POJOKSATU.id — Satelit merupakan benda buatan manusia yang dirancang untuk mengorbit Bumi sambil menjalankan berbagai fungsi, mulai dari komunikasi, navigasi, pemantauan cuaca, hingga pengamatan permukaan Bumi.
Selama berada di orbit, satelit mampu menerima, memproses, dan mengirimkan kembali data atau sinyal ke berbagai wilayah di dunia. Berkat teknologi ini, masyarakat dapat menikmati layanan seperti internet, siaran televisi, sistem GPS, hingga prakiraan cuaca yang akurat.
Sebelum dapat beroperasi, satelit harus diluncurkan menggunakan roket menuju ketinggian tertentu sesuai dengan orbit yang telah direncanakan.
Baca Juga: Peluang Usaha Rumahan untuk Ibu Rumah Tangga yang Menjanjikan dan Mudah Dimulai
Setelah mencapai orbit, satelit bergerak dengan kecepatan sangat tinggi sehingga gaya gravitasi Bumi dan kecepatan geraknya berada dalam kondisi seimbang.
Akibatnya, satelit terus mengelilingi Bumi tanpa jatuh ke permukaannya, meskipun pada dasarnya selalu mengalami tarikan gravitasi.
Agar dapat bekerja secara terus-menerus selama bertahun-tahun, sebagian besar satelit modern memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi utama.
Baca Juga: Cara Melatih Motorik Anak di Rumah dengan Barang yang Mudah Ditemukan
Panel tersebut mengubah sinar Matahari menjadi listrik yang digunakan untuk mengoperasikan komputer, antena, sensor, dan berbagai perangkat elektronik lainnya.
Selain itu, satelit juga dilengkapi baterai yang menyimpan energi sehingga tetap dapat berfungsi ketika berada di sisi Bumi yang tidak terkena cahaya Matahari.
Cara kerja satelit bergantung pada tujuan pembuatannya.
Satelit komunikasi bertugas menerima sinyal radio dari stasiun bumi, kemudian memperkuat dan memancarkannya kembali ke wilayah lain sehingga komunikasi jarak jauh dapat berlangsung dengan lancar.
Baca Juga: Kematian Jubir IKN Buat Kaget, Keluarga Ungkap Mereka Sempat Doa Bersama Malam Sebelumnya
Satelit cuaca mengamati kondisi atmosfer dengan memotret awan, badai, dan perubahan suhu untuk membantu penyusunan prakiraan cuaca.
Sementara itu, satelit navigasi seperti GPS secara terus-menerus memancarkan sinyal waktu yang sangat presisi agar perangkat penerima dapat menentukan lokasi pengguna secara akurat.
Ada pula satelit pengamatan Bumi yang menggunakan kamera dan sensor beresolusi tinggi untuk memantau kondisi daratan, lautan, hingga perubahan lingkungan.
Semua informasi yang dikumpulkan satelit kemudian dikirim kembali ke Bumi melalui gelombang radio menuju stasiun penerima.
Baca Juga: Cara Menanam Cabai di Rumah agar Berbuah Banyak, Mudah untuk Pemula
Data tersebut selanjutnya diolah menjadi berbagai layanan yang dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti ramalan cuaca, peta digital, siaran televisi, layanan internet satelit, hingga sistem navigasi kendaraan dan ponsel.
Meskipun mengorbit secara mandiri, posisi satelit tetap harus dikendalikan agar tidak bergeser dari jalurnya.
Untuk itu, satelit dilengkapi mesin pendorong kecil atau thruster yang digunakan melakukan penyesuaian orbit.
Koreksi posisi ini diperlukan karena orbit satelit dapat berubah akibat pengaruh gravitasi Bulan dan Matahari maupun hambatan atmosfer, terutama pada satelit yang berada di orbit rendah.
Baca Juga: Apa Itu Job Crafting? Kenali Pengertian, Jenis, Manfaat, dan Contohnya di Dunia Kerja
Secara umum, satelit ditempatkan pada tiga jenis orbit utama.
Orbit rendah Bumi atau Low Earth Orbit (LEO) berada pada ketinggian sekitar 160 hingga 2.000 kilometer dan banyak digunakan untuk satelit pengamatan Bumi serta konstelasi internet karena memiliki latensi yang rendah.
Di atasnya terdapat Medium Earth Orbit (MEO) dengan ketinggian sekitar 2.000 hingga 35.786 kilometer yang umumnya dimanfaatkan oleh satelit navigasi seperti GPS.
Sementara itu, Geostationary Orbit (GEO) berada pada ketinggian sekitar 35.786 kilometer di atas garis khatulistiwa.
Baca Juga: Sedih, Tangisan Bocah Perempuan di Bali Ratapi Jenazah Ayahnya yang Dituduh Maling Ayam Aduan
Pada orbit ini, satelit tampak tetap berada di satu titik jika dilihat dari permukaan Bumi sehingga sangat cocok digunakan untuk siaran televisi dan layanan komunikasi.
Untuk memudahkan pemahaman, satelit komunikasi dapat dianalogikan sebagai menara pemancar yang ditempatkan di luar angkasa.
Ketika sebuah telepon atau stasiun bumi mengirimkan sinyal, satelit akan menerimanya, memperkuatnya, lalu memancarkannya kembali ke wilayah tujuan.
Antena penerima di Bumi kemudian menangkap sinyal tersebut sehingga komunikasi dapat berlangsung meskipun pengirim dan penerima berada di benua yang berbeda.
Melalui mekanisme tersebut, satelit mampu mendukung berbagai aktivitas modern yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Mulai dari menentukan lokasi melalui GPS, mengakses internet, menonton siaran televisi, hingga memperoleh informasi cuaca, semuanya bergantung pada kemampuan satelit mengorbit Bumi, memanfaatkan energi Matahari, mengolah informasi, dan mengirimkan data kembali ke permukaan Bumi secara cepat dan akurat.***




