POJOKSATU.id - Bulan Ramadan selalu menjadi waktu yang dinanti setiap tahunnya.
Selain bernilai ibadah, Ramadan juga identik dengan perubahan aktivitas harian, mulai dari jam tidur hingga pola makan.
Di sisi lain, aktivitas yang cenderung lebih padat kerap memengaruhi jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi selama berpuasa.
Jika tidak dijaga dengan baik, perubahan ini dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.
Padahal, puasa sejatinya bisa dijalani dengan aman dan menyehatkan apabila pola makan serta kebersihan makanan tetap diperhatikan.
Baca Juga: Sejarah UM, Kampus Legendaris di Malang yang Bertransformasi Jadi PTN-BH
Selama Ramadan, seseorang mengalami perubahan pola makan karena harus menahan lapar dan haus sejak fajar hingga matahari terbenam.
Kondisi ini sebenarnya tidak menjadi masalah bila jenis makanan yang dikonsumsi tepat dan kebersihannya terjaga.
Namun, tidak dapat dipungkiri, berbagai makanan khas Ramadan yang menggoda selera sering kali sulit dihindari.
Kembali lagi, jika pola makan dapat dikontrol dengan baik, seperti makan teratur saat sahur dan berbuka dengan porsi yang cukup serta memperhatikan kebersihan makanan, maka keluhan kesehatan umumnya tidak akan muncul.
Sayangnya, hal ini tidak selalu mudah dilakukan, sehingga risiko penyakit tertentu meningkat selama bulan puasa.
Penyakit yang Umum Terjadi Saat Puasa
Perubahan jam makan selama Ramadan membuat tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi, terutama pada fase awal puasa.
Agar tidak menimbulkan masalah, sangat penting untuk segera berbuka saat waktunya tiba dan memilih jenis makanan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Beberapa penyakit berikut ini diketahui cukup sering muncul selama bulan Ramadan:
1. Gastritis atau Maag
Salah satu gangguan kesehatan yang paling sering ditemukan saat puasa adalah gastritis, terutama pada orang yang memiliki riwayat sakit maag sebelumnya.
Baca Juga: Setelah Ramai Soal BPJS, DPR dan Pemerintah Sepakat PBI Dibayar 3 Bulan agar Layanan Tak Terhenti
Risiko akan meningkat jika seseorang sering terlambat berbuka atau melewatkan waktu makan sahur.
Pemilihan makanan saat berbuka juga sangat berpengaruh. Konsumsi makanan yang terlalu asam, pedas, atau berlemak sebaiknya dihindari, terutama ketika perut masih kosong.
Begitu pula dengan minuman yang terlalu asam, karena dapat memicu iritasi lambung.
2. Sembelit
Menjelang waktu berbuka, berbagai jajanan kerap bermunculan dan sangat menggoda untuk dikonsumsi setelah seharian berpuasa.
Namun, banyak di antaranya memiliki kandungan serat yang rendah.
Kurangnya asupan serat dari sayur dan buah menjadi salah satu penyebab utama sembelit selama Ramadan.
Kondisi ini diperparah dengan rendahnya pemenuhan kebutuhan cairan harian, sehingga kerja sistem pencernaan menjadi tidak optimal.
3. Dehidrasi
Selama berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan cairan dalam waktu yang cukup lama.
Saat berbuka, fokus sering kali tertuju pada makanan, sehingga kebutuhan cairan harian justru terabaikan. Akibatnya, risiko dehidrasi meningkat.
Kebutuhan cairan orang dewasa rata-rata sekitar 2 liter atau 8 gelas per hari.
Selama Ramadan, kebutuhan ini bisa dibagi dengan minum 2 gelas saat berbuka, 2 gelas sebelum tidur, 2 gelas saat bangun malam, dan 2 gelas saat sahur.
Namun, kebutuhan cairan bisa lebih tinggi pada kondisi tertentu, seperti saat sakit, banyak beraktivitas di luar ruangan, atau terpapar panas berlebih.
Sebaliknya, bagi penderita penyakit tertentu seperti gagal jantung atau gagal ginjal, asupan cairan justru harus dibatasi sesuai anjuran dokter.
Karena itu, konsultasi dengan tenaga medis sangat disarankan.
4. Hipoglikemia
Hipoglikemia atau kondisi gula darah rendah juga kerap terjadi saat puasa. Hal ini disebabkan oleh rendahnya asupan makanan dan minuman yang menjadi sumber energi selama berjam-jam.
Untuk mencegah kondisi ini, pemilihan menu sahur dan berbuka menjadi sangat penting.
Makanan yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, dan serat dapat membantu menjaga kestabilan gula darah sepanjang hari.
5. Sakit Kepala
Keluhan lain yang sering dirasakan saat puasa adalah sakit kepala. Penyebabnya beragam, mulai dari kurangnya asupan gula, dehidrasi, hingga kurang istirahat.
Selain memperhatikan jenis asupan makanan dan minuman, istirahat yang cukup juga menjadi kunci.
Selama Ramadan, agenda sosial seperti buka bersama atau sahur bersama sering kali padat. Oleh karena itu, penting untuk memilih aktivitas yang tidak mengganggu jadwal makan dan waktu tidur. ***




