POJOKSATU.id - Keterlambatan bicara atau speech delay pada anak merupakan salah satu tantangan yang kerap dihadapi orang tua.
Kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kurangnya interaksi verbal dan stimulasi bahasa sejak bayi, hingga adanya kondisi medis tertentu seperti gangguan pendengaran atau gangguan perkembangan.
Anak yang mengalami speech delay umumnya menunjukkan tanda tidak berceloteh pada usia sekitar 15 bulan hingga belum mampu berbicara jelas saat memasuki usia 2 tahun.
Speech delay terjadi ketika kemampuan bicara dan bahasa anak berkembang lebih lambat dibandingkan anak seusianya.
Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan anak dalam mengucapkan suara, membentuk kata, hingga mengekspresikan keinginan dan perasaannya secara jelas.
Gejala Speech Delay
Gejala keterlambatan bicara dapat berbeda pada setiap anak, tergantung usia dan tingkat keterlambatannya.
Baca Juga: Usai Terima SK, Segini Gaji Minimal PPPK Paruh Waktu Sanggau Menurut Pemda
Namun secara umum, beberapa tanda yang sering muncul antara lain:
Tidak berceloteh (babbling) pada usia 15 bulan
Tidak berbicara pada usia 2 tahun
Tidak mampu mengucapkan kalimat pendek pada usia 3 tahun
Kesulitan mengikuti instruksi sederhana
Pengucapan atau artikulasi kurang jelas
Kesulitan menyusun kata menjadi kalimat
Sering menghilangkan kata dalam kalimat
Baca Juga: Mengenal Bullying dan Cara Efektif Mencegahnya di Lingkungan Sekolah
Penyebab Speech Delay pada Anak
Gangguan Pendengaran
Pendengaran berperan besar dalam perkembangan bicara. Anak yang mengalami gangguan pendengaran akan kesulitan mendengar, meniru, dan memahami bunyi serta kata-kata. Akibatnya, kemampuan bicara pun terhambat. Deteksi dini dan penggunaan alat bantu dengar atau terapi pendengaran dapat membantu mengatasi kondisi ini.
Kondisi Medis Saat di Kandungan dan Baru Lahir
Infeksi selama kehamilan, paparan zat berbahaya, atau komplikasi persalinan dapat memengaruhi perkembangan otak dan sistem saraf bayi. Dampaknya, kemampuan bicara dan bahasa anak bisa ikut terganggu.
Kurang Stimulasi
Anak membutuhkan paparan bahasa secara konsisten melalui interaksi, percakapan, dan permainan. Lingkungan yang minim komunikasi dapat membuat anak kekurangan kesempatan belajar berbicara, sehingga berisiko mengalami speech delay.
Masalah Struktur Mulut dan Fungsi Oromotor
Kelainan pada lidah, bibir, langit-langit, atau otot wajah dapat menghambat pembentukan bunyi dan kata. Kondisi ini sering memerlukan terapi wicara atau terapi fisik untuk membantu anak mengembangkan kemampuan bicara dengan lebih baik.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Guncang Kemenkeu, Rotasi Besar-Besaran Sentuh 36 Pejabat, Mayoritas dari Bea Cukai
Riwayat Trauma Kepala, Kejang, atau Radang Otak
Cedera kepala atau gangguan neurologis tertentu dapat memengaruhi area otak yang berperan dalam bahasa dan komunikasi. Hal ini bisa menyebabkan penurunan atau keterlambatan kemampuan bicara.
Masalah Neurologis
Gangguan seperti cerebral palsy, epilepsi, atau gangguan neuromuskular dapat memengaruhi kontrol otot yang digunakan untuk berbicara. Meski demikian, dengan terapi yang tepat, banyak anak tetap dapat mengalami kemajuan signifikan.
Riwayat Keluarga
Anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat gangguan bicara, disleksia, atau keterlambatan bahasa berisiko lebih tinggi mengalami speech delay. Faktor genetik dapat memengaruhi perkembangan bahasa anak.
Mengenali gejala dan penyebab speech delay sejak dini sangat penting agar anak dapat segera memperoleh intervensi yang sesuai.
Dengan pendampingan, stimulasi yang tepat, serta dukungan dari tenaga profesional, anak memiliki peluang besar untuk berkembang optimal dan mencapai kemampuan bicara sesuai usianya.***




