POJOKSATU.ID - Mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam berbuka puasa bukan sekadar menjalankan tradisi, melainkan bentuk ketaatan yang membawa keberkahan sekaligus manfaat bagi kesehatan tubuh.
Urutan pertama yang sangat dianjurkan adalah menyegerakan berbuka sesaat setelah azan Magrib berkumandang.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa umatnya akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka tidak menunda-nunda waktu berbuka.
Hal ini menjadi pengingat agar kita tidak membiarkan tubuh berada dalam kondisi lemas terlalu lama setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Baca Juga: 10 Resep Es Buah Segar Kekinian untuk Jualan atau Sajian Keluarga Berbuka Puasa Ramadhan
Langkah kedua yang menjadi inti dari sunnah ini adalah memilih menu awal yang tepat, yaitu kurma basah (ruthab).
Jika tidak menemukannya, Rasulullah SAW menyarankan untuk mengonsumsi kurma kering (tamr), dan jika keduanya tidak tersedia, maka cukup dengan beberapa teguk air putih.
Pilihan ini secara medis sangat cerdas, karena kandungan gula alami pada kurma memberikan lonjakan energi instan yang dibutuhkan otak.
Sementara air putih berfungsi untuk menghidrasi kembali sel-sel tubuh yang kering tanpa membebani sistem pencernaan secara mendadak.
Baca Juga: Hukum Puasa bagi Pekerja Berat Saat Ramadan, Ini Penjelasan Fikihnya
Setelah membatalkan puasa dengan makanan ringan tersebut, urutan berikutnya adalah membaca doa berbuka puasa.
Rasulullah SAW mengajarkan doa sebagai bentuk syukur, salah satunya yang populer adalah: "Dzahabaz zhama'u wabtallatil 'uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah" (Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah).
Membaca doa setelah mencicipi sedikit makanan atau minuman ini mencerminkan rasa syukur yang tulus atas nikmat kekuatan yang diberikan untuk menyelesaikan ibadah puasa hari tersebut.
Urutan terakhir yang sering terlupakan namun sangat krusial adalah melaksanakan salat Magrib terlebih dahulu sebelum beralih ke makan besar.
Rasulullah SAW memberikan teladan untuk mendahulukan ibadah wajib ini agar kondisi perut tidak terlalu begah atau mengantuk saat bersujud.
Dengan memberi jeda antara takjil dan makan berat, sistem pencernaan memiliki waktu untuk "pemanasan".
Pola ini menjaga agar kita tetap ringan dalam beribadah dan terhindar dari sifat berlebih-lebihan dalam mengonsumsi makanan, sesuai dengan esensi puasa itu sendiri.***




