POJOKSATU.id - Dissociation atau disosiasi adalah kondisi ketika pikiran terasa terlepas dari realitas.
Sebagian orang menggambarkannya seperti melihat diri sendiri dari luar atau berjalan tanpa sadar, bahkan tiba-tiba tidak merasa terhubung dengan lingkungan sekitar.
Fenomena ini sebenarnya cukup umum, namun bisa menjadi masalah serius jika terjadi terlalu sering atau mengganggu fungsi sehari-hari.
Fenomena disosiasi sering muncul tanpa disadari.
Baca Juga: Highlighter Liquid vs Powder: Mana yang Lebih Glowing?
Banyak yang baru memahami kondisi ini setelah membaca edukasi kesehatan mental atau mendapat penjelasan dari tenaga profesional.
Karena itu, penting mengenali apa itu disosiasi, gejalanya, serta kapan kondisi ini memerlukan bantuan ahli.
Disosiasi adalah mekanisme mental ketika seseorang merasa pikiran, emosi, atau kesadaran tidak sepenuhnya terhubung dengan kenyataan.
Kondisi ini bisa muncul secara singkat, namun juga dapat terjadi lama tergantung penyebabnya.
Secara umum, disosiasi termasuk cara tubuh merespons stres atau tekanan emosional yang berat.
Mekanisme ini bekerja sebagai bentuk perlindungan supaya pikiran tidak kewalahan.
Baca Juga: Tak Mampu Taklukkan PSPS Markas Sendiri, PSMS Turun ke Peringkat 7
Misalnya, seseorang bisa mengosongkan pikiran ketika menghadapi pengalaman yang sangat menegangkan.
Disosiasi juga dikenal dalam konteks gangguan tertentu seperti gangguan stres pasca trauma, depersonalisasi, atau derealisasi.
Jenis-Jenis Dissociation
1. Depersonalisasi
Depersonalisasi terjadi ketika seseorang merasa terpisah dari dirinya sendiri.
Sensasinya seperti tidak menjadi diri sendiri, atau seperti sedang menonton tubuh dan pikirannya dari luar.
2. Derealisasi
Derealisasi muncul ketika lingkungan sekitar terasa asing atau tidak nyata.
Seseorang mungkin melihat sekelilingnya seperti kabur, jauh, atau seperti berada dalam mimpi.
Baca Juga: Dilarang Bicara, Roy Suryo dan Cs Tinggalkan Ruangan dari Forum Reformasi Polri
3. Amnesia Disosiatif
Kondisi ini membuat seseorang kehilangan ingatan tertentu, terutama yang berkaitan dengan pengalaman traumatis.
Ingatan bisa hilang sebagian atau sepenuhnya untuk waktu tertentu.
Ketiga jenis ini dapat muncul secara terpisah atau bersamaan, tergantung situasi dan kondisi psikologis seseorang.
Gejala yang Sering Muncul
Gejala disosiasi sangat bervariasi, namun beberapa tanda umumnya meliputi:
1. Pikiran terasa kosong atau melayang.
2. Sulit mengingat kejadian tertentu.
3. Merasa seperti sedang menonton diri sendiri.
4. Lingkungan terlihat tidak nyata atau seperti mimpi.
5. Sulit fokus pada percakapan atau aktivitas.
6. Tubuh terasa ringan, mati rasa, atau tidak familiar.
Baca Juga: Pelajar Jatim Kembali Juara Umum OPSI, Sapu Bersih 21 Medali
Gejala tersebut sering muncul ketika seseorang mengalami stres berat atau kelelahan emosional.
Namun, jika gejalanya muncul tanpa pemicu jelas, kondisinya perlu diwaspadai.
Penyebab Dissociation
Ada beberapa faktor yang sering menjadi pemicu disosiasi.
1. Trauma atau Pengalaman Emosional Berat
Trauma masa kecil, kekerasan fisik, bullying, atau pengalaman kehilangan yang besar sering memicu disosiasi sebagai bentuk perlindungan mental.
2. Stres Berkepanjangan
Tekanan pekerjaan, masalah hubungan, atau beban hidup yang tidak terkelola bisa membuat pikiran memilih mematikan sebagian kesadaran.
3. Kelelahan Mental dan Kurang Istirahat
Baca Juga: BKPM Bongkar Aksi Premanisme dan Ormas yang Bikin Investor Tekor di Indonesia
Kondisi ini membuat otak sulit memproses informasi secara optimal.
Akibatnya, seseorang dapat merasa terputus dari lingkungan.
4. Kondisi Psikologis Lain
Gangguan kecemasan, depresi, atau PTSD juga dapat memunculkan episode disosiasi.
Pemicu tiap orang berbeda, sehingga penting memahami konteks situasi yang sedang dialami.
Bagaimana Cara Mengatasi Dissociation?
Mengelola disosiasi umumnya dilakukan dengan teknik grounding dan perawatan kesehatan mental.
1. Teknik Grounding
Teknik ini membantu mengembalikan pikiran ke saat ini.
Beberapa cara yang sering dianjurkan oleh psikolog di Indonesia meliputi:
a. menarik napas panjang secara perlahan,
b. merasakan tekstur benda di sekitar,
c. menyebutkan lima objek yang terlihat,
d. mendengarkan suara di lingkungan, dan
e. meminum air dingin untuk memberi rangsangan fisik ringan.
Teknik grounding bisa membantu meredakan gejala dalam beberapa menit.
Baca Juga: Mahasiswa UNEJ Raih Juara 1 NRC dengan Inovasi DETECT untuk Petani Tembakau
2. Istirahat dan Manajemen Stres
Mengurangi beban stres harian, memperbaiki kualitas tidur, serta memberi waktu untuk relaksasi dapat menurunkan frekuensi disosiasi.
3. Konseling atau Terapi Psikologis
Jika disosiasi muncul berulang, tenaga profesional seperti psikolog klinis atau psikiater dapat memberikan penanganan yang lebih terarah.
Banyak layanan kesehatan mental di Indonesia, termasuk rumah sakit, puskesmas tertentu, atau layanan konseling resmi, yang menyediakan dukungan untuk kondisi ini.
4. Penanganan Penyebab Utama
Jika disosiasi disebabkan trauma atau gangguan psikologis lain, terapi jangka panjang mungkin dibutuhkan untuk mengatasi akar masalah.
Terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy atau terapi trauma sering digunakan tenaga profesional di Indonesia.
Baca Juga: Empat Ilmuwan Perempuan Bersinar di FWIS 2025, Riset Konkret untuk Masa Depan Indonesia
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?
Ada beberapa tanda yang menunjukkan disosiasi perlu ditangani oleh psikolog atau psikiater. Beberapa di antaranya sebagai berikut.
a. gejala muncul sangat sering,
b. pikiran terasa benar-benar terlepas dari tubuh,
c. sering kehilangan kesadaran terhadap aktivitas yang dilakukan,
d. sulit berfungsi dalam pekerjaan atau sekolah, dan
e. muncul rasa takut atau bingung terhadap diri sendiri.
Mencari bantuan sejak awal sangat dianjurkan.
Tujuannya bukan hanya mengurangi gejala, tetapi juga mencegah kondisi berkembang menjadi gangguan disosiatif yang lebih kompleks.
Baca Juga: Mahasiswa ITS Raih Juara II Desain Halte Transjakarta Berbasis Budaya Betawi
Disosiasi adalah kondisi ketika pikiran terasa terputus dari realitas.
Meskipun bisa terjadi pada siapa saja, kondisi ini tidak boleh diabaikan jika muncul berulang atau mengganggu aktivitas harian.
Memahami gejala, penyebab, dan cara mengelolanya sangat penting agar seseorang dapat kembali merasa hadir dan terhubung dengan lingkungan.
Dukungan profesional kesehatan mental di Indonesia tersedia dan dapat membantu mengembalikan kualitas hidup.
Mengenali kondisi sejak awal adalah langkah penting menuju pemulihan. ***




