POJOKSATU.id — Memasuki masa kuliah kerap membuat calon mahasiswa baru mulai mempertimbangkan berbagai kebutuhan penunjang belajar, termasuk soal kepemilikan laptop.
Tidak sedikit maba yang masih bertanya, apakah perangkat ini benar-benar dibutuhkan untuk menjalani perkuliahan?
Jawabannya dapat berbeda-beda, bergantung pada program studi yang dipilih dan pola pembelajaran masing-masing mahasiswa.
Meski demikian, di tengah sistem pendidikan yang semakin berbasis teknologi, laptop kini menjadi salah satu perangkat penting untuk menunjang aktivitas akademik sehari-hari.
Baca Juga: Dewas Minta Soliditas Pegawai PERUMDAM Tirta Tarum Terus Dijaga
Keberadaan laptop dinilai membantu mahasiswa dalam berbagai keperluan perkuliahan, mulai dari menyelesaikan tugas, menyusun bahan presentasi, mengikuti kelas daring, mencari referensi ilmiah, hingga mengerjakan tugas akhir atau skripsi.
Oleh karena itu, bagi sebagian besar mahasiswa, laptop bukan lagi sekadar alat tambahan, melainkan sudah menjadi kebutuhan penunjang belajar.
Pada sejumlah jurusan tertentu, laptop bahkan menjadi perangkat yang hampir wajib dimiliki.
Baca Juga: SIM Keliling Jakarta Hari Ini Selasa 26 Mei 2026, Cek 5 Lokasi, Syarat dan Biaya Perpanjangan
Mahasiswa di bidang teknik informatika, desain grafis, arsitektur, statistika, maupun komunikasi digital umumnya membutuhkan laptop dengan kemampuan yang lebih tinggi karena harus menjalankan berbagai aplikasi atau perangkat lunak khusus.
Program-program tersebut biasanya memerlukan spesifikasi tertentu agar dapat berjalan optimal selama proses perkuliahan.
Berbeda halnya dengan mahasiswa jurusan yang lebih banyak berkutat pada aktivitas membaca, menulis, atau riset berbasis literatur.
Meski laptop tetap memiliki peran penting, kebutuhan spesifikasinya biasanya tidak setinggi jurusan yang mengandalkan software berat.
Perangkat dengan kemampuan standar umumnya sudah cukup untuk mendukung kegiatan akademik sehari-hari.
Meski laptop penting, mahasiswa baru tidak harus langsung membeli perangkat dengan harga mahal.
Hal yang lebih utama ialah memilih laptop yang sesuai dengan kebutuhan kuliah sekaligus kondisi keuangan.
Baca Juga: Wisata Gunung Bromo Ditutup Total, Catat Jadwal Penutupan Saat Yadnya Kasada 2026
Membeli laptop dengan spesifikasi terlalu tinggi tanpa kebutuhan jelas justru dapat membuat pengeluaran menjadi lebih besar, sedangkan memilih perangkat yang terlalu rendah berisiko cepat tidak memadai untuk kebutuhan belajar.
Sebelum membeli laptop, mahasiswa baru perlu memahami kebutuhan jurusannya terlebih dahulu.
Program studi seperti desain grafis, editing video, maupun coding biasanya membutuhkan perangkat dengan performa lebih tinggi dibanding jurusan sosial, pendidikan, atau humaniora.
Baca Juga: Samsung Jual HP Refurbished Lebih Murah, Apa Itu dan Apakah Aman Dibeli?
Untuk jurusan berbasis desain dan teknologi, laptop dengan RAM minimal 16 GB, prosesor kelas menengah ke atas, kapasitas penyimpanan besar berbasis SSD, serta dukungan grafis yang baik menjadi pilihan yang lebih aman.
Sementara itu, bagi mahasiswa jurusan umum seperti hukum, pendidikan, sastra, maupun ekonomi, laptop dengan RAM 8 GB dan penyimpanan SSD umumnya sudah cukup untuk mendukung aktivitas mengetik, membuat presentasi, riset, serta mengikuti pembelajaran daring.
Selain spesifikasi utama, jenis penyimpanan juga perlu menjadi perhatian.
Baca Juga: Tanda Ekonomi Buruk, Hasil Polling: 56,48 Persen Cari Kerja Susah, 42,84 Persen Harga-harga Naik
Mahasiswa disarankan memilih laptop dengan SSD dibanding HDD karena mampu memberikan performa lebih cepat.
Laptop dengan SSD biasanya lebih responsif saat dinyalakan, membuka aplikasi, maupun menjalankan beberapa pekerjaan sekaligus.
Untuk kebutuhan perkuliahan, kapasitas minimal 256 GB dinilai cukup agar penyimpanan file tetap lega.
Faktor daya tahan baterai juga tidak kalah penting.
Aktivitas mahasiswa yang sering berpindah ruang kelas, belajar di perpustakaan, hingga mengerjakan tugas di luar rumah membuat laptop dengan baterai tahan lama menjadi pilihan yang lebih praktis.
Dengan begitu, mahasiswa tidak selalu bergantung pada sumber listrik atau colokan saat beraktivitas.
Di sisi lain, calon mahasiswa juga tidak disarankan terlalu terpaku pada nama merek tertentu.
Banyak orang langsung menjadikan merek sebagai pertimbangan utama, padahal spesifikasi perangkat jauh lebih menentukan kenyamanan penggunaan.
Sebelum membeli, penting untuk membandingkan kemampuan prosesor, kapasitas RAM, jenis penyimpanan, hingga kualitas layar agar laptop benar-benar sesuai kebutuhan.
Baca Juga: Honda Community Visit Astra Honda Dream Cup 2026 Ramaikan Serunya Balapan di Tasikmalaya
Ukuran dan bobot laptop juga patut diperhitungkan. Laptop dengan ukuran terlalu besar atau terlalu berat berpotensi merepotkan ketika harus dibawa ke kampus setiap hari.
Oleh karena itu, ukuran layar sekitar 13 hingga 14 inci sering dianggap ideal karena lebih ringan, mudah dibawa, tetapi tetap nyaman digunakan untuk mengetik dan belajar.
Tak kalah penting, mahasiswa baru juga perlu memastikan ketersediaan garansi dan layanan servis resmi sebelum membeli laptop.
Baca Juga: Sasar Kapal Perang dan Peluncuran Rudal, AS Serang Pelabuhan Bandar Abbas di Iran Selatan
Keberadaan pusat layanan yang mudah dijangkau dapat membantu apabila sewaktu-waktu perangkat mengalami masalah teknis.
Lantas, apakah mahasiswa baru wajib memiliki laptop sejak awal kuliah? Jawabannya tidak selalu.
Beberapa mahasiswa masih dapat memanfaatkan fasilitas komputer kampus, jasa rental komputer, atau menggunakan tablet sebagai solusi sementara.
Namun, memiliki laptop pribadi tetap dinilai lebih praktis karena mempermudah proses belajar, terutama ketika tugas mulai menumpuk atau perkuliahan berlangsung melalui platform digital.
Bagi mahasiswa baru dengan anggaran terbatas, laptop kelas entry-level maupun perangkat refurbished berkualitas dapat menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan.
Selama spesifikasinya masih mampu menunjang kebutuhan akademik dalam beberapa tahun ke depan, pilihan tersebut tetap dapat membantu mahasiswa menjalani perkuliahan dengan nyaman.***




