POJOKSATU.id, ANAK yang aktif banget dan susah diajaak tatap mata itu kerap dicap sedang mengalami “fase tumbuh kembang”. Namun, wajib diperhatikan dua gejala itu bisa menjadi alarm awal adanya gangguan perkembangan seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), autisme, atau bahkan kecemasan sosial pada anak.

Nah, daripada menyesal di kemudian hari, yuk pahami lebih dalam soal apa itu hiperaktif dan kesulitan kontak mata, serta bagaimana cara membedakannya dengan fase normal tumbuh kembang anak.

Menurut Arif Budi Santoso, Pendiri Sekolah Autis & Special Needs Dalta Ozora Madiun, perilaku hiperaktif yang terus muncul dan anak yang kesulitan melakukan kontak mata bisa menjadi gejala awal dari gangguan perkembangan jika tidak ditangani dengan tepat.

Baca Juga: PIP Cair hingga Rp1 Juta pada Agustus 2025! Cek Nama Kamu Sekarang

“Kalau terjadi secara terus-menerus hingga mengganggu fungsi sosial, akademik, atau kehidupan sehari-hari, itu jelas perlu perhatian khusus,” ujar Arif dilansir dari RRI Madiun dalam paparannya secara daring.

Apa Sih Hiperaktif Itu?

Hiperaktif bukan sekadar anak aktif biasa, lho. Dalam dunia medis, hiperaktif biasanya dikaitkan dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang bisa didiagnosis mulai di usia 4–5 tahun.

Pada usia di bawah itu, anak masih dianggap dalam masa eksplorasi normal.

“Usia di bawah 4 tahun memang fase anak berkembang dan bergerak bebas.

Tapi kalau setelah lewat usia 4 tahun anak tetap nggak bisa tenang dan cenderung overaktif, wajib dilakukan evaluasi lebih lanjut,” jelas Arif.

Baca Juga: Rekomendasi Laptop Mahasiswa 2025, Anti Lemot, Bertenaga, dan Cocok untuk Semua Jurusan!

Beberapa ciri anak yang mengalami hiperaktif:

Tidak bisa duduk diam dalam waktu lama
Terlihat gelisah dan selalu ingin bergerak
Sering menyela pembicaraan orang lain
Banyak bicara tanpa henti
Kesulitan fokus dan menyelesaikan tugas
Kalau gejala-gejala ini terus muncul dan bikin anak susah beraktivitas normal di rumah atau sekolah, Bunda perlu waspada.

Anak Susah Kontak Mata Juga Perlu Diwaspadai

Satu lagi yang sering dianggap biasa padahal tidak: anak yang susah melakukan kontak mata.

Baca Juga: Bantuan Insentif Guru Rp 2,1 Juta hingga Rp 2,4 Juta Cair, Cek Status Anda di Info GTK Sekarang!

Arif menyebutkan, anak-anak dengan gangguan perkembangan seperti autisme spektrum, kecemasan sosial, atau ADHD bisa mengalami kesulitan mempertahankan tatapan mata.

Beberapa tanda anak yang kesulitan melakukan kontak mata:

Sering mengalihkan pandangan saat diajak bicara
Tampak tidak fokus secara visual dalam interaksi sosial
Cenderung tidak nyaman saat harus melihat wajah orang lain
Penggunaan gadget berlebihan di bawah usia 2 tahun juga bisa memperburuk gejala ini, meski bukan satu-satunya penyebab.

Maka dari itu, batasi orang tua wajib screen time dan perhatikan respons sosial anak sejak dini, ya.

Baca Juga: Kapal Prabowo

Apa Dampaknya Kalau Dibiarkan?

Dampak dari gabungan hiperaktif dan kesulitan melakukan kontak mata itu bisa berdampak serius terhadap interaksi sosial dan perilaku anak sehari-hari.

Mereka bisa mengalami hambatan di sekolah, sulit berteman, bahkan kesulitan memahami instruksi.

Kondisi ini bukan soal nakal atau susah diatur—anak-anak ini butuh dukungan dan evaluasi dari profesional seperti psikolog anak, psikiater anak, atau terapis perkembangan.

Baca Juga: Perhatian Sekolah! Batas Waktu Pemutakhiran Data PIP di Dapodik Ditentukan Hingga 31 Agustus 2025

Penanganan: Apa yang Bisa Dilakukan?

Kalau Bunda mulai curiga dengan perilaku anak, jangan tunda untuk melakukan asesmen. Ada banyak pendekatan yang bisa membantu anak berkembang optimal, di antaranya:

-Terapi perilaku (ABA) khusus untuk anak dengan autisme
-Pelatihan fokus dan regulasi diri bagi anak ADHD
-Terapi sosial untuk membantu mereka berinteraksi dengan lingkungan
-Pemberian obat khusus (atas resep dokter) jika gejala hiperaktif sangat mengganggu
-Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang anak untuk berkembang secara maksimal.

Jangan tunggu sampai anak dijauhi teman atau kesulitan belajar, baru kita panik. Yuk orang tua, lebih peka dan peduli.

Baca Juga: PSMS Pertahankan Dua Pemain Muda Reyki Fariz dan Aditya Ramadhan

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

Perilaku anak yang tampak “berlebihan” sebenarnya bisa jadi sinyal minta tolong. Karena anak-anak tidak bisa menyampaikan langsung, maka tugas kita sebagai orang tua adalah lebih peka terhadap perubahan kecil yang terjadi pada mereka.

Bunda nggak sendirian, lho! Banyak komunitas dan tenaga profesional yang bisa mendampingi proses tumbuh kembang anak dengan lebih sehat dan penuh cinta. ***