POJOKSATU.id — Malam Lailatul Qadar menjadi salah satu momen istimewa dalam bulan Ramadan yang disebut memiliki keutamaan lebih baik dari seribu bulan.
Meski tidak diketahui secara pasti kapan malam penuh berkah ini terjadi, umat Muslim meyakini bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, yakni malam ke-21, 23, 25, 27, 29, hingga 31.
Dalam rangka mendapatkan keberkahan malam Lailatul Qadar, umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ibadah, seperti salat malam, membaca Al-Qur'an, berzikir, serta beriktikaf di masjid.
Selain itu, berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi unik dalam menyambut malam istimewa ini.
Baca Juga: Mengenali Tanda-tanda Lailatul Qadar, Salah Satunya Malam yang Begitu Sejuk dan Tenang
Berikut adalah beberapa tradisi masyarakat Indonesia dalam menyambut sepuluh malam terakhir Ramadan.
1. Selikuran di Kasunanan Surakarta
Tradisi Selikuran telah berlangsung sejak era pemerintahan Pakubuwono IX (1861–1893) di Kasunanan Surakarta. Disebut Selikuran karena dilaksanakan pada malam ke-21 Ramadan.
Acara ini diawali dengan pembacaan doa keselamatan di Masjid Agung Surakarta, yang diiringi dengan pembagian seribu tumpeng kepada abdi dalem dan masyarakat.
Setelah itu, tumpeng-tumpeng tersebut diarak oleh para abdi dalem dengan membawa lampu (ting).
Masyarakat pun berbondong-bondong ikut meramaikan kirab dan berebut mendapatkan tumpeng sebagai bentuk berkah.
2. Maleman di Masjid Agung Demak
Di Demak, tradisi Maleman menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan malam Lailatul Qadar. Tradisi ini diyakini telah berlangsung sejak zaman Wali Songo dan terus dipertahankan hingga kini.
Ritual Maleman dimulai sekitar pukul 00.30 hingga 02.00 dini hari.
Jemaah yang telah berkumpul di Masjid Agung Demak akan melaksanakan salat tahiyyatul masjid, tadarus Al-Qur'an, lalu melanjutkan dengan salat tasbih empat rakaat dan salat sunnah mutlak dua rakaat.
Prosesi ini diakhiri dengan pembacaan wirid dan doa bersama.
3. Liquran oleh Masyarakat Melayu Pontianak
Di Pontianak, masyarakat Melayu menyambut malam Lailatul Qadar dengan tradisi Liquran.
Tradisi ini berlangsung sejak malam ke-21 Ramadan, di mana masyarakat memasang gerbang dari Keriang Bandong—lampu hias yang berbentuk ikan, bulan sabit, bintang, atau obor yang ditempatkan di depan rumah.
Menghidupkan lampu-lampu ini dipercaya sebagai tanda penyambutan malaikat dan ungkapan rasa syukur atas datangnya malam penuh kemuliaan.
4. Dile Jojor di Nusa Tenggara Barat
Di Lombok, masyarakat Muslim memiliki tradisi Dile Jojor, yaitu menyalakan obor kecil yang terbuat dari buah jamplung yang telah diolah.
Tradisi ini dilakukan setiap malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan.
Dile Jojor biasanya dinyalakan setelah salat Maghrib.
Selain menjadi penerangan, obor ini juga berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi warga yang ingin menunaikan zakat fitrah.
Sebelum adanya listrik, Dile Jojor menjadi simbol penerangan dan kebersamaan dalam berbagi kebaikan.
5. Hepatirangga di Wakatobi
Tradisi Hepatirangga berasal dari masyarakat Wanci, Wakatobi. Tradisi ini dilakukan dengan mewarnai kuku menggunakan daun pacar.
Biasanya, ibu-ibu mengumpulkan anak-anak yang baru pulang salat tarawih untuk dipakaikan Hepatirangga sambil diceritakan kisah-kisah rakyat.
Pewarnaan kuku ini tidak hanya bersifat estetika, tetapi juga menjadi simbol kebersihan dan persiapan diri dalam menyambut malam Lailatul Qadar.
6. Rabas Sowan di Halmahera Selatan
Di Halmahera Selatan, tradisi Rabas Sowan menjadi ciri khas perayaan malam Lailatul Qadar.
Ritual ini melibatkan pemasangan satu pohon pisang utuh yang masih berdaun dan berbuah, serta satu pohon tebu, yang kemudian dihiasi dengan kertas minyak berwarna-warni dan berbagai hadiah.
Hadiah-hadiah yang digantungkan di pohon pisang ini terdiri dari makanan khas, uang pecahan, dan berbagai kudapan.
Anak-anak diperbolehkan mengambil hadiah tersebut setelah azan Maghrib sebagai bentuk penghargaan atas ketekunan mereka dalam menjalankan ibadah puasa.
Tradisi-tradisi ini mencerminkan betapa beragamnya budaya Indonesia dalam menyambut malam Lailatul Qadar.
Meski berbeda dalam ekspresi budaya, esensi dari tradisi ini tetap sama, yaitu mencari berkah dan kemuliaan di malam yang lebih baik dari seribu bulan. ***




