jabar Catat Realisasi Belanja APBD Tertinggi Nasional, Bukti Anggaran Tak Mengendap
Fokus pada pendekatan "lembur diurus, kota ditata" menjadi payung bagi UMKM dalam mendukung penguatan desa wisata dan pelestarian budaya.
Melalui sinergi budaya, digitalisasi, dan dukungan pembiayaan yang diusung Bank Indonesia, kisah Studio Dapur adalah representasi nyata Transformasi Ekonomi Daerah Berbasis Kearifan Lokal.
Selaras dengan itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Jawa Barat, Bapak H. Sumasna mengatakan, Sejalan dengan arahan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) Jawa Barat memiliki kekayaan estetika Bahasa, kuliner, busana dan seni budaya, yang jika dikelola berkelanjutan dan dipadukan dengan teknologi, berpotensi menempatkan Jawa Barat di kancah global tanpa bergantung pada eksploitasi sumber daya alam.
Baca Juga: Berasa di Swiss, Lima Tempat Camping di Garut yang Estetik, Bikin Ngga Mau Pulang
Hal ini tersebut dengan Studio Dapur yang mengambil bambu dari kaki gunung di desa setempat.
"Bambu itu ramah lingkungan, tumbuhnya cepat, dan menjaga lingkungan. Kalau ditebang secara berkala, karbonnya itu tetap kita keep di produk bambunya," tutup Mega, menunjukkan bahwa kearifan lokal sejalan dengan isu lingkungan global.
Salah seorang pengunjung KKJ (Sunda Karsa) 2015, Dita Mumtazah mengatakan baru pertamakali melihat produk anyaman bambu dengan kualitas yang begitu bagus seperti yang ditampilkan oleh Studio Dapur.
Baca Juga: Pemkot Tangsel Matangkan Strategi Perluas Ruang Terbuka Huijau Hingga 20 Persen
“Ini harganya termasuk murah sih, terus bagus dan unik banget. Biasanya kita nyeduh kopi kan pakai saringannya gitu, nah ternyata ini ada dari bambu mau pakainya juga jadi sayang sebenarnya saking estetik juga,” ungkap Dita kepada pojoksatu.id. ***



