POJOKSATU.id - Tic merupakan gerakan atau ucapan yang muncul secara tiba-tiba, cepat, berulang, dan sulit dikendalikan oleh penderitanya.
Kondisi ini bisa berupa gerakan sederhana seperti mengedipkan mata, hingga suara atau ucapan tertentu yang keluar tanpa disadari.
Meski dapat terjadi pada orang dewasa, tic umumnya mulai muncul sejak masa kanak-kanak, terutama pada usia 5 hingga 12 tahun.
Pada banyak kasus, kondisi ini bersifat sementara dan bisa hilang dalam waktu beberapa bulan.
Baca Juga: Mualem Desak Pemerintah Pusat Keruk Muara Sungai, Nelayan Aceh Terancam
Namun, jika berlangsung lebih dari satu tahun, tic dapat menjadi tanda kondisi medis tertentu seperti sindrom Tourette.
Secara umum, tic terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu motor tics dan vocal tics.
Motor tics ditandai dengan gerakan tubuh berulang seperti mengangkat bahu, menggelengkan kepala, atau mengedipkan mata.
Sementara itu, vocal tics berupa suara atau ucapan seperti berdeham, mendengus, hingga mengulang kata-kata tertentu.
Penyebab tic diduga berkaitan dengan gangguan pada bagian otak yang mengatur gerakan serta ketidakseimbangan zat kimia otak, khususnya dopamin.
Baca Juga: Kunker Wapres Gibran di Papua Aman, Antusiasme Warga Jadi Bukti Tolak Radikalisme
Kondisi ini juga lebih sering ditemukan pada individu dengan gangguan tertentu seperti ADHD, OCD, autisme, hingga gangguan belajar.
Gejala tic bisa semakin muncul ketika seseorang mengalami kelelahan, stres, cemas, atau bahkan saat terlalu bersemangat.
Beberapa penderita juga merasakan sensasi tidak nyaman seperti kesemutan sebelum tic muncul, yang akan mereda setelah gerakan atau suara tersebut terjadi.
Berdasarkan durasinya, tic dibagi menjadi tiga jenis, yaitu tic sementara (kurang dari satu tahun), tic kronis (lebih dari satu tahun), dan sindrom Tourette yang ditandai kombinasi gerakan dan suara kompleks dalam jangka panjang.
Baca Juga: Gaji Dosen Bisa Setara UMR? Sidang MK Bongkar Nasib Kampus yang Lama Dipendam
Jika tic mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, memengaruhi kondisi emosional, atau disertai gejala lain seperti depresi dan gangguan perilaku, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
Diagnosis biasanya dilakukan melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, hingga tes penunjang seperti CT scan atau MRI bila diperlukan.
Penanganan tic bergantung pada tingkat keparahan. Pada kasus ringan, tic dapat hilang dengan sendirinya.
Namun, pada kondisi tertentu, terapi perilaku menjadi pilihan utama untuk membantu penderita mengontrol respons terhadap tic.
Selain itu, dokter juga dapat memberikan obat-obatan untuk menyeimbangkan zat kimia di otak.
Perawatan mandiri juga penting dilakukan, seperti mengelola stres, cukup istirahat, serta tidak menahan tic secara paksa karena justru dapat memperburuk kondisi.
Memahami tic bukan hanya soal mengenali gejalanya, tetapi juga tentang membangun empati terhadap penderitanya.
Dengan dukungan yang tepat, tic bukanlah penghalang untuk menjalani hidup yang produktif dan bermakna. ***




