POJOKSATU.id - Menjelang Ramadhan, tak sedikit ibu menyusui yang ragu, bolehkah tetap berpuasa?

Kekhawatiran paling sering muncul adalah soal produksi ASI dan dampaknya bagi tumbuh kembang si Kecil.

Nah, faktanya ibu menyusui boleh saja berpuasa, meski tidak diwajibkan bila kondisi tubuh tidak memungkinkan.

Secara umum, ibu yang berpuasa tetap dapat memproduksi ASI seperti biasa.

Mengurangi jumlah kalori harian ternyata tidak serta-merta menurunkan produksi ASI.

Artinya, ibu masih bisa menyusui bayi seperti biasa selama berpuasa dan bayi pun tidak otomatis terdampak buruk.

Baca Juga: Guru Non ASN Bertanya-Tanya Soal THR 2026, Apakah Termasuk Penerima? Ini Penjelasan Regulasi dan Skenario yang Mungkin Terjadi

Namun, puasa memang bisa memengaruhi kandungan zat gizi mikro dalam ASI.

Melansir Baby Centre, perubahan kecil bisa terjadi, terutama pada kadar vitamin dan mineral.

Bahkan, sebuah studi menunjukkan kadar seng, magnesium, dan kalium pada ibu menyusui dapat menurun selama bulan Ramadhan.

Karena itu, pemenuhan gizi saat sahur dan berbuka jadi kunci utama, ya.

Di sisi lain, puasa juga punya manfaat. Dalam jurnal Nutrition Review disebutkan bahwa puasa dapat membantu menurunkan berat badan hingga 9 persen dan mengurangi lemak tubuh secara signifikan.

Jadi, selain ibadah, ada potensi manfaat kesehatan juga, asalkan dilakukan dengan tepat.

Lalu, kapan ibu menyusui boleh puasa? Keputusan ini perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh ibu dan kesehatan bayi.

Baca Juga: Tes Urine AKBP Didik Putra Negatif tapi Hasil Tes Rambut Positif Narkoba, Bagaimana dengan Istrinya

Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi sangat disarankan agar puasa tetap aman tanpa mengurangi kualitas dan kuantitas ASI.

Berikut 6 tips puasa aman dan lancar bagi ibu menyusui:

1. Jangan lewatkan sahur

Saat berpuasa, tubuh tetap memproduksi ASI dari cadangan energi terakhir yang didapatkan saat sahur.

Jadi, jangan sampai melewatkan makan sahur, ya. Ini penting untuk menjaga energi dan kelancaran produksi ASI sepanjang hari.

2. Konsumsi makanan bergizi seimbang

Bukan sekadar kenyang, nutrisi harus terpenuhi.

Baca Juga: Idulfitri 2026, BGN Tetap Salurkan MBG Meski Libur, Dibagikan Sekaligus dalam Paket Bundling

Pastikan menu sahur dan berbuka mengandung protein seperti daging, ayam, ikan, telur, atau kacang-kacangan; makanan berpati seperti nasi atau roti; sayur dan buah; serta susu atau produk olahannya.

Bila perlu, konsumsi suplemen vitamin sesuai anjuran dokter.

3. Perbanyak minum air putih

Ibu menyusui disarankan minum minimal delapan gelas air per hari.

Tingkatkan asupan cairan sejak dua hari sebelum mulai puasa agar tubuh tetap terhidrasi.

Bisa juga dari jus, susu, atau makanan berkuah dan hindari kafein seperti kopi, teh berlebihan, soda, apalagi alkohol.

4. Kurangi aktivitas fisik

Baca Juga: Kemenag Usulkan 630.000 Formasi PPPK 2026 Lewat Skema Afirmasi, Guru Swasta Bersiap-Siap!

Cuaca panas dan aktivitas berat bisa memicu dehidrasi yang berisiko menurunkan suplai ASI.

Sebisa mungkin kurangi aktivitas berat dan perbanyak istirahat. Aktivitas yang membutuhkan energi ekstra sebaiknya dilakukan sebelum memasuki bulan puasa.

5. Kenali kemampuan tubuh

Jangan memaksakan diri. Bila merasa pusing, sangat lemas, haus ekstrem, urine berwarna kuning pekat, bibir dan mata kering, atau sakit kepala, itu bisa jadi tanda dehidrasi.

Jika kondisi memburuk, sebaiknya batalkan puasa dan konsultasikan ke dokter.

6. Perhatikan kondisi bayi

Selain ibu, kondisi bayi juga wajib diperhatikan.

Baca Juga: Doa Awal Ramadhan 1447 H, Amalan Menyambut Bulan Suci Penuh Berkah

Waspadai tanda-tanda bayi kurang cairan atau kurang ASI seperti popok tetap kering, urine kuning gelap, tidak ada air mata saat menangis, bagian kepala tampak cekung, tampak tidak puas setelah menyusu, tangan dan kaki dingin, berat badan tidak bertambah, atau bayi gelisah.

Jika muncul tanda-tanda tersebut, segera konsultasi ke tenaga medis.

Puasa bagi ibu menyusui bukan hal yang mustahil.

Dengan persiapan matang, asupan gizi cukup, dan pemantauan kondisi ibu serta bayi, ibadah tetap bisa dijalankan dengan aman.

Yang terpenting, jangan memaksakan diri. Sebab menjaga kesehatan diri dan si Kecil juga bagian dari amanah yang tak kalah mulia.***