POJOKSATU.id — Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kembali digelar di Kalimantan Timur dan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai salah satu upaya menghadapi kondisi kering sekaligus mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam operasi tersebut, material berupa garam atau natrium klorida (NaCl) disebarkan ke sejumlah awan yang dinilai memiliki potensi untuk menghasilkan hujan.
Pada 22 Agustus 2026, sekitar 800 kilogram garam dilaporkan digunakan untuk penyemaian awan di sejumlah titik yang berpotensi mengalami pertumbuhan awan.
Namun, bagaimana sebenarnya garam yang ditaburkan dari pesawat dapat membantu menghasilkan hujan?
Baca Juga: Beasiswa S3 Swiss 2027-2028 Dibuka, Ada Tunjangan Rp54 Juta per Bulan
Proses OMC tidak berarti garam mampu menciptakan hujan dari kondisi atmosfer yang benar-benar kering.
Garam justru digunakan untuk membantu mempercepat proses alami pembentukan hujan pada awan yang sejak awal sudah memiliki kandungan air dan kondisi atmosfer yang mendukung.
Sebelum penyemaian dilakukan, tim OMC terlebih dahulu menentukan awan yang menjadi sasaran.
Berbagai data meteorologi digunakan untuk melihat perkembangan awan dan kondisi atmosfer, termasuk radar cuaca, citra satelit, radiosonde, arah angin, serta karakteristik awan.
Baca Juga: Rusun MBR Manggarai Punya 4 Tipe Unit, Cek Batas Penghasilan Calon Penghuni
Artinya, pesawat tidak menaburkan garam secara sembarangan ke seluruh wilayah.
Awan yang dipilih harus memiliki karakteristik tertentu agar proses penyemaian memiliki peluang untuk meningkatkan pembentukan hujan.
Setelah target ditentukan, material garam kemudian disebarkan ke dalam atau di sekitar awan yang dituju.
Partikel natrium klorida tersebut dapat berfungsi sebagai inti kondensasi awan atau *cloud condensation nuclei*.
Secara sederhana, partikel garam menjadi tempat bagi uap air di atmosfer untuk berkumpul dan mengalami kondensasi sehingga membentuk butiran air.
Butiran air yang terbentuk kemudian dapat berkembang menjadi semakin besar.
Baca Juga: Andrew Garfield Ingin Tinggalkan Dunia Akting, Pilih Hidup Sederhana dan Jauh dari Sorotan
Di dalam awan, butiran-butiran tersebut dapat saling bertabrakan dan bergabung sehingga ukurannya terus bertambah.
Ketika ukurannya semakin besar, butiran air menjadi lebih berat sehingga gravitasi membuatnya bergerak turun.
Jika kondisi atmosfer tetap mendukung, butiran air tersebut akhirnya mencapai permukaan bumi sebagai hujan.
Dengan demikian, prosesnya dapat digambarkan secara sederhana, yakni awan yang mengandung air disemai dengan garam, kemudian partikel garam membantu proses kondensasi, butiran air tumbuh dan bergabung, hingga akhirnya menjadi cukup berat untuk jatuh sebagai hujan.
Meski demikian, OMC tidak bisa digunakan untuk menciptakan hujan kapan saja dan di mana saja.
Apabila tidak terdapat awan dengan kandungan air yang memadai, penyemaian garam tidak otomatis menghasilkan hujan.
Keberhasilan operasi sangat bergantung pada kondisi atmosfer, jenis dan perkembangan awan, arah angin, serta waktu pelaksanaan penyemaian.
Untuk wilayah Kaltim dan IKN, pelaksanaan OMC diharapkan dapat membantu meningkatkan curah hujan sehingga kondisi tanah dan lingkungan menjadi lebih basah.
Baca Juga: Video Asusila Berciuman di Kantor Ternyata Kepala PBJ Setda Sumbar, Sudah Ajukan Surat Mundur
Tambahan curah hujan tersebut juga diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan air sekaligus mengurangi kondisi kering yang dapat meningkatkan risiko karhutla.
Hal lain yang perlu dipahami adalah hujan yang turun setelah pelaksanaan OMC tidak selalu berarti seluruhnya dihasilkan oleh garam.
Hujan tetap merupakan hasil dari proses alami di atmosfer, sedangkan OMC berupaya memanfaatkan dan mengoptimalkan awan yang memang sudah memiliki potensi untuk menghasilkan hujan.***




