POJOKSATU.id - Umat Islam segera memasuki sepuluh hari kedua bulan suci Ramadan. Fase pertengahan ini sering dikenal sebagai masa penuh ampunan atau maghfirah.
Momentum ini menjadi waktu yang sangat penting bagi setiap Muslim untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri terhadap kualitas ibadah yang telah dijalankan sejak awal Ramadan.
Sepuluh hari pertama yang telah dilalui seharusnya menjadi bahan refleksi untuk memperbaiki ibadah pada fase pertengahan bulan suci ini.
Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syu'abul Iman dan Ibnu Khuzaimah menerangkan sebuah hadis yang cukup dikenal tentang pembagian fase Ramadan.
"Awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan (maghfirah), sedangkan akhirnya adalah terbebas dari neraka".
Baca Juga: Alasan Doa Qunut Dibaca di Pertengahan Ramadan, Buya Yahya Jelaskan Hikmahnya
Sebagian ulama memang menilai hadis tersebut berstatus dhaif atau lemah. Namun para ulama juga menjelaskan bahwa hadis dhaif masih dapat diamalkan dalam konteks fadhoil ‘amal atau keutamaan beramal.
Terlepas dari perbedaan penilaian terhadap hadis tersebut, yang pasti seluruh hari dalam bulan Ramadan adalah waktu penuh keberkahan dan ampunan dari Allah SWT.
Karena itu, memasuki fase pertengahan Ramadan seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk semakin meningkatkan kualitas ibadah.
Peringatan Imam Al-Ghazali tentang Orang yang Merugi di Ramadan
Peringatan penting mengenai kualitas puasa pernah disampaikan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin Juz I halaman 235.
Baca Juga: Slickorps Ventures Dirikan Kantor Pusat di Cayman, Perkuat Strategi Kepatuhan Internasional
Beliau menjelaskan bahwa tidak semua orang yang berpuasa benar-benar mendapatkan pahala dari puasanya.
"Banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus. Ada yang mengatakan ia adalah orang yang berbuka dengan sesuatu yang haram.
Ada yang mengatakan, ia adalah orang yang menahan diri dari makanan yang halal dan berbuka dengan (memakan) daging orang lain sebab gibah (menggunjing) dan gibah itu adalah haram.
Dan ada yang mengatakan, ia adalah orang yang tidak menjaga anggota badannya dari macam-macam dosa".
Penjelasan ini menjadi pengingat bahwa puasa tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga.
Puasa juga menuntut setiap Muslim untuk menjaga sikap, ucapan, dan perbuatan agar tidak terjerumus dalam berbagai dosa yang dapat merusak nilai ibadah.
Baca Juga: Hilangkan Background Foto Secara Mudah dengan Penghilang Background Foto yang Cepat dan Akurat
Lima Perkara yang Dapat Menghapus Pahala Puasa
Rasulullah SAW juga memberikan peringatan tegas terkait hal ini.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
Rubba shāimin ḥaẓẓuhu min ṣiyāmihil jū‘u wal ‘aṭasyu
Artinya: "Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja." (HR Ath-Thabrani)
Hadis ini menggambarkan bahwa seseorang bisa saja menjalankan puasa secara lahiriah, namun tidak memperoleh pahala karena perilakunya sendiri.
Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda bahwa terdapat lima perbuatan yang dapat menghapus pahala puasa.
Kelima perkara tersebut adalah sebagai berikut.
-
Berbohong (dusta)
Berbohong merupakan perbuatan tercela yang sangat dilarang dalam Islam. Kebiasaan berdusta dapat merusak nilai kejujuran sekaligus mengurangi keberkahan ibadah yang dijalankan.
-
Ghibah atau Menggunjing
Ghibah adalah membicarakan keburukan orang lain di belakangnya. Perbuatan ini sering dianggap sepele, padahal termasuk dosa besar yang dapat merusak pahala puasa.
-
Namimah atau Mengadu Domba
Namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada pihak lain dengan tujuan memicu konflik atau permusuhan. Perilaku ini sangat berbahaya karena dapat merusak hubungan antar sesama.
-
Bersumpah Palsu
Menggunakan sumpah atas nama Allah untuk menutupi kebohongan atau kepentingan pribadi merupakan dosa besar yang sangat dikecam dalam ajaran Islam.
-
Memandang Lawan Jenis dengan Syahwat
Menjaga pandangan juga merupakan bagian penting dari kesempurnaan ibadah puasa. Pandangan yang disertai syahwat dapat merusak kesucian hati dan mengurangi nilai ibadah.
Kelima perkara tersebut sering kali dianggap sebagai kesalahan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, jika dibiarkan terus terjadi, perbuatan tersebut dapat merontokkan pahala puasa yang telah dijalankan sepanjang hari.
Memasuki sepuluh hari kedua Ramadan, umat Islam diingatkan untuk semakin berhati-hati dalam menjaga perilaku, ucapan, serta niat dalam beribadah.
Baca Juga: Gibran Tinjau Pelatihan AI dan Robotik di Ponpes Baitul Arqom, Dorong Santri Melek Teknologi
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan juga tentang mendidik diri agar mampu mengendalikan hawa nafsu dan memperbaiki akhlak.
Jika fase pertengahan ini dimanfaatkan dengan baik untuk memperbaiki diri, maka seorang Muslim memiliki peluang besar untuk menyambut sepuluh malam terakhir Ramadan dengan hati yang lebih bersih serta harapan memperoleh ampunan dari Allah SWT. ***




