POJOKSATU.id - Selama lebih dari dua dekade, L’Oréal–UNESCO For Women in Science (FWIS) tetap jadi ruang hangat bagi perempuan ilmuwan di Indonesia untuk menunjukkan riset yang benar-benar berdampak.
Nah, tahun 2025 ini, program tersebut kembali memotret tonggak baru dengan menghadirkan empat peneliti luar biasa yang membuktikan bahwa sains bukan cuma urusan laboratorium, tapi juga tentang memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan bumi.
Didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, FWIS konsisten selama 22 tahun menyalurkan pendanaan dan penghargaan untuk perempuan peneliti.
Baca Juga: Mahasiswa ITS Raih Juara II Desain Halte Transjakarta Berbasis Budaya Betawi
Hingga kini, sudah 79 ilmuwan perempuan yang mendapatkan dukungan untuk mengembangkan riset di berbagai bidang, mulai dari bioteknologi, kesehatan, hingga isu lingkungan yang makin relevan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, menegaskan bahwa partisipasi perempuan dalam sains bukan sekadar isu kesetaraan.
“Negara akan rugi kalau tidak memanfaatkan potensi terbaik yang dimiliki perempuan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa percaya diri, berani mengambil kesempatan, dan tetap jadi diri sendiri adalah fondasi penting bagi generasi ilmuwan perempuan berikutnya.
Lonjakan Peserta dan Riset yang Mengakar pada Potensi Lokal
FWIS 2025 mencatat peningkatan besar jumlah peserta, lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
Sebagian besar proposal datang dari perempuan muda di bawah usia 40 tahun.
Baca Juga: AKBP Basuki Diamankan Propam Imbas Tewasnya Dosen Dwinanda Levi, Mahasiswa Untag Diminta Sabar
Menariknya, banyak ide riset yang berangkat dari potensi lokal Indonesia—dari tanaman obat hingga inovasi pengelolaan limbah menjadi sumber daya berkelanjutan.
Ketua Dewan Juri FWIS 2025, Prof. dr. Herawati Sudoyo, menyebut bahwa tren ini menunjukkan semangat kolaborasi yang makin kokoh di kalangan ilmuwan perempuan.
“Tanpa kolaborasi, penelitian hampir mustahil untuk terealisasi,” katanya.
Baca Juga: Viral! Belajar Mobil di Jalan Umum, Satu Nyawa Melayang, Praktik Berbahaya yang Masih Dibiarkan
Chief of Corporate Affairs L’Oréal Indonesia, Melanie Masriel, juga menyoroti bagaimana jaringan FWIS makin solid.
Menurutnya, para alumni aktif membuka peluang riset dan bekerja lintas disiplin, mulai dari life science hingga teknologi.
“Kolaborasi bukan cuma jargon, tapi sudah jadi budaya,” ujarnya.
Baca Juga: Hanya 8 dari 1060 BUMN yang Setor 95 Persen Dividen, Siapa Saja Para Raksasa Itu?
Empat Perempuan Peneliti dengan Riset Solusi Nyata
Tahun ini, empat perempuan peneliti resmi terpilih sebagai penerima FWIS 2025.
Masing-masing menghadirkan riset inovatif dan aplikatif yang menjawab tantangan nyata di Indonesia.
Dr. Maria Apriliani Gani, dosen di Sekolah Farmasi ITB, mengembangkan model seluler untuk terapi osteoporosis berbasis tanaman obat lokal.
Baca Juga: Uhamka Pamerkan Karya Inovasi Dosen dan Mahasiswa di Innovation and Technology Expo
Selain mendukung transisi global menuju non-animal testing, risetnya juga berpeluang meningkatkan kualitas hidup perempuan lanjut usia.
Dr.rer.nat. Lutviasari Nuraini dari Pusat Riset Metalurgi BRIN meneliti material implan tulang berbasis magnesium yang bisa terurai alami setelah proses penyembuhan.
Inovasi ini diharapkan membuat Indonesia lebih mandiri dalam produksi implan medis.
Anak Agung Dewi Megawati, Ph.D., dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa, mengembangkan terapi mRNA antivirus spektrum luas untuk penyakit yang ditularkan nyamuk, seperti demam berdarah.
Penelitian ini berpotensi menjadi lompatan besar bagi pengendalian penyakit tropis di Indonesia.
Sementara itu, Helen Julian, Ph.D., dosen Teknik Kimia dan Teknik Pangan ITB, menciptakan sistem pengolahan limbah kelapa sawit menjadi sumber daya bernilai tinggi melalui teknologi Membrane Photobioreactor–Nanofiltration. Inovasi ini membawa semangat ekonomi sirkular ke level yang lebih konkret.
Lebih dari Sekadar Penghargaan
FWIS bukan hanya panggung apresiasi, tetapi juga wadah mentorship dan dukungan jangka panjang.
Baca Juga: Guru Pamit Undur Diri Karena Tak Kunjung Dipanggil PPG, Justru Diterima MBG dengan Gaji 4 Juta!
Jejaring globalnya kini mencakup lebih dari 4.700 ilmuwan perempuan di berbagai negara yang aktif berkolaborasi lintas bidang.
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, mengingatkan bahwa sains dan keberagaman tak dapat dipisahkan.
“Dunia membutuhkan sains, dan sains membutuhkan perempuan,” ujarnya. ***




