POJOKSATU.id - Selama bertahun-tahun, aplikasi pesan berlomba membuat komunikasi semakin cepat.

Pesan dikirim dalam hitungan detik, notifikasi datang tanpa henti, dan balasan seolah harus diberikan saat itu juga.

Namun, Generasi Z mulai melirik arah yang berbeda.

Di tengah budaya serba cepat, muncul tren komunikasi yang justru mengajak pengguna untuk menunggu.

Fenomena tersebut dikenal sebagai slow communication.

Baca Juga: Kontribusi Danantara ke Negara Naik, Purbaya Berharap Penerimaan Pemerintah Makin Gemuk

Konsepnya sederhana, tetapi cukup unik: pesan tidak langsung sampai kepada penerima.

Salah satu aplikasi yang menarik perhatian adalah Carrier Pidge.

Pesan yang dikirim pengguna digambarkan dibawa oleh burung merpati virtual yang harus "terbang" menuju penerima.

Kecepatan burung virtual itu rata-rata mencapai 177 kilometer per jam.

Jika jarak pengirim dan penerima dekat, pesan mungkin tiba hanya dalam beberapa detik.

Baca Juga: Purbaya Sebut Ekonomi Harus Tumbuh 6,7 Persen agar Fresh Graduate Terserap Kerja

Nah, untuk pesan yang dikirim lintas negara atau bahkan antarbenua, pengguna harus menunggu lebih lama hingga akhirnya bisa dibaca.

Ada pula risiko yang membuat pengalaman berkirim pesan semakin tidak biasa.

Sekitar 0,2 persen pesan berpotensi hilang di tengah perjalanan dan tidak pernah sampai kepada penerima.

Alih-alih dianggap sebagai kekurangan, sistem tersebut justru menjadi bagian dari daya tariknya.

Pengguna bisa melihat pergerakan burung virtual di peta dan menunggu hingga pesan tiba.

Baca Juga: Korban Banjir Bandang Nepal dan Tibet, 750 Orang Tewas, 3.044 Masih Hilang, Banyak Warga Asing

Proses menunggu yang biasanya dianggap menjengkelkan malah berubah menjadi pengalaman tersendiri.

Aplikasi serupa bernama Roost juga menunjukkan bahwa konsep komunikasi lambat bukan sekadar keisengan.

Dalam beberapa minggu setelah diluncurkan, aplikasi tersebut telah mengumpulkan sekitar 300.000 pengguna.

Menariknya, salah satu pengembang Carrier Pidge, Noah Iarrobino, bahkan menggambarkan aplikasinya sebagai sesuatu yang tidak praktis.

Berbeda dengan aplikasi chat konvensional, pesan tidak lagi sekadar muncul lalu tenggelam di antara puluhan notifikasi lain.

Baca Juga: Diduga Ada SLHS Palsu di Beberapa SPPG, Ribuan Anak Terancam Kesehatannya APH Jangan Hanya Diam Harus Bertindak

Ada waktu tunggu yang membuat sebuah pesan terasa lebih dinanti.

Fenomena ini juga dapat dibaca sebagai respons terhadap kelelahan komunikasi digital.

Selama ini, kecepatan sering dianggap sebagai ukuran terbaik dalam teknologi komunikasi.

Pesan harus terkirim cepat, dibaca cepat, lalu dibalas secepat mungkin.

Kondisi tersebut tanpa disadari menciptakan tekanan tersendiri.

Notifikasi yang belum dibalas dapat menimbulkan rasa bersalah, sementara percakapan yang terus berjalan membuat seseorang merasa harus selalu tersedia.

Melalui konsep slow communication, tekanan itu seolah diperlambat.

Baca Juga: Siapa Ketua Umum PBNU Terpilih dari Muktamar 2026 di Jombang, Hasilnya Hari Ini, Ini Kata Gus Ipul

Pengirim memiliki waktu untuk memikirkan kata-kata sebelum pesan benar-benar tiba.

Di sisi lain, penerima tidak selalu dituntut memberikan respons dalam hitungan detik.

Pesan pun kembali terasa lebih personal karena tidak sekadar menjadi respons spontan terhadap notifikasi.

Tren ini memperlihatkan sebuah ironi menarik di tengah perkembangan teknologi.

Ketika semua aplikasi berusaha memangkas waktu tunggu, sebagian anak muda justru mencari pengalaman komunikasi yang lebih lambat.

Mungkin, yang dicari bukan teknologi yang lebih canggih.

Bisa jadi, mereka hanya ingin mengambil kembali satu hal yang semakin langka di dunia digital yaitu waktu.***