POJOKSATU.id — Dalam keseharian, banyak orang yang tanpa disadari berinteraksi dengan pribadi manipulatif.

Bentuk manipulasi ini jarang dilakukan secara terang-terangan.

Sebaliknya, ia hadir melalui pilihan kata, sikap tertentu, hingga tekanan emosional yang tampak sepele namun berdampak besar.

Baca Juga: Truk TNI Tabrak 2 Polisi Hingga Tewas di Tugu 2 Cisarua, Kodam Siliwangi Sampaikan Belasungkawa

Situasi tersebut kerap membuat korban merasa bersalah tanpa sebab yang jelas, meragukan penilaian diri sendiri, bahkan perlahan kehilangan rasa percaya diri.

Pada dasarnya, orang manipulatif memiliki tujuan untuk menguasai keadaan atau mengendalikan orang lain demi kepentingan pribadi.

Perilaku semacam ini tidak terbatas pada satu lingkungan saja.

Baca Juga: Menunggu Pengumuman PPPK Kemenham 2025? Pelamar Wajib Tahu 3 Hal Krusial Ini!

Manipulasi bisa muncul dalam lingkar pertemanan, relasi keluarga, hingga dunia kerja, sehingga siapa pun berpotensi mengalaminya.

Salah satu ciri paling sering ditemui adalah kebiasaan memelintir fakta.

Individu manipulatif mampu membuat orang lain mempertanyakan ingatan dan perasaannya sendiri, sebuah kondisi yang dikenal sebagai gaslighting.

Baca Juga: Gaji Pegawai SPPG Program Makan Bergizi Gratis Jadi Sorotan, Disebut di Atas Rp2 Juta

Akibatnya, korban merasa kebingungan dan terus menerus menyalahkan diri, meski sebenarnya berada di posisi yang benar.

Selain memutarbalikkan keadaan, orang manipulatif juga gemar memposisikan diri sebagai korban.

Ketika mendapat kritik atau diminta bertanggung jawab, mereka justru menampilkan diri sebagai pihak yang paling tersakiti.

Baca Juga: Akhir Januari 2026 Bakal Jadi Masa Penentu Nasib Pelamar PPPK di Kementerian HAM

Strategi ini efektif untuk memancing rasa kasihan sekaligus mengalihkan kesalahan dari diri mereka sendiri.

Tekanan emosional melalui rasa bersalah dan ketakutan juga menjadi ciri lain yang kerap digunakan.

Ungkapan seperti “kalau kamu benar-benar peduli, kamu pasti menuruti keinginanku” sering dijadikan alat untuk memaksakan kehendak.

Baca Juga: Dokumen Rahasia Terungkap! Thomas Djiwandono Bongkar Detik-Detik Mundur dari Gerindra di DPR

Tidak jarang pula, mereka bersikap sangat ramah dan manis saat membutuhkan bantuan, tetapi berubah sikap menjadi dingin setelah tujuan tercapai.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, manipulasi emosional dapat menimbulkan dampak serius bagi korban.

Tekanan yang berulang bisa memicu stres berkepanjangan, kelelahan emosional, serta menurunnya harga diri.

Baca Juga: Creative Visual Storytelling with AI Image Tools

Hubungan yang semestinya menjadi tempat saling mendukung justru berubah menjadi sumber beban psikologis.

Untuk menghadapi orang manipulatif, langkah awal yang penting adalah mengenali pola perilakunya.

Kesadaran ini membantu seseorang agar tidak mudah terjebak dalam permainan emosi yang sengaja diciptakan.

Baca Juga: H-2 Menuju Pengumuman Seleksi Administrasi Segera Berakhir PPPK KemenHAM!

Menetapkan batasan yang tegas juga menjadi hal krusial.

Mengatakan “tidak” tanpa disertai rasa bersalah merupakan hak setiap individu.

Di sisi lain, menghindari perdebatan panjang yang mudah dipelintir akan membuat posisi lebih aman.

Baca Juga: Pencuri TV Rumah Mertua Uya Kuya Divonis Bersalah, Tiga Terdakwa Divonis Berbeda Bikin Heboh Sidang

Komunikasi yang singkat, jelas, dan berfokus pada fakta cenderung lebih efektif.

Tak kalah penting, seseorang perlu mempercayai intuisi dan perasaan diri sendiri.

Ketika sebuah hubungan terasa menguras energi dan tidak lagi sehat, menjaga jarak bisa menjadi pilihan yang bijak.

Langkah ini bukanlah bentuk keegoisan, melainkan cara melindungi diri.

Baca Juga: SKB Baru Diteken, Gaji ASN Pascaperceraian Dipotong demi Menjamin Hak Anak dan Mantan Istri

Menghadapi orang manipulatif memang bukan perkara mudah, terlebih jika melibatkan hubungan yang dekat secara emosional.

Namun, dengan pemahaman yang tepat, setiap orang dapat belajar menjaga harga diri dan kesehatan mentalnya.

Hubungan yang sehat seharusnya dibangun atas dasar saling menghargai, bukan dominasi atau kontrol sepihak.***