POJOKSATU.ID — Pernah nggak, buka aplikasi investasi terus lihat portofolio merah semua? Deg-degan, rasanya pengen buru-buru jual aja biar nggak makin rugi. Tenang, kamu nggak sendirian.

Banyak investor, khususnya yang masih baru, sering merasa panik waktu pasar saham mulai gonjang-ganjing. Padahal, di dunia investasi, naik-turun harga itu hal biasa.

Mengutip dari laman resminya Bursa Efek Indonesia (BEI/IDX), yang membedakan investor sukses dan tidak bukan soal siapa yang paling bisa baca arah pasar, tapi siapa yang tetap tenang waktu pasar drama.

Baca Juga: CEK! Tiga Tahapan Penting dalam Proses Seleksi PPG Prajabatan, Jalan untuk Bisa Mendapatkan Sertifikasi Guru!

Nah, biar nggak mudah panik, ada 5 pilar penting yang bisa jadi pegangan saat saham kamu bergoyang.

1. Punya Tujuan Investasi yang Jelas
Investasi tanpa tujuan itu seperti naik kapal tanpa tahu mau ke mana. Begitu ada ombak sedikit, bisa-bisa langsung panik.

Jadi, tentukan dulu alasan kamu berinvestasi: buat dana pensiun 20 tahun lagi? Biaya pendidikan anak? Atau beli rumah 5 tahun ke depan? Dengan tujuan yang jelas, kamu nggak gampang terombang-ambing sama fluktuasi jangka pendek. Fokus tetap ke target jangka panjang.

Baca Juga: HERSHARE 2025 Dorong Perempuan Berperan Aktif di Pasar Modal Syariah

2. Pahami Profil Risiko Diri Sendiri
Setiap orang punya toleransi risiko berbeda. Ada yang tetap santai meski portofolionya turun 10%, ada juga yang baru turun 3% langsung gelisah. Makanya penting banget kenali profil risiko kamu.

Umumnya ada tiga tipe:
- Konservatif: aman dan stabil, lebih nyaman di obligasi atau reksa dana pasar uang.

- Moderat: siap ambil sedikit risiko demi hasil lebih baik.

Baca Juga: Euforia Juara Persib Bandung, Bobotoh Rayakan dengan Tertib dan Kota Tetap Bersih

- Agresif: berani ambil risiko tinggi demi imbal hasil maksimal.

Begitu tahu tipe kamu, pilih instrumen yang sesuai. Jadi saat pasar goyang, kamu nggak kaget karena sudah paham risiko yang diambil.

3. Diversifikasi Investasi
Jangan taruh semua telur di satu keranjang. Prinsip lama yang masih berlaku sampai sekarang. Dengan diversifikasi, kalau salah satu aset turun, aset lain bisa jadi penopang.

Baca Juga: MASIH FOKUS Tuntaskan PPPK 2024, Apa Seleksi CPNS 2025 DITIADAKAN? Ada Mekanisme Khusus Sebelum DIBUKA FORMASI, Ini Penjelasan BKN dan Bu Rini

Diversifikasi bisa dilakukan antar jenis aset (saham, obligasi, emas, reksa dana, deposito) atau antar sektor (teknologi, perbankan, energi, dsb). Portofolio yang tersebar lebih tahan banting saat ada gejolak.

4. Pahami Siklus Pasar
Pasar saham itu bergerak dalam siklus. Kadang bullish (naik), kadang bearish (turun). Dan itu normal.

Selama 10 tahun terakhir, pasar sudah beberapa kali anjlok tapi selalu bangkit lagi. Investor yang tahan melewati masa sulit biasanya justru cuan besar di kemudian hari.

Baca Juga: Gelombang PHK di Media TV, Pakar Marketing Sebut Dampak Dominasi Platform Digital Jadi Penyebab

Ingat pesan Warren Buffett, “Be fearful when others are greedy, and be greedy when others are fearful.” Saat orang panik, bisa jadi itu peluang buat kamu.

5. Gunakan Pendamping Keuangan
Terakhir, penting punya penasihat atau teman diskusi keuangan yang objektif.

Soalnya waktu panik, kita cenderung ambil keputusan gegabah: jual saat rugi, beli saat euforia.

Baca Juga: Siswa Kelas 5, Kelas 8 dan Kelas 11 BERSIAP, Ini Jadwal Lengkap ASESMEN NASIONAL 2025 dari SD hingga SMA - SMK, Cek Tanggal dan Jamnya di Sini!

Pendamping keuangan bisa bantu evaluasi portofolio, kasih insight objektif, dan bantu kamu tetap di jalur sesuai tujuan keuangan.

Selain itu, mereka bisa kasih edukasi soal perkembangan pasar dan strategi investasi yang sesuai kondisi. ***