POJOKSATU.id — Kapan waktu terjadinya Lailatul Qadar tak ada satupun umat Islam yang mengetahuinya secara tepat dan pasti.

Tidak ada yang tahu secara pasti kapan malam Lailatul Qadar itu terjadi.

Namun demikian, Nabi Muhammad SAW, sendiri menyarankan kepada umat Islam untuk terus memburu, dan berusaha untuk mendapatkan Lailatul Qadar.

Mengapa Lailatul Qadar banyak dinanti, diharap, diburu oleh umat Islam?

Ada beberapa hadits Nabi yang menyarankan agar umat Islam selalu mengusahakannya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk memperbanyak ibadah secara sungguh-sungguh, ikhlas, sabar, tawakal, dan penuh semangat memohon, berdoa kepada Allah untuk meraih dan mendapatkan Lailatul Qadar.

Baca Juga: Inilah 5 Tanda Orang yang Beruntung Mendapatkan Malam Lailatul Qodar, Apa Saja?

Begini rincian pada malam-malam ganjil 10 malam terakhir Ramadhan, berdasarkan dalil hadits nabi, di antaranya yakni:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya: Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan (HR Bukhari, dari Sanad hadits dari Aisyah ra).

Hadits ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar terjadi di malam ganjil sepuluh hari akhir Ramadhan.

Bahkan, hadits lain menjabarkan hitungan malam-malam ganjil di akhir sepuluh Ramadhan.

Pernah dijabarkan oleh sanad hadits bernama Abu Sa’id al-Khudri, hadits riwayat Imam Muslim berbunyi:

إِذَا مَضَتْ وَاحِدَةً وَعِشْرُونَ فَالَّتِي تَلِيهَا ثِنْتَيْنِ وَعِشْرِينَ وَهِيَ التَّاسِعَةُ فَإِذَا مَضَتْ ثَلاَثَ وَعِشْرُونَ فَالَّتِي تَلِيهَا السَّابِعَةَ فَإِذَا مَضَى خَمْسٌ وَعِشْرِينَ فَالَّتِي تَلِيهَا الْخَامِسَة

Artinya: Apabila telah berlalu malam 21, maka yang berikutnya adalah malam 22, itulah malam 9 (yang tersisa). Apabila berlalu malam 23, maka yang berikutnya (malam 24) adalah malam 7 (yang tersisa). Apabila telah berlalu malam 25, maka yang berikutnya (malam 26) adalah malam 5 (yang tersisa) (HR Muslim).

Terdapat dua cara menjabarkan hitungan malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadhan.

Yaitu dihitung dari depan dan belakang. Hitungan dari depan, maka kita akan menemukan malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.

Baca Juga: 7 Kesitimewaan Lailatul Qadar, Malam Dimana Malaikat Akan Turun ke Bumi Mengitari Orang-orang yang Membaca Al-Qur'an

Namun, jika hitungan dari belakang, maka hitungannya menjadi 9, 7, 5, 3, dan 1 sisa hari yang tersisa di malam akhir Ramadhan.

Untuk memprediksi terjadinya Lailatul Qadar bagi kaum Muslim yang ingin mendapatkan malam yang lebih baik daripada 1000 bulan, berikut ini hitungan malam-malam ganjil pada Ramadhan 1446 H/Maret 2025 M yaitu:

  • Malam ke-21: Jumat, 21 Maret 2025
  • Malam ke-23: Minggu, 23 Maret 2025
  • Malam ke-25: Selasa, 25 Maret 2025
  • Malam ke-27: Kamis, 27 Maret 2025
  • Malam ke-29: Sabtu, 29 Maret 2025

Diprediksi Minggu, 30 Maret 2025 jatuh 1 Syawal 1446 H (Idul Fitri).

Bagi umat Islam yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, agar memperbanyak ibadah di siang hari dan malam hari.

Juga giat dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan Lailatul Qadar dengan jalan dan cara istiqamah melakukan amalan ibadah shalat tarawih, i’tikaf di masjid, baca Al-Quran, berdoa kepada Allah, dan bersedekah.

Baca Juga: Keistimewaan Lailatul Qadar, Malam Pengampunan untuk Berdoa dan Bertaubat, Simak Amalan yang Harus Dilakukan

Adapun penjelasannya sebagai berikut:

  1. Sempurnakan puasa Bulan Ramadhan memiliki ciri khas utamanya adalah kewajiban berpuasa bagi mukallaf yang memenuhi syarat dan rukun puasa (QS Al-Baqarah: 183-184), maka sempurnakan bilangan atau hari-hari selama Ramadhan (QS Al-Baqarah: 185). Sempurnakan puasa Ramadhan agar kita mendapatkan Lailatul Qadar.

  2. Istiqamah shalat tarawih Setelah kita mendirikan shalat Isya dengan sunnah qabliyah dan ba'diyah Isya, dilanjutkan dengan mendirikan Shalat Tarawih. Sahabat Nabi bernama An-Nu’man bin Basyir pernah menceritakan tentang Shalat Tarawih bersama Rasulullah saw pada malam sepuluh terakhir Ramadhan.

قُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ لَيْلَةً ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ إِلَى ثُلُثَ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ قُمْنَا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ، ثُمَّ قُمْنَا مَعَهُ لَيْلَةَ سَبْعِ وَعِشْرِينَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنْ لَا تُدْرِكَ الْفَلَاحَ

Artinya: Kami shalat bersama Rasulullah saw pada bulan Ramadhan malam ke-23 sampai sepertiga malam yang pertama. Kemudian kami shalat lagi bersama beliau pada malam ke-25 sampai pertengahan malam.

Kemudian kami shalat lagi bersama beliau malam ke-27 (sampai akhir malam) hingga kami mengira bahwa kami tidak akan sempat makan sahur (HR An-Nasa’i).

Baca Juga: Saat Malam Lailatul Qadar, Apakah Perempuan Haid Bisa Memperoleh Pahala? Ini Jawabannya

  1. I’tikaf di masjid Umat Islam yang berusaha mendapatkan Lailatul Qadar, lakukanlah i’tikaf di masjid atau mushala. I’tikaf berarti seseorang berdiam diri di masjid (mushala) dengan niat karena Allah, untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah). Mengerjakan i’tikaf di masjid atau mushala pada sepuluh hari terakhir termasuk amalan sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah).

Aisyah ra, ummul mukminin, istri Rasulullah, pernah berkata tentang Lailatul Qadar:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، وَيَقُولُ: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya: Rasulullah berdiam diri di dalam masjid (i'tikaf) pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Beliau berkata: Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan (HR Bukhari). ***